Kasus Baru Tembus 31 Ribu, Kasus Kematian 700 Orang, BOR 6 Provinsi Di Jawa 80%, Pasien Sulit Dapat Perawatan Rumah Sakit Kolaps

Nasional | rm.id | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 08:00
Kasus Baru Tembus 31 Ribu, Kasus Kematian 700 Orang, BOR 6 Provinsi Di Jawa 80%, Pasien Sulit Dapat Perawatan Rumah Sakit Kolaps

Corona di Indonesia semakin mengkhawatirkan. PPKM Darurat yang baru berjalan 4 hari pun belum mampu jadi penawarnya. Kemarin, rekor tembus lagi. Kasus baru bertambah 31 ribu. Yang wafat tembus 700-an orang. Sementara tingkat keterisian tempat tidur alias bed occupancy rate (BOR) rumah sakit di enam provinsi di Jawa sudah menyentuh 80 persen. Rumah sakit pun kolaps. Akibatnya, banyak pasien yang tidak mendapatkan perawatan dan meninggal dunia sebelum diobati di rumah sakit.

Kemarin, kasus Corona di Indonesia lagi-lagi mencetak rekor baru. Tertinggi kedua di dunia setelah Rusia. Padahal dua hari sebelumnya, posisi kedua tertinggi kasus harian Corona dunia adalah Brazil dengan catatan 27.783 kasus. Sekarang, Indonesia menggeser Brasil karena kasus barunya mencapai 31 ribu. Belum lagi yang meninggal mencapai 728 orang.

Tingginya lonjakan pasien baru membuat rumah sakit kebingungan menampungnya. Keterisian BOR diperuntukkan pasien lama. Karena semua BOR, baik yang ada di Instalansi Gawat Darurat (IGD) dan Unit Perawatan Intensif (ICU) penuh. Seperti yang terjadi di Jawa Barat, Solo, Jawa Tengah, Yogyakarta, serta Pamekasan dan Surabaya.

Di Bandung, ada dua RS yang menutup pintu bagi pasien Corona: Edelweiss Hospital dan RS Al Islam. IGD Edelweiss Hospital belum dapat menerima pasien baru dengan gangguan pernapasan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Laporan sama datang dari RS Al Islam. Sehubungan dengan tidak tersedianya pasokan oksigen, mereka tidak dapat menerima pasien dengan keluhan sesak nafas.

Di Kabupaten Pangandaran, keterisian BOR di RS rujukan Corona mencapai 95,46 persen, tertinggi di Jabar. Kabupaten Kawarang merupakan wilayah dengan BOR tertinggi kedua dengan persentase 95,14 persen. Posisinya disusul Kota Bandung dan Kota Bekasi dengan masing-masing 95,05 persen dan 94,57 persen.

Kemudian, Kabupaten Sukabumi, Kota Depok, dan Kabupaten Purwakarta memiliki tingkat BOR masing-masing 94,43 persen, 94,26 persen, dan 93,68 persen. Sementara itu, wilayah dengan BOR terendah di Jabar yakni Kabupaten Garut dengan persentase sebesar 77,65 persen.

Artinya, total persentase BOR di Jabar sebesar 90,69 persen. Angka ini telah melebihi standar aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO yang sebesar 60 persen.

Sedangkan BOR di seluruh RS Solo dilaporkan penuh. Sampai 100 persen. Begitu juga di Yogyakarta. Beberapa BOR RS di daerah istimewa itu, mencapai 97 persen. Akibatnya, tak mampu lagi menampung pasien Corona.

Hal serupa terjadi di RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur. Akibat meledaknya penambahan jumlah pasien Corona, BOR penuh. Solusinya tenda dibangun meski sudah terdapat lima ruang isolasi ditambah satu ruang IGD.

Tetangga Madura, Surabaya, juga ada 13 RS-nya yang menutup IGD. Menurut laporan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Jawa Timur, 13 rumah sakit itu ialah Rumah Sakit Islam Ahmad Yani dan Jemursari, RS Royal, RS Wiyung Sejahtera, RS PHC, RS Adi Husada Undaan Wetan dan Kapasari, RS Premier, National Hospital, RS Al-Irsyad, RS Gotong Royong, RS RKZ serta RS William Booth.

