Berhenti Sampai Di Sini

ayosemarang | Nasional | Published at 20/07/2021 16:51
Berhenti Sampai Di Sini


Pandemi covid-19 belum diketahui kapan akan berakhir. Pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab akan keselamatan rakyat, bangsa dan negara telah mengeluarkan berbagai jurus yang berupa berbagai kebijakan untuk mengatasi Pandemi ini.

Yang paling akhir dikeluarkanlah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat yang bersifat darurat (PPKM Darurat) di Jawa- Bali, bahkan beberapa wilayah di luar itu pun ada yang mengikutinya.

PPKM Darurat yang akan berakhir tanggal 20 Juli 2021, sedang dievaluasi, untuk menentukan kebijakan berikutnya. Berdasarkan evaluasi ada indikasi keefektifan, setidaknya bila dilihat dari menurunnya tingkat kematian dan naiknya tingkat kesembuhan.

Di sisi lain ada pula indikator kekurangefektifan utamanya bila dilihat dari masih tingginya mobilitas masyarakat dan ketidakefektifan penyekatan.

Kebijakan PPKM Darurat itu pun dirasakan sangat berat oleh masyarakat meski berbagai stimulan telah diberikan pemerintah dibantu para relawan yang peduli.

Bagi pemerintah pun kebijakan itu tidak kalah beratnya, utamanya dari sisi anggaran yang dibutuhkan, serta tertekannya kondisi ekonomi yang beberapa bulan sebelumnya sebelum gelombang dua pandemi sempat menunjukkan kemajuan.

Tingginya orang yang terpapar serta banyaknya tenaga medis yang berada di garda terdepan yang gugur, memunculkan kekhawatiran rumah sakit akan kolap, sehingga kebijakan isoman, termasuk isoman terpusat disosialisasikan tanpa mengenal lelah, bahkan negara berusaha hadir dengan memberikan kebutuhan, termasuk obat-obatan gratis terhadap mereka yang melaksanakan isoman di rumah masing- masing.

Sayangnya di tengah upaya pemerintah dibantu berbagai pihak, masih saja ada pihak yang sengaja berupaya mengganggunya, dan mungkin pula tujuannya menurunkan kredibilitas pemerintah, yang berdasarkan teori penyalahan individu ( individual blame Theory) cenderung akan menyalahkan Presiden Jokowi sebagai penanggung jawab tertinggi.

Mereka tidak sadar, namun mungkin pula justru mereka sadar dan sengaja mengacaukan masyarakat, utamanya yang sebagian besar miskin informasi.

Dengan memanfaatkan media sosial ( medsos) yang sulit dibatasi, disebarlah berbagai info hoax, misalnya tentang kehalalan vaksin, efek samping faksin, bahkan vaksin palsu, yang sempat diluruskan sebuah media terkemuka bahwa hal tersebut terkait vaksin anak palsu tahun 2016 sebelum Pandemi.

Berbagai hal lainnya yang menimbulkan kepanikan yang berdampak pada penurunan imun pun banyak bermunculan.
Karena itu, yang perlu kita renungkan bersama adalah bagaimana kita berpartisipasi meminimalkan dampak info- info sesat tersebut?

Penyekatan
Membatasi medsos dengan Undang- undang serta Aturan lainnya sangatlah sulit, bahkan hampir mustahil. Yang bisa kita lakukan sebagai orang yang melek teknologi informasi dan komunikasi maksimal adalah tidak meneruskan info hoax yang kita terima.

Melalui cara itu, karena saking banyaknya grup yang kita ikuti, demikian pula dengan orang lain, pihak keluarga, pertemanan akrab, pertemanan nostalgia, pertemanan intelek, dan yang lainnya, maka efek berganda ( multiplier effect), tentu akan sangat signifikan.

Demikian pula bila hal tersebut kita ganti dengan informasi yang informatif, emphatik dan bernada optimisme, tentu akan berdampak sangat positif.

Saat ini, muncul indikasi mereka yang panik menyerbu rumah sakit meski kadang sekedar tidak enak badan mungkin karena kelelelahan. Dampaknya mereka yang membutuhkan rumah sakit malah kesulitan.

Contoh kasus ada beberapa keluarga yang bersitegang suami istri karena salah satunya ngotot minta diantar swab. Akhirnya, setelah bersitegang dan berangkat swab hasilnya negatif.

Literasi
Hal yang harus kita lakukan bersama ke depan adalah membuat sebagian besar masyarakat kita melek media, utamanya medsos .

Melalui cara itu setiap orang tidak akan mudah dipengaruhi oleh berbagi informasi yang karut marut. Dengan kemampuan mereka memilih serta memilah info yang mereka terima, niscaya mereka akan sulit tersesatkan.

Demikian pula para pemangku kepentingan sedapat mungkin satu suara dan tidak membuat gaduh, sehingga akhirnya Presiden pun sampai mengingatkannya.

Dari sisi Public Relations, maka keharmonisan komunikasi ke dalam itu penting, sebelum dinyatakan keluar melalui media.

Karut marutnya info perpanjangan PPKM Darurat misalnya, telah memunculkan ancaman berbagai pihak untuk memasrahkan karyawannya pada pemerintah, bila PPKM Darurat diperpanjang. Hal seperti itu ke depan harus dihindari.

Akhirnya menyangkut apa pun jenis infonya, apa pun isinya, bila belum resmi dan pasti bila masuk ke gawai kita, sebaiknya stop share dan kita ganti info yang menggembirakan. Melalui cara itulah kontribusi masyarakat dalam mengurangi dampak info hoax akan tampaknya nyata manfaatnya.*

Penulis; Drs. Gunawan Witjaksana, M.Si, Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

Artikel Asli