PPKM Darurat Efektif, DKK Jateng Sebut Angka Kematian Menurun dan Kesembuhan Meningkat

ayosemarang | Nasional | Published at 13/07/2021 11:06
PPKM Darurat Efektif, DKK Jateng Sebut Angka Kematian Menurun dan Kesembuhan Meningkat

SEMARANGSELATAN, AYOSEMARANG.COM -- Setelah mendapat hasil baik dalam data pengurangan pergerakan, kali ini Jawa Tengah kembali menuai hasil positif dari PPKM Darurat. Data terbaru Jawa Tengah mengalami angka penurunan kematian Case Fatality Rate (CFR) dan peningkatan Recovery Rate atau angka kesembuhan.

Informasi tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Jateng Yulianto Prabowo. Berdasarkan data yang dia dapat, saat ini terjadi penurunan angka CFR dibanding minggu sebelumnya.

Terjadi penurunan CFR dari 6,36 persen menjadi 6,18 persen, ya. Lalu, recovery rate atau angka kesembuhannya meningkat, dari 85 persen menjadi 85,19 persen, kata Yulianto usai Rapat Evaluasi Penanganan Covid-19 di kompleks kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, Senin 12 Juli 2021.

Yulianto member contoh seperti misanya yang terjadi di Kabupateng Kudus. Kasusnya dari minggu ke minggu terus menurun. Tingkat hunian rumah sakitnya juga sudah cukup longgar.Informasi tersebut diperolehnya kemarin usai berkomunikasi dengan Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus Abdul Aziz Achyar.

Kira-kira keterisiannya (di RSUD Loekmono Hadi Kudus) hanya 50 persen-60 persen, jelas Yulianto.

Kondisi itu jelas berbeda dari minggu-minggu sebelumnya dimana tingkat keterisian mencapai 100 persen. Bahkan saking penuhnya pasien harus dikirim ke luar daerah. Saat ini yang terjadi justru sebaliknya, Kudus sudah menerima pasien dari luar Kudus.

Ini cukup menggembirakan. Moga-moga, kabupaten dan kota yang lain juga mengalami suatu perbaikan penurunan kasus, penurunan jumlah kematian. Kita harapkan, ya, harap Yulianto.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga mengamini adanya PPKM darurat telah terjadi penurunan kasus.

Kendati demikian, Ganjar menegaskan agar masyarakat tetap mengurangi tingkat mobilitas. Karena sampel dari whole genome sequence (WGS) menyatakan varian itu adalah Delta. Maka, Ganjar menyatakan jika variannya Delta maka haruslah waspada.

Lebih jauh Ganjar menuturkan sampel yang dikirim di WGS kurang lebih yang diambil 106 sampel. Dari jumlah itu, ditemukan varian Delta 95 atau 89,6 persen. Dengan rinciannya, untuk anak di bawah usia 17 tahun ada 23 orang atau 24,2 persen, serta dewasa 72 orang atau 75,08 persen.

Asal sampelnya di Kudus ada 72 di antara itu varian Deltanya 62, Salatiga ada 6 dengan varian Deltanya 5, Jepara 3 dan semuanya varian Delta, Grobogan ada dua dan Delta semua, Kota Magelang ada tiga dan semuanya Delta, Karanganyar ada tiga dan semuanya Delta, dan Solo ada 16 dan semuanya Delta, jelasnya.

Maka masyarakat mesti paham jika berbagai pengetatan ini memang tidak menyenangkan dan tidak nyaman. Namun mau tidak mau hal itu harus dilakukan untuk menekan laju lonjakan Covid-19.

Harapannya, mereka akan berkomunikasi dengan masyarakatnya agar mereka tidak keluar dari wilayah itu. Kalau mereka tidak keluar, mereka tidak turun banyak ke jalan. Kalau sudah turun banyak ke jalan, ke kota, dan sebagainya, dan tempatnya jauh, pasti ini menunjukkan mobilitas yang tinggi, ujarnya.

Artikel Asli