Pasien RS Jabar Mulai Menurun

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 13/07/2021 06:24
Pasien RS Jabar Mulai Menurun

JAKARTA - Tingkat pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit. Hal itu identik dengan mulai menurunnya keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) RS di Jawa Barat. Penurunannya baru 2,4 persen dari sekitar 90 persen. Demikian disampaikan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dalam Konferensi Pers: Kolapsnya Fasilitas Kesehatan dan Kematian Pasien Isolasi Mandiri, di Jakarta, Senin (7/12).

Menurutnya, BOR kemarin turun hampir 3 persen. Dalam pandangannya, itu lumayan. Bahkan turun satu persen saja lumayan daripada naik terus. "Jadi, tanggal 11 Juli sudah turun ke 87,6 persen dari 90 persen," ujar Kang Emil. Meski ada penurunan, dia belum berani menyimpulkan strategi Provinsi Jawa Barat dalam menangani Covid-19 sudah berhasil. Dia berharap target Jawa Barat untuk mengurangi BOR RS dapat mencapai kondisi sebelum Idul Fitri, di bawah 30 persen. "Itu hal terbaik yang bisa kita dapatkan.

Tapi varian delta luar biasa. Sebelum Idul Fitri, remaja yang terserang Covid- 19 sedikit. Tapi sekarang remaja semakin banyak yang tertular," jelasnya. Isolasi Mandiri Lebih jauh, orang yang dipanggil Kang Emil itu menerangkan, strategi Jawa Barat untuk mengurangi BOR RS dengan meminimalkan pasien Covid-19 agar RS tidak kolaps. Strategi pertama, menaikkan batas persentase tempat tidur untuk pasien Covid-19 menjadi 60 persen. Di Jabar ada 54.000 tempat tidur yang tersedia. Strategi kedua, menahan warga tidak ke RS, terutama pasien gejala ringan. Mereka ini diharapkan untuk isolasi mandiri di rumah maupun tempat isolasi. Ketiga, memindahkan pasien Covid-19 yang akan sembuh dari RS ke pusat pemulihan seperti hotel atau apartemen yang disewa pemerintah daerah.

"Saya berhentikan 11 proyek infrastruktur senilai 140 miliar rupiah. Dana ini dialihkan untuk obat bagi pasien isoman secara gratis," tandas Gubernur.

Untuk mendapatkannya, bisa mendaftar menggunakan aplikasi online. Masyarakat yang tidak punya HP atau kuota, akan didaftarkan oleh RT/ RW. Jadi, semua terjangkau. Sementar itu, Founder Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Senior Advisor Gender and Youth WHO, Diah Saminarsih, mengingatkan, tidak sedikit kasus kematian pasien Covid-19 terutama pada lansia. Hal tersebut karena pengetesan dan pelacakan yang menurun. Ada yang terlambat datang ke fasilitas kesehatan dan rumah sakit penuh. Kemudian, minimnya kemampuan Puskesmas memberi pertolongan.

"Puskesmas tidak mampu menolong. Puskesmas juga memiliki keterbatasan tenaga, tempat, dan perlengkapan seperti tabung oksigen," katanya. Sedang Co-Inisiator Lapor Covid- 19, Ahmad Arif, mengatakan, pihaknya mencatat ada 451 pasien Covid-19 meninggal saat menjalani isolasi mandiri. Kematian terbanyak terjadi di Jawa Barat, 160 kasus. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan fenomena gunung es sebab tidak semua kematian diberitakan dan dilaporkan.

"Maka, pendataan, pemantauan, dan dukungan bagi pasien isoman sangat penting. Mereka harus didukung secara sosial ekonomi dan medis," tutur Ahmad Arif. Di sisi lain, penting juga edukasi bagi pasien yang menjalani isoman serta memperkuat prerumah sakit seperti dengan mengoptimalkan konsultasi daring. n ruf/G-1

Artikel Asli