Mengenal Asesmen Nasional dan Bagaimana Persiapan Sekolah Menghadapinya

ayojakarta | Nasional | Published at 22/07/2021 09:41
Mengenal Asesmen Nasional dan Bagaimana Persiapan Sekolah Menghadapinya

TEBET, AYOJAKARTA -- Asesmen Nasional adalah program dari kebijakan pemerintah untuk melakukan pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan sekolah dasar dan menengah. Program ini juga sebagai pengganti Ujian Nasional (UN) yang kerap menjadi diskriminasi antara si kaya dan si miskin.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim menyadari bahwa UN menyebabkan para orang tua yang mampu, bisa memberikan fasilitas bimbingan belajar (bimbel) tambahan bagi anaknya demi mendapatkan nilai UN yang tinggi. Hal ini berbanding terbalik dengan siswa yang orang tuanya kurang mampu untuk menyediakan fasilitas di luar jam pelajaran sekolah.

Udah tidak ada UN itu luar biasa diskriminatifnya karena yang mampu bimbel kalau dengan UN yang hubungannya dengan subjek, itu ya anak-anak atau keluarga yang mampu bisa bimbel. Dan yang tidak mampu, ya tidak bisa. Berarti mereka dapat angka rendah gitu. Jadi kita sudah ubah, tegas Nadiem saat menjadi pembicara di konferensi Pendidikan Akademi Edukreator 2021, Rabu 14 Juli 2021.

Kebijakan Asesmen Nasional akan dilaksanakan pada September 2021. Jika UN hanya melibatkan siswa, Asesmen Nasional akan melibatkan kepala sekolah, seluruh guru, dan beberapa siswa.

Mengenal Lebih Dekat Bagaimana Sistem Asesmen Nasional Bekerja

Asesmen Nasional akan diukur menggunakan tiga instrumen. Instrumen pertama yaitu Asesmen Kompetensi Minimum, digunakan untuk mengukur literasi membaca dan numerasi sebagai hasil belajar kognitif.

Instrumen kedua yaitu Survei Karakter, yaitu mengukur sikap, kebiasaan nilai-nilai (values) sebagai hasil belajar non-kognitif. Instrumen ketiga yaitu Survei Lingkungan Belajar, yaitu mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran.

Adapun, sasaran Asesmen Nasional adalah siswa kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Untuk para siswa, dalam Asesmen Nasional mereka hanya wajib mengerjakan instrumen pertama dan kedua yaitu Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

Lalu sasaran lain yaitu semua guru dan kepala sekolah, dimana mereka hanya akan mengerjakan instrumen terakhir, yaitu Survei Lingkungan Belajar.

Nantinya Kemendikbud Ristek akan memilih secara acak murid kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA. Untuk kelas 5 SD maksimal yaitu 30 murid per sekolah dan 45 murid SMP/SMA/SMK per sekolah.

Mereka akan menjadi responden dengan mengisi tes dan kuesioner murid secara daring dengan menggunakan komputer dalam kondisi yang diawasi (proctored ).

Untuk para guru dan kepala sekolah, mereka juga menjadi responden. Untuk mengurangi beban administratif, guru diberi waktu 2 minggu untuk mengisi kuesioner. Pengisian kuesioner dilakukan secara daring tanpa pengawasan (mandiri).

Tujuan Asesmen Nasional dan Permasalahan Hasil Belajar Pendidikan di Indonesia

Asesmen Nasional bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dimana untuk mengevaluasi kinerja satuan pendidikan dan menghasilkan informasi untuk perbaikan kualitas belajar-mengajar, yang kemudian diharapkan berdampak pada karakter dan kompetensi siswa.

Selain itu, tujuan Asesmen Nasional juga dapat memberikan gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif. Adapun, sekolah efektif yang dimaksud yaitu memiliki ciri-ciri yang dimulai dari pengajar yang baik, program dan kebijakan sekolah yang membentuk iklim akademik, sosial, dan keamanan yang kondusif.

Asesmen Nasional juga sekaligus untuk memotret mutu sekolah, yang meliputi mutu input, proses, dan hasil belajar yang mencerminkan kinerja sekolah.

Arah kebijakan Asesmen Nasional, kata Nadiem, juga mengacu pada praktik baik pada level internasional seperti PISA ( Programme for International Student Assesment ). PISA disponsori oleh OECD (Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan).

PISA bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di 72 negara di dunia, dimana evaluasi tersebut berlangsung dalam tiga tahun sekali.

