Kenapa Dr Lois?

rm.id | Nasional | Published at 13/07/2021 06:54
Kenapa Dr Lois?

Kenapa ada yang percaya pendapat dr Lois?

Karena terpapar teori konspirasi? Kurangnya informasi dan literasi? Atau, justru kebanyakan informasi? Atau, ada faktor merosotnya trust terhadap para elite politik? Atau, karena apa?

Bahwa ada teori konspirasi, misalnya, Covid-19 sengaja dibuat, atau virus yang bocor dari laboratorium biologi, atau bagian dari perang biologi; memang, teori atau anggapan itu ada.

Pemerintah Amerika Serikat pun, memiliki kecenderungan mengedepankan teori itu. Apalagi Donald Trump, sangat mempercayainya. Sehingga, AS terus mendesak China untuk lebih terbuka.

Tapi, bahwa Covid-19 sudah menyebar, menular, mengancam dan menyebabkan banyak korban, jelas ada. Tiap hari kita mendengar pengumuman dari masjid, ambulans meraung-meraung, ucapan duka di media sosial atau mendengarnya langsung. Meninggal karena Covid.

Kita juga menyaksikan rumah sakit penuh. Buka media sosial, bukan ucapan selamat ulang tahun yang muncul, tapi innalillahi . Ucapan duka cita. Itu fakta. Karena Covid-19. Atau, ada komorbid, penyakit penyertanya.

Urusan dari mana asal-muasalnya Covid-19, siapa yang menjadi pasien nomor 0, itu soal lain. Bahwa Covid-19 ada di sekitar kita, terbang berkeliaran tak jelas arahnya, membuat orang kehilangan penciuman, hilang rasa, sesak nafas, batuk, pilek dan sebagainya, bahkan sampai meninggal dunia, memang ada. Fakta.

Dokter Lois membantah itu. Covid-19 tidak ada, kata lulusan UKI Jakarta ini. Kalau ada yang meninggal, itu karena interaksi dari banyak obat yang diminum. Bukan karena Covid-19.

Sekarang dr Lois sudah ditahan polisi. Tapi, yang meyakini pendapatnya yang sangat tidak popular itu, tak berkurang. Tak tertahan. Kenapa?

Itu pertanyaan menarik. Bisa jadi, teori konspirasi menguat karena banyak info yang membingungkan. Banjir informasi. Infodemik. Jalan pintasnya: teori konspirasi. Gampang. Menarik. Seksi.

Sekarang pun, epidemiolog bisa terbelah. Orang-orang kesehatan juga punya pendapat bermacam-macam. Para pembuat kebijakan, juga terkadang melahirkan policy dan pendapat yang anomali. Sering membingungkan. Teori konspirasi pun masuk.

Bisa jadi, ada juga latar belakang ideologis atau sikap politik yang mendasari berkembangnya teori konspirasi. Soal trust, misalnya.

Yang pasti, Covid-19 adalah virus buta. Dia tidak melihat anda milih siapa saat pilkada atau pilpres. Anda orang yang anti-pemerintah atau anti-oposisi. Dia tak peduli.

Tiba-tiba saja dia menyelinap. Keluarga sibuk. Pontang-panting cari bantuan, rumah sakit dan obat. Tak ada lagi diskusi darimana asal muasal virus ini, tak bisa lagi protes, wahai virus, aku tidak mengakui kamu. Tak bisa.

Dia tak mau kompromi. Kita hanya berusaha menghindar. Berupaya mencegah. Dengan segala macam daya, upaya dan cara. Apa pun.

Di tengah masa sulit ini, limpahan doa untuk yang sekarang masih positif, semoga cepat sembuh. Duka mendalam untuk yang berjuang sampai titik terakhir. Dimana pun. Juga untuk Shahih Qardhavi, rekan yang berpulang, Sabtu, 10 Juli 2021.(*)

Artikel Asli