Haji dan Kesempurnaan Manusia Habib Zahir Yahya: Tinggalkan dan Tanggalkan Semua Selain Tuhan

rm.id | Nasional | Published at 22/07/2021 10:40
Haji dan Kesempurnaan Manusia Habib Zahir Yahya: Tinggalkan dan Tanggalkan Semua Selain Tuhan

Sebagaimana ibadah lainnya, ibadah haji juga bisa mengantarkan manusia kepada kesempurnaan. Caranya, dengan memahami esensi ibadah haji tersebut.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Ahlul Bait Indonesia (ABI), Habib Zahir Yahya, MA pada Webinar Nasional Haji dan Kesempurnaan Manusia , Senin (19/7/2021). [Selengkapnya, bisa diklik pada link YouTube Webinar Nasional Haji dan Kesempurnaan Manusia "; https://www.youtube.com/watch?v=V2Wm8RNfT8s&t=4349s atau https://www.youtube.com/watch?v=ptGs1tlOKao&t=3084s]

Acara ini merupakan kerjasama antara Program Studi Politik Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Konsulat Kebudayaan Iran, Islamic Political Education Center (IPEC), Paguyuban Mahasiswa Anak Transmigran (PMAT) dan Ahlul Bait Indonesia.

Hadir sebagai Keynote Speaker di acara ini Konsuler Kebudayaan Iran, Mehrdad Rakhshande, PhD; Ketua Umum Ahlul Bait Indonesia (ABI) Habib Zahir Yahya, MA; Kepala Redaktur koran harian Rakyat Merdeka dan Redaktur Senior RM.id Muhammad Rusmadi, MA. Sedianya juga turut hadir Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama, Prof Dr Amin Suyitno, M.Ag, meski kemudian berhalangan hadir.

Pada esensinya, ujar Zahir, haji merupakan praktek ibadah perjalanan dan berlari menuju Tuhan. Ketika seseorang meninggalkan dan menanggalkan segala sesuatu selain Tuhan dan hanya mencari Tuhan, itulah esensi dan hakikat ibadah haji, jelasnya.

Sebaliknya, ketika seseorang melakukan ibadah haji hanya dengan memperhatikan formalitas dan syariatnya saja, atau bahkan dengan tujuan lain, seperti berwisata, berbisnis, atau mendapatkan status sosial tertentu, hal itu hakikatnya justru berlari meninggalkan Tuhan, bukan berlari kepada Tuhan.

Bahkan, lanjutnya, ketika sebuah perjalanan memerlukan bekal, Tuhan sudah menegaskan, bahwa bekal terbaik itu justru bukan bekal materi, melainkan ketakwaan.

Lebih jauh Zahir mengingatkan, bahwa puncak ibadah haji adalah pelaksanaan ibadah wukuf (berdiam) di Arafah. Di mana kata arafah merupakan bagian akar kata makrifah atau pemahaman mendalam tentang hakikat sesuatu. Makrifat adalah tujuan semua ibadah, termasuk haji, tegasnya.

Dengan bekal makrifat pula, ujar Zahir lagi, seorang yang melaksanakan ibadah haji akan bisa bergerak di kehidupan nyata, menjadi hamba yang patuh melaksanakan berbagai tugas berat. Terutama pengorbanan di jalan Allah dan punya mentalitas yang siap melawan semua anasir setan, yang bisa menghalangi perintah Tuhan.

Makanya, masih menurut Zahir, ada pula prosesi ibadah haji di Mina. Ibadah ini merupakan mengapreasiasi pengorbanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim. Sebuah perintah yang amat berat. Namun dengan bekal makrifat, setiap hamba akan patuh.

Bahkan terhadap ibadah yang sekilas perintahnya tak masuk akal. Saat itu, Nabi Ibrahim diperintah Allah menyembelih anak, dia mengingatkan.

Meski kemudian, perintah itu ternyata hanya ujian Tuhan terhadap ketaatan Ibrahim, sehingga kemudian diganti dengan hewan kurban.

Prosesi ibadah haji lainnya, beber Zahir, juga ditunjukkan saat melempar jumrah . Yang awalnya merupakan perlawanan Nabi Ibrahim dan keluargnya saat melempari setan, karena berupaya menghalangi mereka untuk patuh kepada Tuhan.

Karena itu, jelasnya lagi, berhaji tanpa makrifat, tapi hanya menekankan pada sisi formalitas, tak ubahnya hanya memicu kebisingan semata. Zahir juga mengingatkan kata-kata cucu Rasulullah Ali Zainal Abidin As-Sajjad, ketika sahabatnya kagum dengan banyaknya jamaah haji.

Tapi kata Ali, alangkah banyaknya mereka yang menimbulkan kebisingan, namun alangkah sedikitnya mereka yang benar-benar melaksanakan ibadah haji! kutipnya.

Intinya, kata Zahir, melaksanakan ibadah haji tanpa memahami esensinya, berarti hanya memperhatikan syarat keabsahannya saja, namun malah mengabaikan syarat penerimaan. Hanya memperhatikan aspek horizontal, bukan aspek vertikal. Padahal, Allah hanya menerima ibadah orang yang bertakwa, seperti kata surah Al-Maidah ayat 27, ingatnya. [ RSM ]

Artikel Asli