PPKM Darurat Diubah Nama Yang Paling “Pedes” PPKM Level 4 Ya…

rm.id | Nasional | Published at 22/07/2021 07:50
PPKM Darurat Diubah Nama Yang Paling “Pedes” PPKM Level 4 Ya…

Setelah resmi diperpanjang, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat punya istilah baru. Kata darurat dihapus, diganti jadi level 1 hingga 4. Meskipun isi kebijakannya hampir sama, penggunaan kata level bertujuan agar terdengar tidak terlalu serem. Di dunia maya, PPKM level 4 dikaitkan warganet dengan jajanan bumbu pedas. Level 4 berarti yang paling pedas ya.

Secara umum, aturan PPKM Darurat dengan PPKM level 4 tak banyak berubah. Intinya, aturan ini dibikin sebagai upaya membatasi kegiatan masyarakat untuk melawan virus Corona. Misalnya, belajar harus online, dan kantor yang bukan sektor esensial dan kritikal harus tutup.

Mal juga harus membatasi operasional dengan membolehkan akses pembelian take away di restoran dan supermarket. Beberapa hal yang membedakan misalnya soal jumlah pekerja yang bekerja di rumah atau WFH, hingga jam operasional tempat usaha.

Ada dua peraturan menteri yang menjadi landasan PPKM jenis baru ini. Yakni, Keputusan Menteri Kesehatan 4805/2021 dan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Inmendagri) No 22/2021. Beleid yang diteken Menkes Budi Gunadi Sadikin itu antara lain, mengatur penilaian level PPKM di tiap daerah. Ada 4 level. Level terendah level 1 dan tertinggi alias kondisi gawat darurat level 4.

Ada tiga hal yang jadi patokan untuk menentukan level. Yaitu laju penyebaran virus Corona, tingkat kematian serta tingkat keterisian rumah sakit. Misalnya, suatu daerah dikategorikan level 4 jika kasus positif lebih dari 150 per 100.000 penduduk per minggu, perawatan di rumah sakit lebih dari 30 per 100.000 penduduk per minggu, dan kasus kematian lebih dari 5 per 100.000 penduduk per minggu. Di level ini, transmisi tidak terkontrol dengan kapasitas respons tidak memadai.

Sementara Instruksi Mendagri antara lain mengatur daerah mana saja yang mesti melaksanakam PPKM Level 4 dan mana yang PPKM Level 3. Secara umum, kota dan kabupaten di Jawa-Bali ada di level risiko 4. DKI Jakarta misalnya, ada di level risiko 4.

Kebijakan PPKM Level 4 ini berlaku mulai kemarin hingga Minggu (25/7) Juli nanti. Pemerintah baru akan melonggarkan PPKM Level 4 bila kasus penularan Covid-19 menurun pada 26 Juli 2021.

Kenapa istilah PPKM Darurat diganti? Komandan PPKM Jawa-Bali, Luhut Pandjaitan mengatakan, perubahan istilah itu sesuai dengan arahan Presiden Jokowi kepada para jajarannya saat memutuskan untuk memperpanjang PPKM, Selasa (20/7) malam.

Presiden memerintahkan agar tidak lagi menggunakan PPKM Darurat ataupun mikro, namun kita gunakan yang sederhana, yaitu PPKM level 4, kata Luhut dalam siaran pers via kanal Youtube Kementerian Perekonomian, kemarin.

Menko Perekonomian, yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Airlangga Hartarto menilai istilah baru ini untuk menghilangkan istilah darurat. Level 4 ini menggantikan istilah darurat, kata Airlangga.

Penggunaan nama baru ini memperpanjang daftar istilah yang dibikin pemerintah selama menangani pandemi Corona. Di awal pandemi, pemerintah memakai istilah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Setelah itu diganti menjadi PPKM. Aturan yang katanya diadopsi dari India ini pun beranak pinak. Ada PPKM Mikro, Penebalan PPKM, PPKM Darurat, dan teranyar PPKM Level 1-4.

Banyaknya istilah yang dipakai pemerintah ini menuai beragam komentar dari masyarakat. Ekonom senior Faisal Basri di akun Twitter @FaisalBasri , menyentil pemerintah yang doyan gonta-ganti istilah tapi kebijakannya tak berubah. Kok tak kapok-kapok obral istilah? Terus saja melakukan hal yang serupa berulang-ulang mendambakan hasil yang berbeda. Kata Einstein, itu wujud ketidakwarasan, cuit Faisal, kemarin.

