Pemasok Obat Daftar G tanpa Izin Edar Akhirnya Dibui

lombokpost | Nasional | Published at 22/07/2021 09:09
Pemasok Obat Daftar G tanpa Izin Edar Akhirnya Dibui

MATARAM -Tim Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda NTB membongkar penyelundupan obat daftar G tanpa izin edar. Dua terduga pelaku berinisial RJ alias Jo dan TW alias Tomy diringkus di tempat persembunyiannya, Perumahan Graha Lingsar Permai, Lombok Barat (Lobar), Selasa malam (20/7). Mereka diduga menjadi otak peredaran gelap obat daftar G tersebut ke Gomong, Mataram.

Wakil Direktur Resnarkoba Polda NTB AKBP Erwin Ardiansyah menuturkan, tim Ditresnarkoba melakukan penyelidikan sejak sepekan lalu. Jo dan Tomy diketahui sudah memesan obat tersebut dari Jakarta. Tetapi pengirimannya gagal, kata Erwin.

Namun, setelah diselidiki mendalam, obat yang tidak memiliki izin edar tersebut tiba di Lombok, Selasa (20/7) lalu. Polisi yang mengetahuinya langsung bergerak dan menggerebek tempat tinggal Jo.

Dari penggerebekan itu ditemukan 10 ribu butir tramadol dan 20 ribu butir trihexyphenidyl. Polisi juga menemukan 3.000 butir cangkang kapsul kosong. Obat-obatan tanpa izin edar itu disimpan dalam dus berukuran besar, tutur Erwin.

Selain itu, polisi menyita sejumlah buku tabungan untuk proses pengembangan. Handphone tersangka juga sudah kita sita, terangnya.

Erwin mengatakan, Jo dan Tomy bukan hanya mengedarkan obat daftar G. Keduanya juga diduga menggunakan narkoba jenis sabu. Saat kita geledah, kita temukan alat-alat untuk menggunakan sabu, sebutnya.

Jo dan Tomy sudah menjalankan bisnis jual beli obat daftar G sejak tujuh bulan lalu. Per strip berisi sepuluh butir tramadol dibeli seharga Rp 25 ribu. Selanjutnya mereka menjualnya dengan harga Rp 30 ribu per strip.

Namun, jika dia menjual sendiri ke pengguna, per butirnya dijual seharga Rp 10 ribu. Sehingga, per strip mereka jual Rp 100 ribu. Karena per strip isinya 10 butir tramadol, terangnya.

Saat ini, polisi masih terus menelusuri jaringan pengedar obat daftar G tanpa izin edar ini. Termasuk menelusuri sumbernya. Kita masih kembangkan jejak digitalnya. Untuk membongkar jaringan pengedar obat daftar G itu, kata dia.

Saat ini Jo dan Tomy masih ditahan. Mereka dijerat pasal 196 juncto pasal 197 juncto pasal 198 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Mereka juga dijerat pasal 112 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Kita kenakan undang-undang Narkotika karena kita temukan barang bukti alat menggunakan sabu beserta pipa kaca yang masih tersisa sabu, pungkasnya. (arl/r1)

Artikel Asli