Facebook-Twitter Siap Perangi Rasisme pada Pemain Inggris

republika | Nasional | Published at 13/07/2021 07:38
Facebook-Twitter Siap Perangi Rasisme pada Pemain Inggris

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Facebook dan Twitter menyatakan akan berusaha keras menghapus komentar rasis yang ditujukan kepada anggota tim nasional sepak bola Inggris menyusul kekalahan menyesakkan dalam final Euro 2020. Dua raksasa media sosial Amerika Serikat (AS) itu berikrar menghapus konten rasis dan kebencian yang telah memicu kecaman dari para pemimpin politik Inggris.

Langkah itu muncul setelah ada rangkaian pesan kasar di Twitter dan Instagram yang dimiliki Facebook yang ditujukan kepada Marcus Rashford, Jadon Sancho, dan Bukayo Saka, tiga pemain yang gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti melawan Italia tersebut.

"Pelecehan rasis menjijikkan yang diarahkan pada pemain Inggris tadi malam itu sama sekali tidak memiliki tempat di Twitter," kata juru bicara layanan pesan singkat yang berbasis di San Francisco tersebut seperti dikutip AFP , Selasa (13/7).

Dalam 24 jam terakhir, lewat gabungan otomatisasi berbasis machine learning dan tinjauan oleh manusia, Twitter segera menghapus lebih dari 1.000 cuitan dan secara permanen membekukan sejumlah akun karena melanggar atura. "Sebagian besar di antaranya kami deteksi sendiri secara proaktif dengan memanfaatkan teknologi."

Sebelumnya Facebook mengaku seketika menghapus komentar dan akun yang menyasar pelecehan kepada pemain sepak bola Inggris tadi malam dan akan terus mengambil tindakan terhadap yang melanggar aturan.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan para pemimpin lainnya mengaku kecewa atas penyalahgunaan online. Menteri Kebudayaan Inggris Oliver Dowden mencuit, "Saya marah atas pelecehan rasis mengerikan terhadap pemain-pemain heroik kami." sembari memperingatkan layanan-layanan online.

"Perusahaan-perusahaan media sosial mesti meningkatkan langkah mereka dalam mengatasi hal ini dan, jika mereka gagal, RUU Keamanan Online kami yang baru akan meminta pertanggungjawaban mereka dengan denda sampai 10 persen dari pendapatan global," tulis Dowden.

Artikel Asli