Buru-buru Tarik Rem Darurat, Jokowi Tidak Ingin RS Kolaps

jawapos | Nasional | Published at 20/07/2021 12:02
Buru-buru Tarik Rem Darurat, Jokowi Tidak Ingin RS Kolaps

JawaPos.com Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakupaham aspirasi masyarakat, agar kegiatan sosial dan ekonomi bisa dilonggarkan. Namun untuk saat ini belum bisa dilakukan lantaran angka penularan Covid-19 masih tinggi.

Menurut Jokowi kegiatan sosial dan ekonomi bisa dilonggarkan apabila kasus penularan Covid-19 di dalam negeri sudah mengalami penurunan.

Hal semacam ini bisa dilakukan jika kasus penularan rendah, jika kasus kronis yang masuk ke rumah sakit juga rendah, ujar Jokowi di YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (20/7).

Jokowo mengaku pemerintah perlu menarik rem darurat sebelum mengalami terlambat. Jika pemerintah buru-buru tidak menghentikan aktivitas masyarakat maka rumah sakit (RS) bisa kolaps untuk menampung pasien Covid-19.

Bayangkan kalau pembatasan ini dilonggarkan, kemudian kasusnya naik lagi, dan kemudian rumah sakit tidak mampu menampung pasien-pasien yang ada, ini juga akan menyebabkan fasilitas kesehatan kita menjadi kolaps. Hati-hati juga dengan ini, katanya.

Oleh sebab itu, Jokowi mengatakan yang paling penting, jika disiplin protokol kesehatan itu bisa dijamin terutama jaga jarak dan memakai masker. Kuncinya sebetulnya hanya ada dua sekarang ini yakni empercepat vaksinasi, dan kedua kedisiplinan protokol kesehatan utamanya masker, pakai masker.

Baca Juga: Ini Sanksi Pidana Bagi Pelanggar PPKM Darurat

Saya minta kepada Gubernur, Bupati, dan Wali Kota yang didukung oleh jajaran Forkopimda betul-betul semuanya fokus dan bertanggung jawab terhadap semua ini, pemerintah pusat akan memberikan dukungan, ungkapnya.

Dan kembali lagi, kuncinya adalah kepemimpinan lapangan mulai dari kepala daerah, camat, kepala desa, dan lurah, termasuk di dalamnya adalah tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh sosial, dan organisasi sosial dan keagamaan di tingkat lokal bawah, tambahnya.

Kemudian yang penting, yang juga ingin Jokowi sampaikan, penyiapan rumah isolasi, terutama untuk yang bergejala ringan. Kalau bisa, ini sampai di tingkat kelurahan atau desa. Kalau tidak, paling tidak ada isolasi terpusat di tingkat kecamatan, terutama ini untuk kawasan-kawasan yang padat, utamanya di kota-kota.

Ini harus ada. Karena cek lapangan yang saya dilakukan untuk kawasan-kawasan padat (rumah berukuran) 33 (meter) dihuni oleh empat orang. Saya kira ini, kecepatan penularan akan sangat masif kalau itu tidak disiapkan isolasi terpusat di kelurahan itu, atau paling tidak di kecamatan, tuturnya.

Artikel Asli