[POKOKMEN PSIS] Supriyadi, Sosok Pembentuk Fisik Prima PSIS Era 80-an dengan Menerapkan Ilmu Atletik di Sepak Bola

ayosemarang | Nasional | Published at 13/07/2021 10:36
[POKOKMEN PSIS] Supriyadi, Sosok Pembentuk Fisik Prima PSIS Era 80-an dengan Menerapkan Ilmu Atletik di Sepak Bola

SEMARANGBARAT, AYOSEMARANG.COM -- Pelatih PSIS Semarang di tahun 1987 yakni Cornelis Soetadi pernah secara terang-terangan mengatakan jika Mahesa Jenar butuh lapangan becek.

Sebab menurutnya, PSIS punya potensi besar untuk unggul saat bermain di lapangan becek. Ucapan Soetadi itu dikatakan jelang laga melawan PSMS Medan dalam pertarungan 6 besar Piala Perserikatan.

Meskipun di atas lapangan kering sebetulnya permainan kami sama saja. Cuma karena lawan sudah terpengaruh oleh predikat demikian, jadinya sudah dipikir-pikir kalau lapangan habis diguyur hujan, kata Cornelis Soetadi dalam arsipSuara Merdeka Minggu 1 Maret 1987.

Sebutan jago becek tadi juga tidak diucapkan oleh Cornelis Soetadi seorang. Banyak orang mengatakan di tahun 1987 itu, PSIS memang jadi momok yang menakutkan kala bermain di lapangan basah hingga sampai merengkuh trofi juara.

Bukti keperkasaan PSIS di lapangan becek yang paling diingat mungkin saat melawat ke Ujung Pandang untuk melawan PSM Ujung Pandang. Kala itu meski sudah tertinggal 0-2, namun PSIS mampu membalikan menjadi 3-2 begitu lapangan diguyur hujan.

Pelatih kawakan Kota Semarang Sartono Anwar juga berulang kali mengisahkan pertandingan itu jika ditanya tentang sebutan jago becek. Namun kemudian Sartono juga menyambung dengan narasi lain.

Jago becek itu sebetulnya jadi terkenal karena disebut-sebut terus sama media. Tapi yang sebenarnya, kami jadi jago becek karena fisik kami selalu prima, terang Sartono.

Fisik prima yang disebut oleh Sartono tadi juga bukan hadir begitu saja. Di tahun 1987 itu PSIS sampai dikatakan kondisi fisiknya menyamai Persipura Jayapura yang mempunyai fisik prima dengan konsistensi pola permainan menyerang kendati ajang kompetisi hingga sampai 6 besar begitu padat.

Ternyata ada sosok penting di balik kekuatan fisik PSIS Semarang di tahun 1987 itu. Yakni pelatih fisik Drs Supriyadi.

Ayosemarang.com menemui Supriyadi, salah seorang sosok penting di balik kekuatan fisik PSIS di tahun 1987. Saat ini usianya terbilang cukup senja yakni 74 tahun. Usia yang sama dengan Sartono Anwar.

Dulu kan saya sama Sartono satu angkatan di TC Salatiga, ujar Supriadi saat ditemui di kediamannya pada 4 Juli 2021.

Kemudian setelah TC itu, Supriyadi tidak lanjut menekuni sepak bola namun memilih sekolah di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Negeri Semarang seraya mendalami atletik.

Usai lulus dan terus berkutat di bidang atletik, pada tahun 1984 Supriyadi diminta menangani fisik PSIS Semarang.

Sewaktu di PSIS ini saya menerapkan ilmu atletik untuk latihan fisik, ucapnya.

Asah Fisik dengan Latihan Anaerob

Dalam melatih fisik PSIS, Supriyadi menggunakan teknik anaerob. Yakni teknik latihan fisik untuk mengasah kekuatan oksigen dalam pergerakan otot.

Cara yang digunakan adalah dengan meminta pemain memutari lapangan dalam 2 menit dalam beberapa putaran. Target 2 menit itu adalah patokan waktu awal, namun tujuan utamanya adalah meminta pemain mencapai 86 detik.

Untuk mencapai 86 detik itu saya butuh waktu 3 tahun, ungkapnya.

Tujuan dari latihan ini sendiri kata Supriyadi adalah untuk mengolah pergantian oksigen. Jadi dengan latihan anaerob, pemain terlatih untuk mengolah oksigen di tubuh dan kaki dengan sambil masih berlari.

Secara keseluruhan, Supriyadi juga ikut melatih kemampuan lainnya. Mulai dari daya tahan umum dan khusus, kelincahan, kecepatan, keseimbangan dan mobilitas serta kelenturan tubuh.

Awal-awal kedatangan Supriyadi ke PSIS, sempat dikritik oleh Manajer PSIS kala itu Ismangoen Notosapoetro. Katanya gaya melatih fisik Supriyadi tidak keras, banyak sesi istirahatnya.

Mereka hanya melihat dari luarnya saja. Tidak tahu teknis yang sebenarnya. Yang tahu kan cuma saya. Tapi lihat dulu hasilnya, tambah Supriyadi.

Hasil yang didapat memang sebanding. Sejak ditangani oleh Supriyadi peningkatan fisik PSIS juga terbukti lewat progress yang didapat. Misalnya bisa juara enam kecil pada musim 1984-1985 dan juara Perserikatan pada musim 1986-1987.

Maka dari itu stamina pemain tidak habis-habis. Apalagi di lapangan becek. Makanya sampai disebut jago becek, paparnya.

Tidak hanya latihan fisik, Supriyadi juga mengimbangi dengan kebutuhan gizi yang teratur. Sebelum bertanding, pemain PSIS dilarang mengonsumsi bahan makanan yang mengandung gas.

Sup itu nggak boleh ada kubis. Kalau snack juga tidak boleh ketan, buah-buah yang nggak boleh seperti nangka dan durian. Gas itu menghabiskan tenaga. Kalau minum juga air mineral saja jangan manis. Soalnya gula membuat konsentrasi darah ke pencernaan bukan untuk kerja, terangnya.

Selain Supriyadi, sosok lain yang juga punya pengaruh dalam fisik PSIS adalah almarhum Sumitro. Dia cukup andil dalam mengatur hemoglobin pemain. Hemoglobin ini gunanya untuk mengukur stamina dan power pemain.

Fisik PSIS yang terbentuk itu merupakan hasil dari 3 program, latihan fisik, hemoglobin dan gizi, imbuhnya.

Setelah dari PSIS, Supriyadi banyak malang-melintang di beberapa klub sebagai pelatih fisik. Sebut saja BPD Jateng, Gajah Mungkur Muria Tama, Persiku Kudus, Persik Kendal dan Semarang United. Selain itu dia juga melatih di cabang olahraga yang lain seperti tinju, sepatu roda, voli dan karate.

Kendati demikian, selama menjadi pelatih fisik di sepak bola Supriyadi punya keresahan kecil. Bahwa dalam sepak bola baik di masa lampau maupun saat ini, pelatih fisik masih dipandang sebelah mata atau hanya pelengkap dalam tim.

Padahal yang mengasah kemampuan pemain di lapangan itu ya pelatih fisik. Kalau pelatih kepala kan cuma atur strategi dan pasang pemain, pungkasnya.

Artikel Asli