FDA: Vaksin J&J Tingkatkan Risiko Sindrom Guillain-Barre

republika | Nasional | Published at 13/07/2021 14:05
FDA: Vaksin J&J Tingkatkan Risiko Sindrom Guillain-Barre

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS menyatakan, penerima vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Johnson & Johnson bisa jadi makin berisiko mengembangkan sindrom Guillain-Barr. Sindrom tersebut merupakan gangguan neurologis langka di mana sistem kekebalan tubuh malah menyerang saraf.

Hingga kini, ada lebih dari 100 kasus Guillain-Barr dilaporkan ke Vaccine Adverse Event Reporting System, sebuah program federal untuk melaporkan masalah vaksin Covid-19. Pelaporan itu pula yang mendorong FDA untuk memperbarui lembar fakta peringatan bagi penerima vaksin J&J dan para perawatnya.

Dikutip dari CNN , Selasa (13/7), FDA telah menambahkan peringatan itu pada label vaksin. Namun, sejauh ini, FDA masih mengkalkulasi manfaat vaksin J&J, apakah perlindungan terhadap varian Delta dan Covid-19 lainnya lebih besar daripada risikonya.

"Laporan efek samping setelah penggunaan vaksin Covid-19 J&J di bawah otorisasi penggunaan darurat menunjukkan adanya peningkatan risiko sindrom Guillain-Barr dalam 42 hari setelah vaksinasi," demikian isi pembaruan label.

Pembaruan peringatan juga menyebut bahwa kesimpulan tentang kemungkinan hubungan sebab-akibat antara pemberian vaksin J&J dengan terjadinya sindrom itu belum bisa diambil. Namun, FDA tak melihat ada sinyal serupa dari pemberian vaksin Moderna maupun Pfizer-BioNTech.

FDA menyerukan penerima vaksin J&J untuk mencari bantuan medis jika merasakan gejala kelemahan atau kesemutan di lengan dan kaki, terutama jika menyebar. Gejala lainnya termasuk kesulitan berjalan, berbicara, mengunyah atau menelan.

Demikian juga jika mereka mengalamim penglihatan ganda dan masalah kontrol usus atau kandung kemih. Sindrom Guillain-Barr diketahui sering menyebabkan kelemahan otot dan terkadang kelumpuhan sementara.

FDA mengatakan, 95 dari 100 laporan sindrom Guillain-Barr melibatkan orang-orang yang membutuhkan rawat inap. Satu orang meninggal.

Berdasarkan laporan The New York Times pada Senin, seorang pria berusia 57 tahun meninggal pada April setelah mendapatkan vaksin J&J dan mengembangkan sindrom Guillain-Barr. Pria itu memiliki riwayat serangan jantung dan strok dalam empat tahun terakhir.

Artikel Asli