PISA menilai siswa-siswa yang berusia 15 tahun dari sekolah-sekolah yang dipilih secara acak. PISA menjadi monitor dan perbandingan hasil pendidikan dalam literasi membaca, literasi matematika, dan literasi sains.

Menurut data Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemendikbud Ristek yang dikutip Ayojakarta , menyebut bahwa pada tahun 2018 Indonesia berperingkat 72 dari 77 di bidang membaca, yang artinya sebanyak 70 persen siswa berada di bawah kompetensi minimum. Di tahun yang sama, di bidang matematika Indonesia peringkat 72 dari 78 dimana 71 persen siswa berada di bawah kompetensi minimum.

Konsisten sebagai salah satu negara dengan peringkat hasil PISA terendah dan skor PISA yang stagnan dalam 10-15 tahun terakhir, tulis data tersebut.

Persiapan dan Sosialisasi Sekolah

Ridwan Syarif, yang merupakan salah satu guru di SMPN 3 Pandeglang Banten mengaku belum mendapatkan sosialisasi terkait Asesmen Nasional dari dinas pendidikan setempat. Dia mengatakan, untuk asesmen yang melibatkan guru, pihak sekolah sedang menunggu arahan dari dinas pendidikan.

Untuk siswa, sekolah sudah bergerak dari tahun kemarin. Kebetulan sekolah menjadi sasaran supervisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dari LPMP (Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan) Provinsi Banten, ujar guru yang mengajar PPKn ini ketika dihubungi Ayojakarta , Kamis 22 Juli 2021.

Ridwan membeberkan, sosialisasi yang diberikan sekolah kepada siswa yang akan terlibat yaitu dengan cara pemberitahuan awal dari wali kelas masing-masing. Dia menilai, siswa masih membutuhkan waktu untuk dapat memahami apa itu Asesmen Nasional. Maka dari itu, kata Ridwan, pihak sekolah memberikan simulasi untuk pengenalan soal-soal Asesmen Nasional kepada para siswa.

Di tempat lain tepatnya di SMKN 4 Berau Kalimantan Timur, semua guru dikatakan sudah siap dalam menghadapi Asesmen Nasional. Hal tersebut dikatakan oleh guru mata pelajaran PPKn, Syainal.

Terlebih, secara pribadi Syainal pernah mengikuti program Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum. Hal ini menjadikan Syainal sedikit mengetahui tentang Asesmen Nasional.

Namun soal teknis dan detailnya, kata dia, guru-guru di SMKN 4 Berau belum mendapatkan pemahaman karena Asesmen Nasional akan menjadi pengalaman pertama mereka.

Kalau soal teknis, tentang bagaimana mekanisme pemilihan siswa, detail soalnya seperti apa, itu belum kami dapatkan dari pihak sekolah, kata Syainal.

Untuk itu, dia mengatakan sejauh ini para guru hanya sekadar memberitahukan bahwa akan ada Asesmen Nasional untuk SMK, terutama untuk siswa kelas 11 dalam proses sosialisasinya.

Di Provinsi Nusa Tengga Timur, proses sosialisasi Asesmen Nasional di level guru dan kepala sekolah baru akan dibahas. Kepala Sekolah SMAN 2 Tasifeto Timur Kabupaten Belu, Eustachius Mali Tae, mengatakan bahwa pihaknya belum ada persiapan soal Asesmen Nasional.

Rencana Sabtu ini kami datangkan salah satu rekan guru dari sekolah lain, untuk mendampingi guru-guru kami untuk perangkat pembelajaran yang lebih baik. Saat itu baru kami bahas persiapan asesmen, jelas Mali saat ditanya Ayojakarta tentang sosialisasi Asesmen Nasional di sekolahnya.

Masih adanya sekolah maupun guru yang belum melakukan sosialisasi, membuat para murid yang akan terlibat juga minim informasi. Terlebih, Juli 2021 merupakan tahun ajaran baru, dimana murid kelas 5 SD, 8 SMP, dan 11 SMA merupakan murid baru di tingkatannya.

Ayojakarta menemui dua murid yaitu kelas 8 SMP dan 11 SMA, yang menjadi target dari Asesmen Nasional ini. Keduanya mengatakan belum menerima informasi apapun terkait adanya Asesmen Nasional.

Belum dikasih tahu sekolah, ucap Alvin, siswa kelas 8 SMPN 163 Jakarta Selatan.

Belum dengar soal Asesmen Nasional, mungkin nanti karena baru masuk juga, kata Bintang, siswi kelas 11 SMAN 3 Depok.

Artikel Asli