Warga Surabaya yang Isoman di Rumah Dipindah ke RS Lapangan

Nasional | jawapos | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 10:48
Warga Surabaya yang Isoman di Rumah Dipindah ke RS Lapangan

JawaPos.com Sore ini kabeh kudu mari. Malamnya, pasien akan bergiliran diantar masuk ke rumah sakit (RS) lapangan, ucap Wali Kota Eri Cahyadi saat memberikan arahan kepada petugas Selasa (6/7).

Pernyataan yang disampaikan Eri tersebut merupakan bentuk respons cepat pemkot. Sebab, jumlah pasien Covid-19 dalam perawatan di metropolis terus bertambah. Bukti itu terekam pada website lawancovid-19.surabaya.go.id. Dua hari lalu, pasien dalam perawatan berjumlah 750 orang. Saat ini bertambah 30 orang. Totalnya menjadi 780 orang.

Bersama sejumlah petugas, suami Rini Indriyani itu berupaya mempercepat persiapan RS lapangan tersebut agar segera beroperasi. Satu per satu sarana dan prasarana (sarpras) dipenuhi. Di ruang perawatan sebelah utara, ratusan bed dimasukkan. Kemudian, tempat tidur itu ditata. Berjajar dengan rapi. Jaraknya diatur, ujarnya.

Setelah menata bed, Eri menghitung jumlah tempat tidur tersebut. Di bagian atas, ada 150 bed. Sedangkan di bagian bawah, kurang lebih 200 tempat tidur diletakkan. Kalau ditambah ruangan lain, kapasitas mencapai 500 tempat tidur, paparnya.

Ketersediaan 500 bed itu sejatinya sudah terbilang besar. Namun, Eri menyiapkan solusi lain. Tujuannya, ketika ada lonjakan tinggi kasus korona, seluruh pasien bisa tertampung di tempat itu.

Dari telaah, ada sejumlah ruangan yang bisa dioptimalkan untuk menampung tambahan pasien. Saya berharap tidak ada lonjakan. Kalau ada tambahan pasien, kami fungsikan lorong sebagai ruang perawatan, terangnya.

Langkah lain ialah menyiapkan tenaga kesehatan (nakes). Dari perhitungan, RS lapangan tersebut membutuhkan dokter dan perawat dalam jumlah besar. Yakni, 50 nakes.

Nakes yang ditugaskan tersebut berasal dari sejumlah fasilitas kesehatan (faskes). Yakni, seluruh puskesmas serta rumah sakit milik pemkot. Di antaranya, perawat dari RSUD dr M. Soewandhie.

Sejumlah fasilitas lain juga dilengkapi. Misalnya, kipas angin. Seluruh ruangan diberi kipas angin. Tujuannya, sirkulasi ruangan tetap terjaga dan ruangan tetap segar.

Kabid Bangunan Gedung Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Iman Krestian Maharhandono menjelaskan, kebutuhan utama RS darurat itu sudah terpenuhi. Misalnya, air dan listrik. Semuanya lengkap, jelasnya.

Selain itu, pihaknya membagi tempat tersebut menjadi dua wilayah. Yaitu, zona merah dan hijau. Zona merah disiapkan bagi pasien. Zona hijau diperuntukkan nakes, obat-obatan, serta logistik.

Fasilitas lain diperuntukkan bagi pasien OTG. Warga yang tidak memiliki gejala ditempatkan di lantai 2. Setiap hari warga bisa berjemur di rooftop, papar Iman.

Pasien yang menjalani perawatan di RS lapangan bakal mendapatkan penanganan prima. Setiap jam, perawat memantau kondisi warga. Jika ada keluhan, pasien langsung ditangani. Sebab, pemkot juga menyediakan ruang IGD.

Asupan makanan bergizi juga disediakan. Setiap hari pasien mendapatkan vitamin dan asupan penuh protein. Tujuannya, tubuh secepatnya pulih.

Lebih lanjut, Eri mengatakan, rencananya pasien mulai masuk RS lapangan tadi malam. Pemkot bakal mengajak seluruh warga yang isolasi mandiri di rumah untuk menjalani perawatan di tempat tersebut.

Nah, bagi warga yang hendak masuk atau pasien baru, pengurus RT/RW bakal membantu. Mereka memberikan informasi ke puskesmas. Selanjutnya, puskesmas membuat rujukan. Langsung kami jemput, ucap alumnus ITS itu.

PERAWATAN DI RS LAPANGAN KEDUNG COWEK

Total 500 bed disiapkan.

Lantai atap atau rooftop dijadikan sebagai tempat berjemur.

Pemkot menyiapkan sekitar 50 tenaga kesehatan (nakes) dari puskesmas dan rumah sakit milik pemkot.

Setiap jam, nakes mengecek kondisi pasien.

Asupan gizi dan vitamin dipenuhi.

Pasien yang menjalani isoman di rumah akan ditarik ke RS lapangan.

Artikel Asli