Heboh Rektor UI Di Zaman Corona Di Sini Krisis Pandemik, Di Sana Krisis Akademik

rm.id | Nasional | Published at 22/07/2021 08:16
Heboh Rektor UI Di Zaman Corona Di Sini Krisis Pandemik, Di Sana Krisis Akademik

Perubahan Statuta Universitas Indonesia (UI) menambah heboh suasana di zaman Corona ini. Sebab, dengan statuta yang baru, Rektor UI Prof Ari Kuncoro diperbolehkan rangkap jabatan sebagai Wakil Komisaris Utama BRI. Gelombang kritik pun muncul. Bahkan ada yang menyebut, di saat sedang krisis akibat pandemik, muncul krisis akademik.

Kehebohan soal Rektor UI ini sebenarnya sudah muncul sejak bulan lalu, saat dia memanggil Presiden BEM UI Leon Alvinda Putra, yang membuat meme Jokowi sebagai King of Lip Service. Setelah itu, banyak yang mengorek-ngorek profil Ari. Dari situ, diketahui Ari merangkap jabatan sebagai Wakil Komisaris Utama BRI. Ari dianggap melanggar Statuta UI yang melarang rektor merangkap jabatan. Banyak yang mendesak Ari mundur.

Ari tak menggubris desakan tersebut. Dia malah mengubah Statuta UI, yang disahkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 75/2021. Dalam statuta baru ini, Rektor UI boleh merangkap jabatan di BUMN atau BUMD, asal tidak menjadi direksi.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon geleng-geleng kepala melihat hal ini. "Sungguh memalukan, Statuta UI diubah untuk melegitimasi jabatan komisaris BUMN. Kepercayaan masyarakat rontok, baik pada dunia akademik maupun kekuasaan," katanya, di akun Twitter @fadlizon.

Pernyataan senada diungkapkan Ketua Fraksi PKS Jazuli Juwaini. Ini kan namanya akal-akalan aturan. Di mana etikanya?" ucap Anggota Komisi I DPR ini.

Dia menganggap, hal ini merupakan preseden buruk bagi independensi akademik. "Rangkap jabatan rektor dengan jabatan yang tidak ada kaitan dengan dunia akademik merusak upaya memajukan pendidikan tinggi," tegasnya.

Pengamat pendidikan Indra Charismiadji ikut melontarkan kritik. Kata dia, perubahan statuta itu merupakan contoh buruk bagi masyarakat dari seorang pemimpin.

Karena rektornya melanggar statuta, maka statutanya yang diubah. Dengan falsafah Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan menjadi teladan), kira-kira suri tauladan apa yang akan kita berikan ke generasi penerus bangsa?" sindirnya.

Warganet ikut memanaskan situasi dengan ngomel-ngomel dan menghardik Ari. Salah satunya, akun @BreRedana. Dia menyebut, yang dilakukan Ari telah membuat situasi saat ini semakin berat. "Memprihatinkan. Bencana pandemik kini ditambah bencana akademik," tulisnya.

"Kejahatan terhadap kemanusiaan," timpal @ecosocrights. "Tidak ketinggalan, bencana kepemimpinan. Maaf," seloroh @lukasomanalu.

Ari belum bersuara mengenai hal ini. Yang menyampaikan klarifikasi justru datang dari Majelis Wali Amanat (MWA) UI. Ketua MWA UI Saleh Husin menerangkan, proses perubahan statuta itu tidak ujug-ujug. Prosesnya sudah berjalan sejak 2019.

"Seingat saya, proses revisi Statuta UI sudah sejak akhir 2019 dan melibatkan banyak pihak. Termasuk lintas kementerian," ungkap Saleh, kemarin.

Menurut mantan Menteri Perindustrian ini, semua proses revisi tersebut sudah sesuai mekanisme dan tata aturan yang berlaku. "Jadi, tidak ada yang tiba-tiba. Karena prosesnya cukup lama. Juga sangat menguras tenaga dan waktu," tegasnya.

Saleh baru menerima salinan PP perubahan Statuta UI pada Senin (19/7). Salinan tersebut selanjutnya dipelajari dan dirapatkan di MWA.

"Kami harus berterima kasih kepada Pemerintah, karena statuta yang baru tersebut akhirnya terbit. Banyak hal mendasar yang sekarang diatur dalam statuta baru. Sehingga dapat menjadi pegangan UI untuk dapat berlari lebih kencang guna mengejar ketertinggalan menuju universitas kelas dunia," papar Saleh. [ UMM ]

Artikel Asli