Air Purifier HEPA Filter Bantu Cegah Penularan Covid-19

Nasional | limapagi.id | Published at Rabu, 07 Juli 2021 - 06:16
Air Purifier HEPA Filter Bantu Cegah Penularan Covid-19

LIMAPAGI - Pandemi Covid-19 menjadi masalah yang dihadapi oleh banyak negara di dunia. Berbagai cara dilakukan untuk meminimalisir penularan virus corona, mulai dari menggunakan masker hingga mengandalkan teknologi air purifier dengan fitur high efficiency particulate air (HEPA).

Dilansir News-medical, peneliti University of Cincinnati College of Medicine mengatakan bahwa berinvestasi dalam pembersih udara partikulat efisiensi tinggi atau HEPA bukan ide yang buruk.

Beberapa penelitian yang diterbitkan mengevaluasi aerosol dan partikel submikron yang serupa dengan ukuran virion SARS-CoV-2. Pembersih HEPA portabel mampu secara signifikan mengurangi partikel Covid-19 di udara, kata Ahmad Sedaghat, Direktur UC Division of Rhinology, Allergy and Anterior Skull Base Surgery.

Sedaghat mengidentifikasi literatur medis yang menunjukkan studi yang diterbitkan tentang efektivitas pembersih HEPA. Ulasannya tersedia online di jurnal ilmiah American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery Foundation.

Air purifier atau pembersih udara bermanfaat bagi rumah sakit dan kantor dokter tempat prosedur yang menghasilkan aerosol, tetapi juga berguna untuk mengurangi penularan Covid.

Website Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengungkap cara meningkatkan ventilasi dan menyarankan penggunaan sistem penyaring udara HEPA portabel untuk meningkatkan pembersihan udara. Penggunaan alat ini terutama di area berisiko tinggi seperti kantor perawat atau area yang sering dihuni oleh orang-orang dengan kemungkinan lebih tinggi terkena Covid-19.

Sementara website Emw.de mengungkap sebuah studi oleh Universitas Goethe di Frankfurt. Disebutkan bahwa air purifier mobile dengan penyaring udara HEPA bisa membantu mengurangi konsentrasi virus hingga 90 persen dalam waktu setengah jam.

Jika ada penderita di dalam ruangan, pembersih udara bergerak mengurangi risiko infeksi, menurut para ilmuwan di Universitas Goethe.

Artikel Asli