Dokter Lois dan Pelanggaran Pejabat

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 13/07/2021 06:55
Dokter Lois dan  Pelanggaran Pejabat

Pemerintah telah berusaha keras untuk sosialisasi bahwa virus korona (Covid-19) sungguh nyata adanya. Hal itu terus dilakukan untuk menjelaskan bahayanya virus tersebut. Akan tetapi masih begitu banyak masyarakat di daerah-daerah yang tidak acuh, tidak mau mengenakan masker. Alasannya, mereka tidak percaya adanya Covid-19.

"Saya lebih takut kepada Tuhan. Mengapa harus takut Covid-19. Takut itu ya kepada Tuhan. Saya percaya Tuhan akan melindungi umat-Nya," begitu pernah terdengar suara orang yang enggan mengenakan masker. Dia lupa bahwa Tuhan tidak akan menghargai orang yang tidak menghargai nyawa sendiri dengan tidak memakai masker. Dia tidak tahu bahwa Tuhan hanya membantu orang yang membantu diri sendiri.

Itu masyarakat yang mungkin tidak terlalu berpendidikan. Hal itu dianggap "wajar" dan harus dijelaskan terus-menerus. Namun, sungguh membuat geleng-geleng kepala bahwa ketidakpercayaan itu diyakini oleh seorang tenaga kesehatan, dokter lagi. Itulah yang terjadi pada dokter Lois Owien. Dokter yang tengah ditangani Polri ini tidak percaya adanya Covid-19.

Parahnya keyakinan tersebut di- posting di media sosial, sehingga sangat berbahaya karena dibaca banyak orang, apalagi dia seorang dokter. Di antaranya adalah postingannya, kira-kira mengatakan, "Korban yang selama ini meninggal karena Covid-19, melainkan karena adanya interaksi antarobat dan pemberian obat berlebihan." Hal itu muncul dalam sebuah acara bincang-bincang.

Menurutnya, obat-obatan yang digunakan untuk pasien Covid-19 telah menimbulkan komplikasi dalam tubuh pasien. Pemberian obatnya lebih dari enam macam. Unggahan atau postingan dokter Lois tentu sangat meresahkan dan dapat membuat kegaduhan karena memang masih banyak yang tidak percaya adanya Covid-19. Selain itu, sebagai tenaga medis seharusnya tidak mengeluarkan pernyataan yang amat bertentangan dengan fakta tersebut. Sebab seluruh dunia dihantui merebaknya virus korona.

Kasus lain yang juga melawan Satgas Covid adalah perbuatan atau acara yang dilakukan para pejabat. Banyak pejabat yang berperilaku tidak protokol kesehatan (prokes). Itu terjadi mulai dari lurah, camat, sampai wakil bupati atau bupati. Terbukti diskorsing adalah Wakil Bupati Lampung Tengah, Ardito Wijaya, yang berjoget tanpa masker dan tanpa jaga jarak. Tentu dia bukan teladan. Pejabat mestinya menjadi teladan prokes.

Masih banyak lagi pejabat seperti itu. Terakhir diperlihatkan Bupati Pandeglang, Irna Narulita, yang viral meresmikan kampung tangguh dengan kerumunan. Bahkan dua penari yang tampil dibiarkan sama sekali tidak mengenakan masker. Kerumunan lebih dari 100 orang. Meski jelas-jelas terlihat di televisi, masih saja dia ngeles .

Ke depan pejabat yang lebih tinggi mesti menindak dan menghukum pejabat di bawahannya yang melanggar prokes. Karena hal itu akan ditiru masyarakat. Pejabat harus bisa memberi teladan.

Artikel Asli