Pengamat penerbangan yang juga eks anggota Ombudsman, Alvin Lie, ikut geleng-geleng kepala melihat pergantian isitilah PPKM. Menurut dia, perang melawan Corona tak cukup hanya dengan perubahan nama. Kata dia, selama kebijakannya itu-itu saja, ya tak akan ada kemajuan. Ia lalu menyoroti masih dibukanya gerbang perbatasan internasional.

Kita tetap membuka peluang terpapar varian baru, jadi yang dibenahi itu hanya di dalamnya. Ibaratnya, rumah bocor itu airnya yang di dalam rumah yang terus dikuras ke luar, tapi atapnya yang bocor itu nggak ditutup. Nanti hujan lagi ya bocor lagi, kata Alvin, kemarin.

Menurut dia, sebaiknya pintu kedatangan internasional untuk sementara waktu ditutup dulu. Sebulan atau dua bulan. Sia-sia, kita tetap membuka diri terhadap paparan varian baru. Bukan cuma bandara yang seharusnya ditutup, tapi gerbang internasional, laut darat udara, kata Alvin.

Senada disampaikan Ketua Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban. Kata dia, tak penting istilah. Yang penting itu aksinya. Ia menyoroti kapasitas tracing dan testing yang masih jauh dari target. Padahal kedua hal ini menjadi kunci dalam penanganan pandemi.

Tes diperbanyak, jangan dikurangi. Contact tracing kalau target 30, ya jangan hanya 5-10, harus sesuai target, kata Zubairi dalam diskusi daring bertajuk PPKM Darurat Diperpanjang: Keputusan Tepat? kemarin.

Ia pun mengungkapkan, saat ini masih banyak rumah sakit yang tidak bisa lagi menampung pasien Covid-19. Akibatnya, banyak pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di rumah dan meninggal dunia. Karena itu, Zubairi mendorong agar rumah sakit darurat di berbagai daerah segera dibuka dan dimanfaatkan. Terakhir, ia mengingatkan pemerintah agar memenuhi janji soal insentif kepada tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19.

Di jagat Twitter, warganet menyoroti perubahan istilah menjadi PPKM Level 4. Saking banyaknya yang bercuit, kata kunci PPKM Level 4 masuk daftar trending topic . Sampai tadi malam, ada 24,3 ribu cuitan yang mengulas aturan baru ini. Isinya kebanyakan berupa ledekan dan sindiran kepada pemerintah yang doyan gonta-ganti istilah.

Ada juga yang menyindir penggunaan level ini dengan mengkaitkan pada jajanan berbumbu pedas. Seperti diungkap penukis dan penyanyi Fiersa Besari di akun Twitter miliknya. PPKM di kasih level, emang boncabe, cuit @FiersaBesari , kemarin.

Akun @DonAdam68 juga teringat pada makanan pedas. Level 4 pedes banget pasti tuh. Jangan lupa karetnya 2, biar nggak ketuker, sindirnya.

Muncul Penolakan PPKM

Sementara itu, ratusan orang di Kota Bandung, kemarin, turun ke jalan, menolak penerapan PPKM. Massa yang terdiri dari mahasiswa, pelajar, ojek online, dan pedagang itu, menggelar aksi tolak PPKM di Balai Kota, Bandung, kemarin. Mereka menilai, pemberlakuan PPKM yang dilakukan mulai dari pusat hingga daerah, tidak berdampak terhadap pengendalian Corona dan malah menyengsarakan rakyat.

Massa aksi mulai mendatangi Balai Kota Bandung, di Jalan Wastukencana, sekitar pukul 12 siang. Mereka membawa spanduk dan poster berisi protes PPKM Darurat. Bandung sekarat, Wali Kota ngapain? Bunyi pesan spanduk. PPKM membuat rakyat melarat, bunyi di poster lain.

Peserta aksi juga tampak membentangkan poster berisi tulisan PPKM (Pelan-pelan Kita Mati), dan Orang miskin teriak lapar. Orang kaya teriak prokes.

Para demonstran mengungkapkan PPKM telah merampas hak hidup masyarakat tidak hanya di Ibu Kota tetapi juga di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Bandung. Kebijakan PPKM dianggap mematikan perekonomian. [BCG]

Artikel Asli