Membaca Persiapan Skenario Terburuk

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 07:06
Membaca Persiapan  Skenario Terburuk

Kemarin, Selasa (6/7) angka penularan Covid-19 secara nasional 31.189 dan ini rekor baru. Sejak beberapa hari belakangan terus tercipta rekor. Pertanyaannya, sampai kapan rekor ini akan berhenti? Padahal Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Darurat (PPKMD) sudah berjalan empat hari. Tetapi belum ada tanda-tanda melandai apalagi menurun. Empat hari terakhir terus terjadi rekor baru.

Yang dikhawatirkan beberapa hari ke depan bakal tembus 40.000 kasus baru Covid-19. Itu berarti, menurut pemerintah, kita memasuki situasi terburuk. Beruntungnya, pemerintah menyatakan telah menyiapkan skenario terburuk.

Angka 40.000 adalah batas tembus yang menurut Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan sebagai situasi terburuk, sehingga harus dijalankan skenario terburuk. Hebatnya, Luhut percaya diri mengatakan sudah mempersiapkan skenario terburuk kalau kasus baru Covid-19 mencapai 40.000 perhari.

Benarkah kita atau pemerintah sudah siap dengan skenario terburuk? Menurut Luhut, ya! Lalu bagaimana atau apa yang akan dilakukan kalau terjadi situasi tersebut? Luhut mengatakan, skenario-skenario untuk menghadapi itu sudah dilakukan untuk menyiapkan obat, oksigen, maupun rumah sakit.

Dia juga menyebut sudah berkomunikasi dengan Singapora, Tiongkok, dan sumber-sumber lain.
Pemerintah juga memanfaatkan beragam perangkat teknologi untuk memantau pelaksanaan dan penurunan mobilitas masyarakat selama PPKMD berlangsung.

Sedangkan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk meningkatkan kapasitas sistem kesehatan yang saat ini mengalami over capacity . Penambahan kapasitas itu terutama dilakukan di wilayah DKI Jakarta, 900 tempat tidur dan 50 tempat tidur ICU Covid-19 dengan memanfaatkan Wisma Haji.

Banyak pertanyaan mendadalam tentang persiapan pemerintah menghadapi kondisi terburuk. Apakah kontak-kontak negara tetangga cukup? Namanya minta bantuan, tentu tergantung yang membantu.

Sebab kondisi sekarang pun, di mana angka Covid 'baru' 31.000, sudah kewalahan. Banyak RS kelabakan, tak mampu menampung pasien yang terus membanjir, meski sudah mendirikan tenda-tenda. Oksigen kritis. Tenaga kesehatan kritis karena banyak terpapar Covid dan bahkan menjadi korban meninggal.

Dengan kata lain, persiapan mesti "ekstra-ekstraluar biasa" dibanding sekarang dan itu harus dilakukan hari ini juga! Sebab dari 31.000 ke 40.000 hanya tinggal menghitung hari. Sebab masyarakat benar-benar bebal, ndableg , dan tidak bisa diberitahu untuk memakai masker, di rumah, dan tidak berkerumun.

Semua masih dianggap biasa. Mereka masih keluyuran, tanpa masker, menggunakan masker asal-asalan sekadar syarat. Mereka belum melihat masker sebagai kebutuhan. Kebebalan masyarakat inilah yang membuat Covid-19 terus melonjak-lonjak.

Artikel Asli