Bahkan, rumah sakit milik Pemkot Surabaya, yakni RS Dr Soewandi dan RS BDH juga penuh. RS milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur, RSUD Dr Soetomo dan RS Menur kondisinya juga sama, penuh.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengakui, keterisian BOR sudah sangat tinggi. Untuk enam provinsi di Jawa-Bali, keterisiannya sudah mencapai di atas 80 persen.

Jika dilihat dari data BOR ruang isolasi di rumah sakit rujukan di 34 provinsi, 6 provinsi di Pulau Jawa, telah mencapai lebih dari 80 persen tempat tidur terisi, kata Wiku dalam konferensi persnya, kemarin.

Hal ini tengah dimitigasi di masing-masing pemerintah daerahnya. Salah satunya dengan menambah jumlah fasilitas isolasi terpusat dan meningkatkan fasilitas pemantauan pasien isolasi mandiri.

Masyarakat juga dapat berkontribusi dalam menekan angka BOR di wilayahnya masing-masing. Caranya jika mengalami gejala Corona atau kontak erat dengan pasien positif maka tidak perlu panik.

Segera hubungi Puskesmas setempat untuk segera dilakukan pemeriksaan dan penelusuran kontak, ungkap jubir satgas bergelar profesor itu.

Dia bilang, sembari menunggu hasil pemeriksaan, teruslah berkonsultasi dengan petugas puskesmas agar isolasi mandiri dapat selalu terpantau.

Ingat melapor ke puskesmas sangat membantu dalam pendataan dan pelacakan kontak serta penanganan Corona bisa didapatkan dengan gratis tanpa dipungut biaya apapun, tuturnya.

Hal senada dikatakan Ketua bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19, Alexander Kaliaga Ginting. Menurut dia, saat ini seluruh alat kesehatan telah digunakan pasien. BOR 80-90 persen. Ruang isolasi penuh, ruang ICU, ventilators semua terpakai. Kekurangan oksigen pasien kasus sedang yang dirawat di rumah, ucapnya.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengakui, ada problem di BOR. Makanya kementeriannya meminta RS mempercepat konversi tempat tidur.

Jadi beberapa tempat yang terjadi gelombang kedua sudah konversi banyak lebih dari 50 persen untuk Covid dan tekanannya sudah mulai terasa. Tapi di beberapa daerah seperti Jawa Timur, Bali dan Yogyakarta masih sedikit, papar Menkes.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi menegaskan, pihaknya bakal berupaya sekuat tenaga agar RS tidak kolaps.

Kalau kondisi terus terjadi fasyankes akan kolaps. Tapi kita berusaha untuk memperbaiki terus kondisi ini, ujar Siti saat dihubungi Rakyat Merdeka , kemarin.

Dia menyebut peningkatan kasus karena testing dan tracing ikut meningkat. Supaya segera menemukan yang sakit dan diisolasi, serta mendapat penanganan dini sehingga tidak menjadi sumber penularan, dan tidak jatuh pada kondisi berat, pungkasnya.

Bagaimana tanggapan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Wakil Ketua Umum IDI, Slamet Budiarto mengatakan, seharusnya pemerintah mengumumkan saja jika rumah sakit sudah kolaps. Artinya pasien Corona jauh lebih besar dari tempat tidur yang disediakan.

Menurut dia, hal ini bisa dilihat dari UGD-UGD dan selasar rumah sakit yang penuh oleh pasien Corona.

Tidak perlu malu-malu bilang BOR baru 90 persen. Ini sudah 120 persen. 20 persen di UGD dan 100 persen di dalam rumah sakit. Ini bencana kemanusiaan, ujarnya dalam sebuah kutipan video wawancara yang beredar di media sosial, kemarin.

Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman juga menilai, saat ini RS tidak dalam keadaan baik.

Kalau si rumah sakit sudah nggak bisa beri layanan pada ke publik, misal ada orang dengan kebutuhan untuk dapat oksigen atau penanganan lain itu enggak ada, dan terjadi antrian, itu kolaps, cetusnya. [UMM]

Artikel Asli