Diperiksa Polisi, Dokter Lois Akui Kesalahannya

rm.id | Nasional | Published at 13/07/2021 11:28
Diperiksa Polisi, Dokter Lois Akui Kesalahannya

Dokter Lois Owien mengakui kesalahannya atas sejumlah opininya mengenai Covid-19, saat menjalani serangkaian pemeriksaan intensif di kepolisian.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Slamet Uliandi menerangkan, dr Lois sudah memberikan sejumlah klarifikasi atas pernyataannya sebagai dokter terkait fenomena pandemi Covid-19.

"Segala opini terduga yang terkait Covid, diakuinya merupakan opini pribadi yang tidak berlandaskan riset," ujar Slamet, Selasa (13/7).

Beberapa asumsi yang dibangun dr Lois di antaranya, kematian pasien terjadi karena Covid disebabkan interaksi obat yang digunakan dalam penanganan pasien.

Kemudian, opini bahwa dr Lois tidak percaya Covid-19, serta opini soal penggunaan alat tes PCR dan swab antigen sebagai alat pendeteksi Covid-19 sebagai hal yang tidak relevan. "Opini-opini itu diakui terduga (dr Lois) merupakan asumsi yang tidak berlandaskan riset," imbuhnya.

Selain itu dr Lois juga mengakui, opini yang dipublikasikannya di media sosial, membutuhkan penjelasan medis. Opini itu jadi bias di media sosial dan menjadi debat kusir yang tidak ada ujungnya.

Dalam klarifikasinya, dr Lois juga mengakui, perbuatannya tidak dapat dibenarkan secara kode etik profesi kedokteran. Berkaitan dengan reproduksi konten yang dilakukan dr Lois, kata Slamet, merupakan tindakan komunikasi yang dimaksudkan untuk mempengaruhi opini publik.

"Setelah dilakukan pemeriksaan oleh penyidik, kami dapatkan kesimpulan bahwa yang bersangkutan tidak akan mengulangi perbuatannya dan tidak akan menghilangkan barang bukti, mengingat seluruh barang bukti sudah kami miliki," ungkapnya.

Selain itu, dr Lois juga menyanggupi tidak akan melarikan diri. Karena itu, Slamet memutuskan tidak melakukan penahanan terhadap dr Lois. "Hal ini juga sesuai dengan konsep Polri menuju Presisi yang berkeadilan," tutur Slamet.

Pihak Polri mengedepankan keadilan restoratif agar permasalahan opini seperti ini tidak menjadi perbuatan yang dapat terulang di masyarakat.

"Kami melihat bahwa pemenjaraan bukan upaya satu-satunya, melainkan upaya terakhir dalam penegakan hukum, atau diistilahkan ultimum remedium. Sehingga, Polri dalam hal ini mengedepankan upaya preventif agar perbuatan seperti ini tidak diikuti pihak lain," beber Ketua Satgas Presisi Polri ini.

Slamet berharap, ke depannya, dr Lois bisa lebih bijak dalam menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi sosial.

"Indonesia sedang berupaya menekan angka penyebaran pandemi, sekali lagi pemenjaraan dokter yang beropini diharapkan agar jangan menambah persoalan bangsa. Sehingga Polri dan tenaga kesehatan kita minta fokus tangani Covid-19 dalam masa PPKM Darurat ini," tandasnya.

Meski tidak ditahan, Polri memberikan catatan, dr Lois dapat diproses lebih lanjut secara otoritas profesi kedokteran. [OKT]

Artikel Asli