Wakil Ketua DPR Simulasi Gedung DPR Jadi RS Darurat Corona Ranjang Nggak Masuk Lift, Kamar Mandi Cuma Sedikit

rm.id | Nasional | Published at 13/07/2021 07:35
Wakil Ketua DPR Simulasi Gedung DPR Jadi RS Darurat Corona Ranjang Nggak Masuk Lift, Kamar Mandi Cuma Sedikit

Desakan agar Gedung DPR dijadikan Rumah Sakit Darurat Covid-19 ramai disuarakan warga di dunia maya dan dunia nyata. Untuk menjawab hal itu, Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad memilih tak mau banyak berwacana. Ketua Harian DPP Partai Gerindra itu, memilih melakukan simulasi langsung. Dia membawa satu bed ranjang pasien ke Gedung DPR. Dia cek ruangan per ruangan. Sampai ke toilet-toiletnya. Setelah simulasi ini, apakah Gedung DPR layak jadi RS Darurat? Ini faktanya:

Simulasi ini dilakukan kemarin siang. Dasco tidak sendirian. Dia didampingi Sekjen DPR, Indra Iskandar dan anggota pengamanan dalam (pamdal).

Dasco yang mengenakan setelan kemeja lengan panjang putih dan celana hitam itu, melakukan simulasi di beberapa titik. Salah satunya, Ruang Rapat Paripurna DPR yang berada di lantai tiga Gedung Nusantara II. Lokasi ini diusulkan menjadi bangsal atau ruang perawatan.

Namun, berdasarkan hasil simulasi, ruangan tersebut terkendala akses. Sebab, ranjang pasien yang sudah dibawanya itu, tidak bisa dimasukkan ke dalam lift. Kondisi Ruang Paripurna yang tak rata dan cenderung menurun, sulit juga bagi ranjang pasien itu dibawa dengan nyaman.

Sehingga agak kesulitan kita menaruh tempat tidur, karena Ruang Rapat Paripurna yang kalau dipakai untuk bangsal itu, tidak rata, kata Dasco.

Kemudian, Koordinator Satgas Lawan Covid 19 DPR itu, bersama rombongan melanjutkan ke titik selanjutnya. Kali ini, ke Gedung Nusantara I, tempat berkantornya para anggota DPR. Gedung itu terdiri dari 23 lantai. Setiap lantai memiliki 30 ruangan.

Gedung ini juga tidak bisa dijadikan RS Darurat. Kendalanya sama seperti di Gedung Nusantara II. Tempat tidur yang tidak masuk lift. Jangankan masuk ke lift, akses menuju lift saja, ranjang itu harus digotong pamdal.

Lalu, Dasco memperlihatkan ruang salah satu anggota DPR. Kedatangan Dasco dkk disambut kursi tamu dan meja kantor yang tata letaknya berdekatan. Meski bisa masuk dua sampai tiga tempat tidur, tapi ruangan ini tampak sesak. Karena ukuran ruangannya cuma 30 meter per segi.

Bisa masuk ranjang tapi harus di bongkar total dulu, karena banyak perlengkapan, imbuh legislator yang berlatar belakang advokat itu.

Kendalanya bukan cuma itu. Ada kendala yang lebih genting. Yaitu, ketersediaan kamar mandi. Menurut Dasco, kamar mandi Komplek DPR sedikit. Ukurannya kecil. Airnya pun kerap mati. Dari 30 ruangan dengan kapasitas 60 sampai 90 orang, hanya ada enam kamar mandi, ungkap Dasco.

Masih ada lagi, yaitu tidak ditemukannya tempat yang cocok untuk dijadikan tempat pembuangan sampah alat kesehatan. Kalau dibongkar (30 ruangan) tentu memakan waktu yang cukup lama, ucap Dasco.

Kemudian, Dasco melanjutkan ke lapangan bola di depan Nusantara I. Menurut dia, tempat ini memungkinkan bisa digunakan untuk RS Darurat Corona. Caranya, bikin tenda-tenda darurat, tapi tidak bisa dibikin pertingkat. Setelah itu, tinggal pikirkan penyediaan kamar mandi.

Kalau Kementerian Kesehatan membutuhkan dan mau menggunakan lapangan di depan Nusantara I menjadi RS Darurat Corona, maka harus memikirkan apakah efisien dan efektif atau tidak dengan kondisi yang ada, tuturnya.

Kalau mau lebih cepat, Dasco mengusulkan, area sekitar gedung DPR. Di titik itu, masih banyak tempat yang bisa digunakan sebagai RS darurat Corona. Seperti Istora Senayan dan beberapa Gedung di sekitar kompleks parlemen, ujarnya.

Begitulah simulasi yang dilakukan Dasco. Kesimpulan dari simulasi itu, memang agak susah kalau Gedung DPR dijadikan RS Darurat Corona. Mungkin bisa saja kalau mau dipaksakan, tapi harus banyak yang harus di renovasi, dan itu butuh waktu yang tak sedikit. Yang paling memungkinkan ya di lapangan bola atau lapangan parkir, tapi yaitu, seperti disampaikan Dasco, perlu dipikirkan hal lain, seperti kamar mandinya.

Bagaimana Anggota DPR lain menyikapi hal ini. Masih terbelah. Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera setuju usulan Gedung DPR dijadikan RS darurat. Menurutnya, kompleks parlemen adalah tempat strategis dan luas. Selain itu, mencerminan anggota dewan peduli dengan rakyat. Setuju. Semua sumber daya, punya tempat strategis, luas dan mudah dijangkau, katanya.

Sementara, Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPR Saleh Partaonan Daulay menolak usulan Gedung DPR dijadikan RS darurat penanganan Corona. Dia beralasan, menjadikan Gedung DPR sebagai RS darurat, akan memakan waktu untuk mengangkut alat kesehatan. Iya, alat kesehatannya kan susah, tegasnya.

Sekjen DPR, Indra Iskandar mengatakan, halaman gedung DPR bisa digunakan untuk rumah sakit darurat. Hanya saja, pihak Setjen DPR menunggu pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menyampaikan keinginan tersebut. [UMM]

Artikel Asli