[KAMUS SEMARANGAN] Penggunaan Nama Organ Tubuh dalam Bahasa Semarangan, Rak Sah Kakean Cocot

ayosemarang | Nasional | Published at 22/07/2021 16:26
[KAMUS SEMARANGAN] Penggunaan Nama Organ Tubuh dalam Bahasa Semarangan, Rak Sah Kakean Cocot

SEMARANGSELATAN, AYOSEMARANG.COM - Rak sah kakean cocot. Gaweanmu ndang digarap.

Bagi orang awam pengucapan tadi mungkin terkesan kasar karena menyebut salah satu organ tubuh. Namun beda halnya jika dipandang dalam konteks bahasa semarangan atau yang mengucapkan adalah orang Semarang.

Penulis buku Halah Pokokmen. Kupas Tuntas Bahasa Semarangan Hartono Samidjan menjelaskan jika percakapan seperti itu lazim digunakan.

Pasalnya, dalam bahasa semarangan pengucap biasa menggunakan bagian-bagian tubuh untuk pelengkap pengucapan dan dalam pengucapan organ tubuh pun, dialek semarangan punya kekhasan khusus.

Hartono merangkum satu bab mengenai pembahasan ciri khas dari bahasa semarangan yang satu ini. Katanya penyebutan organ tubuh tadi punya satu keterkaitan antara kata, frasa, istilah dan ungkapan.

Dia menyebut istilah khas ini dengan ujung kepala hingga ujung kaki.

Tentu saja langkah ini tidak sama dengan mengenali bahasa tubuh. Sebab tubuh manusia di sini hanya sebagai objek untuk membentuk dan merangkai kata, tulis Hartono.

Organ tubuh, lanjut Hartono, dalam bahasa Semarangan bisa merujuk pada fungsi atau aktivitas. Itu semua juga tergantung di mana pengucapannya digunakan.

Hartono kemudian mencontohkan, misalnya untuk penyebutan kepala. Dalam bahasa Jawa, kepala dibagi menjadi tiga jenis, yakni ndhas, sirah dan mustaka.

Biasanya ndhas digunakan untuk menyebut kepala binatang namun dalam bahasa Semarangan tidak.

Ndhas dalam bahasa semarangan seringkali dipakai untuk menyebut kepala orang. Penyebutan ini dipakai dalam ragam ngoko para pengucap kepada seseorang yang usianya sebaya atau teman dekat.

Sementara untuk lebih halusnya orang Semarang suka memakai sirah.

Sementara untuk krama inggil, orang Semarang suka memakai sirahipun, kata Hartono.

Selain ndhas yang seharusnya digunakan untuk menyebut hewan namun tidak demikian dalam bahasa semarangan, begitupula berlaku untuk organ yang lain misalnya mata dan mulut.

Kalau mata dalam bahasa Jawa penyebutannya dibagi menjadi 4 jenis yakni mata, paninggal dan soca, namun dalam bahasa semarangan yang digunakan adalah mata saja, baik itu untuk menyebut manusia atau bianatang.

Selain mata, mungkin penyebutan tanpa sekat antara manusia dan hewan itu juga berlaku untuk mulut.

Dalam bahasa semarangan sebutan mulut terdiri dari cocot, conggros dan tutuk.

Kekhasan penyebutan organ tubuh tadi juga digunakan orang Semarang untuk pengungkapan populer.

Misalnya pecah ndase (pusing, kehabisan akal), cekelan sirah (berpikir keras), lambe tipis (ceriwis/ banyak bicara), lambene suwek (umpatan kasar), lalu juga seperti matane ijo (mata duitan).

Kamus Semarangan Minggu Ini:

M

Mlencing: Mengambil barang orang tanpa bayar

Mbuh: Tidak tahu

Modar: Mati, meninggal

Mremen: Menjalar

O

Obrokan: Dipakai sembarangan

Oglak: Goyah

Owah: Obrah

Ongkang-ongkang: Duduk santai ketika yang lain bekerja

U

Umak-umik: Komat-kamit

Umuk: Omong besar

Urik: Curang

Urun: Ikut serta

Artikel Asli