Ekonomi Paling Terdampak PPKM Darurat

radarjogja | Nasional | Published at 13/07/2021 10:17
Ekonomi Paling Terdampak PPKM Darurat

RADAR JOGJA Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat berdampak negatif pada ekonomi masyarakat secara makro dan mikro. PPKM darurat yang berjalan selama sepuluh hari ini, menyebabkan kontraksi ekonomi di kalangan bawah.

Hal ini dirasakan oleh Rosyid, 53, warga pendatang asal Trenggalek, Jawa Timur yang bermukim di Sleman. Pedagang makanan ini merasa terpukul lantaran sepinya pembeli semenjak diberlakukan PPKM darurat. Tidak diperbolehkannya makan di lokasi, menjadi penyebab utama warungnya kukut. Pembatasan jualan yang hanya bisa dilakukantake away,membuatnya kalang kabut mengikuti metode saat ini. Terlebih bagi dia yang memiliki SDM tak mumpuni. Meski promosi dari mulut ke mulut terus dia lakukan.

Dulu jualan cilok, keliling sekolah ke sekolah. Sekolah libur ganti jualan pecel keliling, mangkal di tempat keramaian hingga sewa warung, tapi ini mau habis kontraknya (warung, red), ungkap dia, kemarin (12/7). Entah bagaimana menghadapi situasi ke depannya, dia tetap berjualan seperti biasa dengan tetap taat peraturan pemerintah. Kalau penurunannya tajam jika sehari dagangan abis bisa dapat Rp 200-an ribu. Kini Rp 50 ribu aja sudah syukur, lanjutnya.

Hal senada juga di rasakan Sukinah,56, pedagang sayur di wilayah Mlati. Meski sayuran menjadi kebutuhan urgent rumah tangga, namun adanya PPKM darurat juga turut terdampak. Berkurangnya mobilitas warga dan warung makan banyak yang memilih tutup, menyebabkan menurunnya pembeli.

Menanggapi hal ini Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Maruf mengatakan, kondisi saat ini kontraksi ekonomi secara mikro dirasakan masyarakat langsung. Bahkan PPKM darurat ini mendistorsi perekonomian skala makro level daerah hingga nasional. Dampak yang terjadi di masyarakat menyebabkan kegiatan produktivitas produksi dan distribusi terganggu. Misalnya pelaku usaha makanan dan minuman. Ditutupnya pariwisata di DIJ, ditambah dengan pendidikan yang masih berjalan daring, meredupkan sektor sekitarnya. Meski saat ini perilaku usaha dan model berjualan turut berubah. Namun, pertumbuhan ekonomi akan sangat lamban. Ada tiga sektor yang tidak berdampak. Yaitu sektor pertanian tumbuh lamban, kesehatan dan komunikasi tumbuh cepat, ujarnya.

Jadi kuncinya, pemulihan ekonomi bukan intervensi modal, training, seminar dan sosialisasi. Recovery-nya hanya satu, butuh yang namanya partisipasi, caranya masyarakat taat pada PPKM Darurat, imbuhnya. (mel/bah)

Artikel Asli