Loading...
Loading…
BBPOM di Mataram Gagalkan Peredaran Gelap 10 Ribu Tablet Obat Parkinson

BBPOM di Mataram Gagalkan Peredaran Gelap 10 Ribu Tablet Obat Parkinson

Nasional | lombokpost | Kamis, 01 Juli 2021 - 08:35

MATARAM -Generasi muda di Kota Mataram diintai para pengedar obat terlarang. Beruntung Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Mataram bekerja sama dengan Ditreskrimsus Polda NTB berhasil menggagalkan upaya peredaran gelap obat-obatan berbahaya tersebut.

Berdasarkan informasi dari Direktorat Intelijen Badan POM RI, Selasa (29/6) telah dilaksanakan operasi di salah satu ekspedisi di wilayah Lombok Barat, beber Kepala BBPOM di Mataram I Gusti Ayu Adhi Aryapatni dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (30/6).

Dalam operasi itu, SR (inisial, Red) warga Batulayar, Lombok Barat, tertangkap tangan sedang menerima paket obat-obatan tersebut. Obat yang diketahui tanpa izin tersebut merupakan tablet Trihexyphenidyl 2 miligram dengan jumlah 10 ribu tablet. Satu tabletnya akan dijual dengan harga Rp 12.500.

Jadi nilai ekonomis atau harga obat ini sekitar Rp 125 juta. Pengakuan tersangka rencananya obat-obatan ini akan diedarkan di wilayah Gomong, Mataram, dengan sasaran remaja, jelasnya.

Pelaku mengaku membeli obat-obatan ini secara online. Obat ini sejatinya memiliki izin edar yang ditulis dalam stripnya. Namun izin edar tersebut setelah dicek ternyata fiktif.

Bila digunakan dosis berlebih efeknya sama seperti narkotika. Bisa memberikan euforia bagi penggunanya dan bisa menimbulkan ketergantungan, ungkap Aryapatni.

Obat ini sebenarnya harusnya digunakan bagi penderita penyakit parkinson. Bisa juga penyakit gerakan otot tubuh lain yang tidak bisa dikendalikan. Sayangnya oleh sebagian orang, justru disalahgunakan seperti tramadol dan narkotika.

Sangat meresahkan dan ini harus menjadi atensi warga khususnya orang tua. Karena ini sangat berbahaya jika dikonsumsi anak-anak mereka, ucapnya mengingatkan.

Sementara Kasi Korwas PPNS Ditreskrimsus Polda NTB Kompol H Ridwan mengatakan, Kota Mataram masih menjadi sasaran pelaku pengedar obat terlarang dan berbahaya. Yang kami lihat dari kejadian sebelumnya, mereka yang mengkonsumsi ini adalah remaja, anak SMA, mahasiswa dan beragam kalangan. Bahkan yang pernah kami gerebek di wilayah Gomong, Ketua RT jadi pengedar, bebernya.

Sejak Oktober 2020 hingga 2021 total, ada 17 kasus peredaran obat terlarang yang diungkap. Mulai dari peredaran tramadol hingga Trihexyphenidyl ini. Sembilan orang diantaranya ditahan dengan kurungan rata-rata sekitar satu tahun penjara.

Kami temukan ada yang sudah ditangkap setelah keluar mereka mengedarkan lagi. Kami harap hukumannya bisa lebih maksimal, ucapnya.

Untuk itu, Balai BPOM Mataram dan Polda NTB akan menindaklanjuti perkara ini dengan tersangka akan dijerat dengan Pasal 196 dan Pasal 197 Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Selain itu pelaku juga bisa dijerat Pasal 62 Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman pidana penjara 5 tahun dan atau denda Rp 100 juta. Karena mereka ini akan merusak generasi muda bangsa kita, ucapnya. (ton/r3)

Original Source

Topik Menarik