Tak Ada Panic Buying karena Daya Beli Anjlok

radarjogja | Nasional | Published at 22/07/2021 10:43
Tak Ada Panic Buying karena Daya Beli Anjlok

RADAR JOGJA Selama kebijakan PPKM Darurat, daya beli masyarakat di Gunungkidul menurun. Warga lebih memilih menyimpan uang untuk menghemat pengeluaran.

Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Gunungkidul Yuniarti Ekoningsih. Penurunan daya beli masyarakat dapat dilihat dari sepinya lokasi transaksi jual beli.Fenomena pembelian karena panik alias panic buying tidak terjadi di Gunungkidul. Daya beli masyarakat justru turun, kata Yuniarti Ekoningsih saat dihubungi Rabu (21/7).

Dia menjelaskan, turunnya daya beli menimbulkan dampak berlipat. Yakni, berimbas secara pararel terhadap pendapatan para pedagang, baik di pasar tradisional, toko kelontong, swalayan, hingga warung makan.

Warung makan sebagian besar memilih tutup, karena ada kebijakan tidak bisa menyediakan layanan makan di tempat,ujarnya.

Akan tetapi, dia mengklaim, lesunya aktivitas ekonomi tidak berpengaruh banyak pada harga komoditas pangan. Harga kebutuhan dalam beberapa hari terakhir cenderung stabil dan diantaranya harga komoditas tertentu turun harga.

Sementara itu Kepala Administrasi Pasar Kemantren Wonosari, Sularno mengatakan, disaat PPKM Darurat sejumlah pedagang memilih tutup. Aktifitas pasar menjadi sepi, terutama pukul 03.00-05.00.Paling banyak dikunjungi lantai dua. Ada pengunjung namun tidak seramai biasanya, kata Sularno.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Gunungkidul, Sriatun berharap ada kebijaksanaan lain dari pemerintah sehingga perekonomian pasar tradisional tetap bisa berjalan normal.
Program vaksinasi selama ini sudah menjangkau ke pasar-pasar, semoga bisa merata ke seluruh pasar desa sehingga semua pedagang diharapkan lebih sehat dalam situasi pandemi, kata Sriatun. (gun/pra)

Artikel Asli