Loading...
Loading…
(SEMARANGAN) Bertamu ke Keturunan Tasripin: Konglomerat Pribumi di Kota Semarang, Rumahnya Punya Pintu Rahasia

(SEMARANGAN) Bertamu ke Keturunan Tasripin: Konglomerat Pribumi di Kota Semarang, Rumahnya Punya Pintu Rahasia

Nasional | ayosemarang | Rabu, 28 Juli 2021 - 10:01

SEMARANGTENGAH, AYOSEMARANG.COM -- Di Jalan MT Haryono terdapat pemukiman yang bernama Kampung Kulitan. Di kampung itu pernah tinggal seorang konglomerat lokal bernama Tasripin.

Saat itu, di zaman kolonial khususnya di Kota Semarang ada dua orang tajir yang menguasai sebagian besar lahan di kota pelabuhan ini, pertama Tasripin dan yang kedua adalah Raja Gula Oei Tiong Ham. Keduanya hidup sezaman, namun sumber kekayaan mereka berbeda.

Jika Oei Tiong Ham kaya berkat gula dan candu, Tasripin tajir berkat pabrik kulit hewan ternak, pabrik kapas, kopra dan properti. Kendati sudah puluhan tahun terlewat, sisa kejayaan Tasripin masih berdiri kokoh di Kampung Kulitan.

Ayosemarang.com berkesempatan berbincang dengan keturunan dari Tasripin yang bernama Muhammad Fachri. Dia tinggal di salah satu rumah peninggalan Tasripin yang berlokasi di Kampung Kulitan.

Saya generasi ke-6. Sebagian besar kerabat kami ada di kampung ini, tapi yang mencar (berpisah) juga ada. Soalnya kan dulu istrinya tidak hanya satu, ujar Fachri saat ditemui pada Senin 26 Juli 2021.

Fachri mengaku belakangan biasa jadi corong sejarah bagi keluarga Tasripin. Jika ada yang ingin mencari tahu soal Tasripin, dia adalah sumber yang tepat.

Baca Juga :
Lumpia di Surabaya, Kudapan yang Tak Lekang oleh Waktu

Aset Tasripin dibeberkan oleh Fachri tidak hanya di Kampung Kulitan saja, namun juga tersebar di Jalan Mataram, Jalan Pemuda dan beberapa tempat lain.

Semua aset tersebut tidak hanya dipakai langsung oleh keturunannya bahkan ada juga yang disewakan, dijual dan dihibahkan.

Selain rumah atau bangunan, Tasripin juga meninggalkan aset berupa 2 peti wayang dan gamelan, ujarnya.

Berbagai aset tadi mungkin merupakan sisa kejayaannya. Jika mundur jauh ke belakang, semua itu mungkin hanya sebagian kecil.

Fachri sepakat dengan jumlah kekayaan Tasripin yang dituturkan oleh berbagai sumber.

Koran Algemeen Handelsblad 1919 mencatat kekayaan Tasripin mencapai 45 juta Gulden. Rata-rata perbulannya omzetnya diperkirakan antara 35 hingga 40 ribu gulden.

Kekayaan ini dia peroleh dari rumah jagalnya yang berada di Kampung Bleduk. Salah satu pemanfaatan kulit hewan ternak ini adalah untuk keperluan pengembangan wayang kulit.

Bahkan dulu itu, Tasripin juga punya kapal. Dulu kan di Kali Semarang itu yang melintas di Jembatan Berok masih bisa dilalui kapal. Jembatan Berok juga masih bisa dibuka-tutup. Kapal itu untuk ekspor, terangnya.

Baca Juga :
Gagrak Semarangan Jadi Seragam Wajib ASN Pemkab Semarang

Rumahnya Punya Ciri Khas

Rumah peninggalan Tasripin ternyata memiliki corak yang khas. Fachri mengatakan jika berbagai corak itu memiliki arti khusus.

Fachri mulai dari ciri rumah Tasripin yang memiliki 3 pintu. Arti dari rumah 3 pintu itu adalah bahwa Tasripin selalu terbuka bagi siapapun dan tidak membeda-bedakan golongan.

Sampai saat ini kendati Semarang sering banjir, namun Fachri bersyukur rumahnya masih berdiri kokoh. Menurut Fachri hal itu karena banyak bahan baku pembentuk rumah itu yang menggunakan kayu jati.

Tasripin sudah memahami ilmu desain interior modern sehingga atap bangunannya sudah dirancang sedemikian rupa supaya tidak digerogoti rayap, ujarnya.

Kemudian di bagian wulungan atau desain kerangka genting rumah, Fachri menunjukan jika bentuknya seperti sebuah pusara kuburan. Katanya, Tasripin ingin menunjukan jika saat hidup juga harus ingat kematian.

Satu lagi yang unik dari rumah Tasripin adalah, adanya pintu rahasia di setiap rumah yang berada di halaman belakang. Pintu rahasia itu bisa tembus ke gang sebelah.

Tasripin kan dulu orang terpandang. Ya mungkin untuk keamanan saja, ungkapnya.

Timbal Balik Keturunan Konglomerat

Sebagai keturunan Tasripin bukan berarti di zaman kiwari ini diistimewakan di masyarakat. Fachri mengaku jika dia hidup seperti masyarakat biasa.

Mungkin yang patut diingat, sekitar tahun 1970-an saat dia masih SMP, dia masih dipanggil dengan sebutan khusus.

Kalau laki keturunan Tasripin dipanggil Den Baguse, lalu kalau perempuan, Den Nganten, ujarnya. Namun panggilan itu kini sudah tidak ada lagi.

Pada generasi-generasi awal, keturunan Tasripin juga selalu menyematkan kata Tas pada namanya. Misalnya Tas Sekti yang merupakan mertua dari Menteri Agama era Orde Baru yakni Munawir Sjadzali.

Kekayaaan Tasripin pun yang dulunya menggunung, dari tahun ke tahun berangsur angslup (hilang/habis) dan kini hanya menyisakan aset-aset kecil. Terakhir, salah satu keturunannya Amat Tasan dipercaya sebagai penerusnya.

Namun semenjak dia meninggal pada 1937 perlahan usahanya menurun dan tidak ada yang meneruskan. Badan usahanya yang bernama Tasripin Concern terakhir eksis sekitar tahun 1950-an.

Baca Juga :
Viral Pria Ngamuk Ajak Pribumi Usir Warga Keturunan Arab, Warganet Sebut Abu Janda

Saat ditanya mengapa keturunannnya tidak bisa meneruskan berbagai usaha Tasripin, Fachri menjawabnya dengan legawa. Sebab katanya, Tasripin juga tidak meminta semua usahanya diteruskan.

Yang diturunkan mungkin karakter wirausahanya. Namun dia tidak meminta semuanya dijaga. Semua itu cuma titipan, pungkasnya.

Muhammad Fachri (kanan) dan Totok Bunharto (kiri) keturunan Tasripin beda generasi. Keduanya kini masih menempati rumah Tasripin yang jadi aset peninggalan yang masih tersisa. (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)

Original Source

Topik Menarik