Muhammadiyah: Ada Jutaan Ilmuwan yang Percaya Covid-19, Masak Mereka Bersekongkol Konspirasi Semua?

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 20/07/2021 15:15
Muhammadiyah: Ada Jutaan Ilmuwan yang Percaya Covid-19, Masak Mereka Bersekongkol Konspirasi Semua?

YOGYAKARTA - Para ilmuwan dikenal sebagai kelompok yang memiliki standar ketat dalam memutuskan perkara. Untuk menyepakati satu hal tertentu, para ilmuwan memakai kesepakatan yang kebenarannya berlaku universal di semua tempat.

Karenanya, anggapan satu dua ilmuwan yang menyelisihi kebenaran universal dianggap tidak mampu membatalkan kebenaran tersebut. Hal inilah yang turut berlaku untuk menanggapi satu-dua oknum 'ilmuwan' yang menggaungkan tema konspirasi.

"Walaupun ada orang yang berbeda ya kita ambil gampangnya saja. Kalau dari sejuta dokter itu percaya pada Covid-19 dan vaksinasi lalu ada 1-2 yang miring dan tidak gitu percaya yang banyak, jangan percaya yang sedikit," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dikutup dari rilis Muhammadiyah Selasa (20/7).

Haedar berpesan agar warga Muhammadiyah tidak terseret arus oleh fitnah di atas. Sebab, Muhammadiyah memiliki karakter keilmuan yang kuat dibandingkan dengan sikap emosional semata.

"Seperti sekarang Muhammadiyah punya lembaga MCCC untuk menghadapi Covid-19 ini yang dalam organisasi itu berdasarkan ilmu, dari ahli epidemilogi, para dokter, kemudian ahli-ahli sains yang lain. Sehingga ketika Muhammadiyah mengambil kebijakan itu berdasarkan ilmu. Di Majelis Tarjih juga sama. Ada yang ahli ilmu agama secara umum, dan ahli di berbagai bidang ilmu sehingga ketika Tarjih mengambil kesimpulan, keputusan itu juga berdasar ilmu)" jelasnya.

Haedar berpesan segala pernyataan akan dipertanggungjawabkan di akhirat sehingga berbagai pernyataan yang menggampangkan pandemi seperti pendapat untuk takut kepada Allah saja daripada Covid-19 pun akan memiliki hisab yang berat.

"Maka jangan sembarangan ketika kita bilang bahwa wah kalau kita berikan, ga usah takut kepada Covid-19, takut saja kepada Allah. Nah itu ciri berpikir yang tidak berdasar ilmu atau jika dengan ilmu, ilmunya terbatas," pesan Haedar.

Artikel Asli