Bantah Adanya Pengurangan dan Penambahan Data Covid-19, Ini Penjelasan Kadinkes Sulsel

Nasional | bukamatanews | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 13:46
Bantah Adanya Pengurangan dan Penambahan Data Covid-19, Ini Penjelasan Kadinkes Sulsel

MAKASSAR, BUKAMATA -Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, dr. Ichsan Mustari menegaskan tidak ada pengurangan atau penambahan Data Covid-19 Sulsel. Itu terkait tudingan adanya selisih data laporan lab dan laporan publikasi Satgas COVID-19 Sulsel.

Menurut dr. Ichsan, hasil pemeriksaan lab yang positif itu ada dua. Yang pertama kali diperiksa dan yang kontrol. Yang kontrol ini ada karena untuk mengetahui pasien tersebut sudah sembuh atau belum itu di hari ke 10 sampai 14. Yang dilakukan untuk dua kali untuk setiap pasien positif.

"Jadi tentu pemeriksaan yang dilakukan itu ada bahkan satu pasien sampai tiga kali kan.Sehingga terkumpullah dalam data itu. Sehingga kelihatan lebih banyak," katanya.

Ia menjelaskan, data pasien positif Covid-19 yang dirilis adalah data hasil pemeriksaan lab yang pertama. Data tersebut yang dirilis satgas Covid-19 Sulsel, tidak diambil langsung dari data dari laboratorium melainkan dari data (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) Litbankes Kementerian Kesehatan menggunakan aplikasi NAR (New AllRecord).

"Kami sekarang dengan sistem yang namanya NAR, kita mengambilnya dari Litbankes hasil pemeriksaan dari atau data yang dikirim oleh laboratorium ke Litbangkes. Jadi kita tidak mengumpulkan lagi data-data hasil dari laboratorium kemudian kita kompilasi kemudian kirim ke pusat. Sekarang laboratoriun langsung ke pusat. Provinsi dapatnya data dari pusat. Jadi sangat berbeda," jelasnya.

Ia menegaskan, tidak ada manipulasi data karena semua berbasis sitem dari pusat hingga daerah.

"Jika disebut ada yang manipulasi data saya kira tidak mungkin. Karena data nasional yang dipakai bukan hanya Sulselkan, tetapi provinsi lain," tegasnya.

Selain itu, dr. Ichsan menjelaskan ada perbedaan data karena waktu rilis berbeda. Pemerintah pusat rilis data setiap jam 1 siang sedangkan hasil pemeriksaan laboratoriam tidak memilik waktu rilis.

"Kedua perbedaan ini bisa terjadi karena waktu rilisnya. Waktu rilis dibuat pusat itu jam 1 siang. Itu yang kita gunakan. Sementara data yang disampaikan oleh Prof Idrus itu adalah data hasil pemeriksaan laboratorium yang bahkan sampai malam. Jadi bisa berbeda nantinya, jadi dua hal yang berbeda di situ," jelasnya.

Ia kembali menegaskan, tidak ada niat Pemprov Sulsel dalam mengurangi atau menambah data Covid-19, Dirilisnya data agar masyarakat mengetahui bahwa pasien bertambah dan berkurang.

"Jadi kalau kita mau sandingkan sebenarnya kita harus melihat by name by address. Akan kelihatan bahwa data itu tidak ada yang dikurangi atau ditambahkan. Saya kira tidak ada niat provinsi dan kabupaten/kota mengurangi angka atau menambah data tersebut. Kami merilisnya lebih bagaimana agar semua kita bisa tahu bahwa pasien bertambah atau berkurang," katanya.

Ia berharapkita mendorong masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan.

"Lebih penting bagi kami sebenarnya bagaimana kita semua saling mendorong dan setiap orang menjalankan protokol kesehatan saya kira itu lebih penting," ungkapnya.

Sebelumnya, dalam percakapan dengan CELEBESMEDIA.ID dan Tribun Timur di Makassar, Prof Idrus mengaku semakin cermat mengamati data laporan laboratorium yang melaksanakan pemeriksaan spesimen, baik hasil tes antigen maupun PCR.

Dia mengaku menemukan adanya selisih yang signifikan antara laporan lab dan laporan publikasi Satgas COVID-19 Sulsel. Laporan Lab kata dia, lebih besar.

Sebagai referensi, laporan yang dapat diketahui masyarakat adalah angka dan data yang dipublikasikan Satgas. Sementara data lab tidak dipublikasi, kecuali kepada lembaga tertentu.

Prof Idrus bilang, menurut data Lab, untuk tanggal 5 Juli 2021 misalnya, positivity rate atau rasio antara yang positif terhadap jumlah sampel yang diperiksa sudah tinggi mencapai 28 persen. Artinya, dari 100 orang yang diperiksa, terdapat 28 kasus positif.

"Dan trennya itu semakin meningkat dari hari ke hari. Ini yang membuat kita harus waspada dan tidak lengah supaya kita bisa mengambil langkah cepat dan terukur jika saja kapasitas rumah sakit tidak lagi mampu menampung pasien. Apalagi sekarang tidak ada lagi Wisata Covid untuk isolasi," ungkapnya.

Artikel Asli