Tiga Roket Serang Zona Istana Presiden Afghanistan

republika | Nasional | Published at 20/07/2021 15:57
Tiga Roket Serang Zona Istana Presiden Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID,KABUL Setidaknya tiga roket ditembakan ke Zona Hijau di Kabul, Afghanistan, pada Selasa (20/7) pagi waktu setempat. Serangan itu terjadi sesaat sebelum Presiden Ashraf Ghani menyampaikan pidato dalam rangka memperingati Idul Adha.

Roket tersebut ditembakkan sekitar pukul 08:00. Ledakannya terdengar di seluruh Zona Hijau yang menampung istana presiden dan sejumlah kedutaan, termasuk milik Amerika Serikat (AS). Hari ini musuh Afghanistan melancarkan serangan roket di berbagai bagian kota Kabul, kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Mirwais Stanikzai, dikutip laman Al Arabiya.

Menurut dia, semua roket menghantam tiga bagian yang berbeda. Berdasarkan informasi awal, kami tidak memiliki korban. Tim kami sedang menyelidiki, ujar Stanikzai.

Beberapa menit setelah serangan, Ashraf Ghani menyampaikan pidato di hadapan beberapa pejabat tinggi negara tersebut. Istana presiden Afghanistan telah beberapa kali menjadi target serangan roket. Insiden semacam itu terakhir kali terjadi pada Desember tahun lalu.

Saat ini Afghanistan tengah menghadapi peningkatan serangan Taliban. Kelompok tersebut diyakini telah menguasai sekitar separuh dari 400 distrik di negara tersebut. Mereka pun mengontrol beberapa akses penyeberangan perbatasan penting dan mengepung beberapa ibu kota provinsi yang vital.

Keagresifan Taliban melancarkan serangan dan menguasai lagi sejumlah wilayah Afghanistan terjadi setelah AS dan sekutu NATO-nya menarik pasukannya dari negara tersebut. Penarikan pasukan itu merupakan salah satu poin yang tercantum dalam perjanjian damai yang disepakati AS dan Taliban pada Februari tahun lalu.

Taliban menolak melakukan pembicaraan damai dengan Pemerintah Afghanistan jika pasukan asing belum hengkang. Konflik Afghanistan dengan Taliban telah berlangsung selama dua dekade, yakni sejak 2001. Peperangan tersebut diperkirakan telah memakan setidaknya 47.600 korban jiwa.

Artikel Asli