Di Balik Tren Penurunan Kasus, Angka Testing Juga Merosot

republika | Nasional | Published at 20/07/2021 17:04
Di Balik Tren Penurunan Kasus, Angka Testing Juga Merosot

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tren penambahan kasus Covid-19 harian menunjukkan penurunan. Setelah mencatatkan rekor tertingginya, 56.757 kasus positif pada 15 Juli 2021, kini angkanya mulai turun. Sudah tiga hari terakhir, angka kasus harian di bawah 50.000 per hari. Bahkan pada Selasa (20/7) ini dilaporkan 'hanya' 38.325 kasus baru.

Tapi yang perlu jadi perhatian, penurunan tren kasus ini dibarengi dengan kapasitas testing yang ikut jeblok. Dalam tiga hari terakhir, jumlah spesimen yang diperiksa setiap harinya tak pernah tembus 200.000 spesimen per hari. Jumlah orang yang dites juga tak pernah melebihi 150.000 orang per hari. Bahkan pada Selasa (20/7) ini tercatat hanya 114.674 orang yang dites.

Angka-angka tersebut jauh di bawah kapasitas testing sepanjang pekan lalu bisa tembus 250.000 spesimen per hari atau lebih dari 175.000 orang dites setiap harinya.

Belum ada penjelasan resmi dari Satgas Penanganan Covid-19 mengenai hal ini. Namun jika berkaca pada pola mingguan dan data yang terekam setiap libur nasional, bisa jadi penurunan kapasitas testing ini disebabkan sejumlah laboratorium yang libur.

Catatan merah lainnya, angka kematian akibat Covid-19 masih tinggi. Pada Selasa (20/7) ini dilaporkan ada 1.280 orang yang meninggal dunia dengan status positif Covid-19. Angka ini menjadi jumlah kematian harian tertinggi kedua setelah rekor pada 19 Juli 2021 dengan 1.338 kematian dalam sehari.

Kabar baiknya, angka kesembuhan juga dilaporkan masih tinggi. Pada Selasa (20/7) ini ada 29.791 orang yang dinyatakan sembuh dari Covid-19. Sayangnya, angka kesembuhan yang masih lebih rendah ketimbang tambahan kasus positif baru membuat jumlah kasus aktif masih meningkat. Total kasus aktif per hari ini mencapai 550.192 orang.

Dari penambahan kasus hari ini, Jawa Barat menjadi provinsi penyumbang angka tertinggi yakni 6.928 kasus. Posisi kedua ditempati DKI Jakarta dengan 6.213 kasus. Menyusul kemudian, Jawa Timur dengan 5.654 kasus, Jawa Tengah dengan 3.423 kasus, dan Banten dengan 2.865 kasus.











Artikel Asli