Sleman Bobok Gasik, PJU Dipadamkan

Nasional | radarjogja | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 09:34
Sleman Bobok Gasik, PJU Dipadamkan

RADAR JOGJA Pelaksanaan PPKM Darurat di Kabupaten Sleman dinilai masih belum optimal. Kerumunan masih dijumpai di beberapa sudut, terutama saat malam hari. Untuk mencegah terjadinya kerumunan, Bupati Kustini Sri Purnomo menginstruksikan pemadaman lampu reklame dan penerangan jalan umum (PJU). Instruksi ini dalam rangka memaksimalkan pelaksanaan Instruksi Nomor 17/Instr/2021 tentang pemberlakuan PPKM Darurat.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman Arip Pramana mengatakan, pemadaman PJU dimulai tadi malam (6/7). Sekitar pukul 20.00, lampu mulai dipadamkan. Sasarannya di tujuh titik jalan milik kabupaten yakni Jalan Gejayan, Seturan, Babarsari, Tajem, Jalan Kaliurang (Jakal), Kompleks Lapangan Denggung dan sepanjang Jalan Monumen Jogja Kembali (Monjali) ke selatan.

Selain mencegah kerumunan, juga mengurangi mobilitas masyarakat. Kami sudah set pukul 20.00-21.00 lampu padam, ujar Arip saat dihubungi Radar Jogja kemarin (6/7).

Untuk menekan mobilitas, sejumlah ruas jalan juga akan ditutup dan dilakukan penyekatan. Yaitu di Jalan Janti, Seturan, Gejayan, dan Jakal. Penyekatan dilakukan mulai pukul 20.00 sampai 05.00. Penyekatan dijaga ketat oleh TNI/Polri hingga 20 Juli. Mereka juga memakai water fire (alat pemadam dari air), kata Arip.

Instruksi bupati ini berdasarkan inisiatif pemkab dalam menekan angka kasus yang terus melonjak selama sebulan terakhir. Pelaksanaannya layaknya di Malioboro. Nah, masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah di malam hari. Kecuali bila ada keperluan mendesak, berkaitan dengan kesehatan. Misalnya saja hendak ke rumah sakit maupun ke apotek. Ini diperbolehkan.

Bupati Kustini mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat kepada sejumlah pemilik reklame yang berada di bawah perizinan Kabupaten Sleman untuk mematikan lampu reklame, 5 Juli hingga 20 Juli.

Pemadaman ini, Kustini meminta agar masyarakat tidak khawatir kemungkinan terjadi tindak kejahatan ataupun kecelakaan. Sebab, pemkab bekerjasama dengan Polres Sleman dan Kodim 0732/Sleman, berkomitmen menjamin keselamatan, keamanan, dan kenyamanan masyarakat, selama kebijakan ini diterapkan.

Kustini dengan tegas meminta masyarakat taat dan patuh terhadap pelaksanaan PPKM Darurat ini. Selain disiplin prokes, juga menekan mobilitas dengan tetap di rumah saja. Kegiatan yang tak mendesak atau kegiatan sekunder dan tersier, ditunda dulu demi tujuan bersama, sesarengan jogo Sleman, ujarnya.

Kebijakan pemadaman ini mendapatkan apresiasi positif dari sejumlah komunitas di Sleman. Bahkan beberapa di antaranya memberikan jargon Sleman bobok gasik atau lebih awal. Jargon ini sangat mengena, terutama di kalangan anak muda yang sering menghabiskan malam dengan nongkrong. Agar di rumah saja, istirahat lebih awal. Istilahe tugas alias turu gasik, katanya.

Ada 77 Selter untuk Isolasi

Di Provinsi DIJ hingga saat ini sudah ada 77 selter yang bisa digunakan untuk menampung orang yang terpapar virus korona. Terutama bagi mereka yang tidak memiliki gejala maupun hanya bergejala ringan.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIJ Endang Patmintarsih menjelaskan, selter itu dikelola oleh berbagai pihak. Mulai pemprov, pemkab dan pemkot, juga ada yang secara khusus dikelola perguruan tinggi. Adapun Dinsos DIJ sendiri memiliki 59 selter isolasi.

Jadi ada beberapa yang mendirikan. Total 77 selter yang kami sudah siapkan bersama, terang Endang kemarin (6/7). Khusus selter yang dikelola Dinsos DIJ, saat ini sudah ada 14 yang digunakan untuk menampung pasien Covid-19.
Kapasitasnya beragam, mulai 20 hingga 60 orang. Total kapasitas ada 211 yang terisi. Yang kosong masih sangat banyak. 1 Juli lalu sudah jalan opersionalnya, tandas Endang.

Selter yang dibangun memanfaatkan aset-aset yang dimiliki daerah. Mulai sekolah, puskesmas, hingga gedung-gedung yang berada di kapanewon dan kalurahan.

Dijelaskan Endang, bagi masyarakat yang terpapar dan tidak bisa menjalani isolasi mandiri di rumah, bisa mendaftar ke selter-selter yang ada. Mereka bisa masuk dengan menunjukkan syarat berupa KTP, surat bukti PCR atau Antigen, kemudian ada rujukan dari fasyenkes terdekat. Dengan catatan ruangan di selter masih tersedia.

Sementara itu, Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengungkapkan, pengelolaan dan pengadaan selter isolasi dilakukan atas kerja sama pemerintah desa, kabupaten/kota, maupun Pemprov DIJ. Sudah dialokasikan sekitar Rp 7 miliar lebih dan sudah selesai pelelangan. Dipergunakan untuk permakanan di selter, ujarnya.

Terkait pasien yang menjalani isolasi mandiri (isoman) di rumah, Aji berharap perangkat desa dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dananya bisa diambil dari kas desa. (mel/kur/laz)

Artikel Asli