Stok Oksigen Cukup untuk 50 Ribu Kasus Per Hari

Nasional | jawapos | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 10:36
Stok Oksigen Cukup untuk 50 Ribu Kasus Per Hari

Warna Zonasi Daerah Diganti Angka Positivity Rate

JawaPos.com Pemerintah mempersiapkan skenario terburuk jika pertambahan kasus harian Covid-19 mencapai 40 ribu hingga di atas 50 ribu per hari. Persiapan tersebut berupa suplai oksigen, obat-obatan, hingga kapasitas tempat tidur.

Hingga kemarin (6/7), pertambahan kasus positif harian Covid-19 memang menunjukkan tren yang mencemaskan. Selama dua hari berturut-turut kurva kasus memecahkan rekor pertambahan tertinggi.

Kemarin data satgas Covid-19 mencatat 31.189 kasus baru. Lebih tinggi dari sehari sebelumnya yang bertambah 29.745 kasus baru.

Angka kematian juga terus meningkat. Hanya dalam tempo satu minggu, kasus kematian meningkat dari 200-an per hari menjadi di atas 500 per hari. Bahkan, kasus kematian kemarin mencatat rekor tertinggi, yakni 728 orang meninggal.

Koordinator PPKM Darurat Jawa-Bali Menko Luhut Binsar Panjaitan mengungkapkan, pemerintah telah membuat skenario jika pertambahan kasus positif mencapai 40 ribu per hari. Kita sudah hitung worst case scenario. Bagaimana suplai oksigen, obat, (tempat tidur, Red) RS, semua sudah kami hitung. Saya kira Menkes sudah mempersiapkan seperti ICU, kemudian misalnya RS Asrama Haji di Pondok Gede, papar Luhut kemarin (6/7).

Luhut menyebut, dalam dua hari ke depan, RS Darurat Asrama Haji Pondok Gede siap menampung lebih dari 800 pasien. Ada juga dukungan dari TNI-Polri yang mendirikan rumah sakit-rumah sakit darurat. Baik itu di Jakarta maupun Surabaya.

Semua kekuatan sedang kita kerahkan. Jangan sampai ada yang underestimate bahwa Indonesia ini tidak bisa mengatasi semuanya. Setidaknya sampai hari ini, kata Luhut.

Meski kemudian, kata Luhut, bisa jadi kenaikan kasus positif melebihi 50 ribu per hari. Pemerintah akan beradaptasi dengan membuat skenario. Nanti siapa yang akan kita mintai tolong sudah mulai kita approach, jelasnya.

Sejauh ini, kata Luhut, persediaan oksigen bisa untuk mendukung hingga 50 ribu kasus per hari. Mungkin paling jelek sampai 60 hingga 70 ribu kasus per hari. Tapi, kita semua tidak berharap itu terjadi. TNI-Polri sudah melakukan penyekatan yang cukup baik, katanya.

Untuk bisa menurunkan kasus, Luhut menyebut perlunya penurunan mobilitas 30 hingga 50 persen. Sebanyak 30 persen sebenarnya cukup efektif. Namun, menghadapi varian Delta yang lebih cepat menular, penurunan mobilitas harus mencapai 50 persen. Saya harap pencapaian penurunan mobilitas harus minimal 30 persen. Kalau bisa 50 persen. Kalau minggu ini sudah bisa. Maka, minggu depan kita berharap kasus sudah flattening , baru kemudian menurun, katanya.

Luhut menjelaskan, terjadi penurunan mobilitas warga di seluruh kabupaten/kota di Jateng. Berdasar urutan teratas, ada Banjarnegara, Kudus, Purbalingga, Boyolali, Banyumas, dan Grobogan. Mobilitas warga tersebut dipantau melalui Google traffic, night light NASA, dan Facebook mobility. Kalau makin lama penurunannya, makin lama pula ini terjadi dan makin payah ekonomi kita. Presiden memerintahkan jangan lama-lama mengenai masalah ini, jelas Luhut.

