Penjelasan Ilmiah Guru Besar FK UI Tentang Arti Penting Vaksinasi Covid-19

rmol.id | Nasional | Published at 20/07/2021 13:19
Penjelasan Ilmiah Guru Besar FK UI Tentang Arti Penting Vaksinasi Covid-19

RMOL.Urgensivitas vaksinasi di masa darurat Covid-19 sekarang ini dijabarkan secara ilmiah oleh Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. DR. Dr. Budi Wiweko, SpOG (K), MPH.

Ia mengutarakan, secara prinsip setiap sel di dalam tubuh manusia memiliki identitas atau unsur yang memperkenalkan diri seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), yang bisa mengidentifikasi suatu sel yang masuk ke dalam tubuh.

"Walaupun demikian, ada kalanya sel tubuh memiliki masalah dengan KTP-nya sehingga menjadi tidak dikenali sel imun. Akibatnya, sudah barang tentu sel imun akan menyerang sel tubuh sendiri. Inilah yang dikenal sebagai 'penyakit auto imun', " ujar Budi di Jakarta, Selasa (20/7).

Bagaimana reaksi sel imun bila ada sel asing masuk ke dalam tubuh, jelas Budi, bisa dalam bentuk infeksi bakteri atau pun virus.

"Pada dasarnya sejak dibentuk, sel imun sudah 'disekolahin di kelenjar Timus' agar ia mampu mengenali musuhnya dengan baik dan tidak menyerang kawan-nya sendiri," imbuhnya.

Namun apabila ada bakteri atau virus masuk, Budi memastikan tubuh manusia akan menyusun kekuatan dengan mengerahkan sel-sel imunnya dari berbagai lapisan.

"Ia menjabarkan, ada lapisan pertama, kedua dan ketiga sebagai benteng terakhir, demikian Allah SWT menciptakannya dengan sangat sempurna," kata Wakil Direktur IMERI-FKUI itu.

Budi memaparkan, pasukan sel imun lapisan pertama yang paling gampang dikenal misalnya adalah kulit.Di mana kulit diatur kelembabannya dan banyak sel imun di bawah jaringan kulit sebagai barisan pertama pertahanan manusia.

Tapi jika sel imun lapisan pertama tersebut belum mampu mengusir musuh, Budi menduga akan ada ada sel-sel perantara yang akan memanggil bala bantuan dan melepaskan berbagai zat untuk menghancurkan musuh.

"Sel-sel ini dikenal dengan sebutan 'sitokin'," tuturnya.

Suatu infeksi yang tidak berat, Budi menemukan pada umumnya bisa diselesaikan di level pertama. Tetapi untuk infeksi virus yang sifatnya di dalam sel, membutuhkan bala bantuan yang lebih besar untuk menghancurkan virus sekaligus sel yang diinfeksinya.

"Dan apakah infeksi virus bisa sembuh sendiri? Jawabannya tidak selalu.Karena yang pertama bergantung dari derajat infeksi. Disamping itu, jenis dan jumlah virus yang menginfeksi serta tingkat ketangguhan sel imun akan menentukan respons orang terhadap infeksi virus," paparnya.

Sebagi contoh, Budi menyebutkan Infeksi virus HIV AIDS yang merupakan infeksi virus sangat berbahaya, karena virus HIV akan merusak sel imun tubuh manusia sehingga pertahanan tubuh menjadi lumpuh total.

"Bisa dibayangkan seorang penderita AIDS bisa wafat hanya karena terinfeksi tuberkulosis. Hal ini karena pasien AIDS telah kehilangan 100 persen daya tahan tubuhnya," paparnya.

Infeks virus lain yang bisa dilihat, misalnya infeksi virus HPV atau human papilloma virussebagai penyebab kanker mulut rahim. Virus HPV ini akan mengelabui sel imun yang ada di mulut rahim perempuan.

Dalam diagnosa kedokteran, Budi mengatakan infeksi HPV menggunakan KTP palsu dengan terus merusak mulut rahim seorang perempuan, sehingga bisa menjadi kanker tanpa sel imun tubuh perempuan tersebut menyadarinya.

Lantas, apa yang terjadi bila seseorang terinfeksi virus SARS-CoV-2 yang merupakan penyebab infeksi Covid-19?

Budi menyatakan bahwa infeksi Covid-19 secara prinsip memiliki kesamaan dengan HPV. Yaitu, sel imun orang yang terinfeksi akan segera bereaksi dan memanggil pasukannya untuk membunuh virus tersebut.

"Sebagian besar akan sukses dan berhasil sehingga tidak bergejala atau hanya bergejala ringan saja. Sebagian kecil tidak berhasil karena virus SARS-CoV-2 berhasil mengecoh sel imun orang yang terinfeksi sehingga jatuh dalam kondisi berat," katanya.

Pada kondisi berat, Budi melihat kerja virus Covid-19 terus merusak sel yang diserangnya, terutama adalah sel paru-paru yang akhirnya mengakibatkan seseorang kehabisan oksigen.

"Respons sel perantara yang berlebihan, padahal bertujuan memanggil bala bantuan, ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Reaksi ini disebut sebagai 'badai sitokin' yang justru bisa merusak semua organ tubuh manusia," ungkapnya.

Oleh karena itu, ia memandang upaya para dokter dan tenaga medis dalam menghadapi pasien yang terinfeksi Covid adalah berupaya mencegah agar penyakit tidak jatuh dalam kondisi berat.

Budi mnuturkan, berbagai suplemen vitamin, mikro nutrien, dan zinc diberikan untuk bisa mengaktifkan sel imun orang yang terjangkit agar jangan dibohongin oleh SARS-CoV-2.

"Sementara pada kasus derajat sedang, pemberian anti virus dilakukan untuk mencegah supaya virus ini tidak terus membelah dan memperbanyak dirinya di dalam tubuh," sebutnya.

Tindakan terbaik menurut Budi adalah menghindari dan mencegah terjadinya infeksi SARS-CoV-2 dengan melakukan protokol kesehatan yang ketat dan juga vaksinasi.

Ia menilai, vaksinasi sebagai bagian dari upaya manusia "menyekolahkan" sel imun sehingga lebih mengenal musuhnya dan dengan cepat dapat menghancurkan virus sebelum sempat memperbanyak dirinya.

"Cara vaksin bekerja adalah dengan memasukkan sedikit sel asing yang memiliki 'KTP musuh' ke dalam tubuh sehingga sel imun kita akan cepat mengenali dan mengidentifikasi," bebernya.

Biasanya pada dosis pertama, Budi menjelaskan bahwa sel imun manusia baru menjalani penjajakan terhadap musuh. Baru pada dosis kedua dan seterusnya, sel imun manusia lebih mengenali calon musuhnya, sehingga cepat memproduksi dan mengerahkan bala bantuan untuk menghancurkan musuh.

" Know your enemy better, kira-kira begitulah vaksinasi akan membantu kita mencegah terjadinya infeksi yang belum ada obatnya," tegasnya.

"Manusia tentu hanya berikhtiar secara maksimal dilanjutkan dengan berdo'a agar kita mampu mengatasi pandemi Covid 19 ini," demikian Budi menambahkan. []

Artikel Asli