Dia melanjutkan, memang sebelumnya sempat terjadi kekurangan suplai oksigen. Namun, dalam 23 hari terakhir, semua persediaan oksigen sudah dimobilisasi dari berbagai arah. Ada dari Morowali 21 isotank sudah sampai kemarin ke Jakarta dan hari ini didistribusikan, katanya.

Kemudian, suplai oksigen didatangkan dari Cilegon dan Batam. Luhut mengatakan, perhitungan suplai oksigen melihat kondisi dua minggu ke depan. Sementara itu, kita harapkan oksigen ini murni menolong orang yang diisolasi dan dirawat intensif, sedangkan yang ringan kan kita gunakan oksigen konsentrator, katanya. Konsentrator bekerja dengan mengambil udara biasa untuk kemudian diproses dan bisa dihirup. Kita pesan 10 ribu dan sebagian sudah datang dengan pesawat Hercules dari Singapura. Akan ambil juga dari tempat lain kalau masih kekurangan, kata Luhut.

Tracing dan Testing

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menuturkan, daerah-daerah saat ini berebut nilai agar terlihat baik. Dengan kata lain, tidak berzona oranye atau merah. Caranya, tidak membuka hasil testing di wilayahnya. Kita tidak akan melihat (zona) merah, kuning, hijaunya berdasarkan kasus konfirmasi lagi, tapi berbasis positivity rate, katanya.

Budi menambahkan, pihaknya juga terus mengantisipasi penularan varian Delta. Kemenkes mencoba menelaah provinsi mana saja yang berpotensi terjadinya lonjakan kasus akibat varian Delta itu. Ada lima provinsi di Sumatera dan dua provinsi di Kalimantan yang harus hati-hati, katanya. Budi menyebutkan, provinsi tersebut, antara lain, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono seide dengan rencana Kemenkes untuk mengubah zonasi penularan Covid-19. Menurut saya, riil data (Covid-19, Red) harus terukur. Berapa contact tracing itu yang menjadi kinerja kabupaten atau kota, katanya tadi malam.

Yunis setuju bahwa daerah tidak perlu diwarnai lagi. Selama ini pewarnaan tersebut diukur dari sepuluh indikator. Perinciannya, 5 indikator dari aspek epidemiologi, 3 indikator dari aspek surveilans, dan 2 indikator dari aspek pelayanan kesehatan.

Dengan dihapusnya sistem zonasi yang berlaku selama ini, pemda bisa berfokus untuk meningkatkan tracing . Selama ini tracing pemda di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, masih rendah. Hanya DKI Jakarta yang tingkat tracing -nya relatif tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainnya.

Melalui sistem baru nanti, bisa terlihat pemda-pemda mana yang tracing -nya di atas rata-rata nasional. Juga bisa diketahui pemda mana saja yang tracing -nya di bawah rata-rata nasional. Dia mengakui, sampai saat ini tracing yang relatif tinggi baru di DKI Jakarta. Yunis menuturkan, dengan skema baru nanti, pemda digenjot untuk meningkatkan kapasitas tracing. Terlepas dari berapa banyak kasus positif baru yang muncul. Karena itu memang realitas, tuturnya.

Sesuai pedoman WHO, tracing dilakukan kepada 20 sampai 30 orang yang kontak erat dengan satu kasus positif Covid-19. Sementara itu, saat ini tracing di Indonesia rata-rata masih lima sampai delapan orang kontak erat. Menurut Yunis, ada sejumlah kendala ketika nanti tracing ditingkatkan. Yaitu, kendala SDM dan biaya. SDM-nya tidak ada. Kalaupun ada, duit untuk membayarnya tidak ada, katanya.

Karena itu, sampai saat ini ujung tombak tracing adalah pengurus RT, RW, serta bhabinkamtibmas. Padahal, mereka memiliki pekerjaan sendiri. Idealnya, tracing dilakukan petugas tracer yang kompeten. Di antaranya, mereka yang memiliki keahlian di bidang kesehatan masyarakat. Dengan demikian, kontak penelusurannya bisa dijalankan dengan optimal.

Artikel Asli