Kisah Bagaimana Dokter Harus Memilih Nyawa Pasien Korona: Ventilator Tinggal 1 Pasien Masih 4, Harus Bagaimana?

koran-jakarta.com | Nasional | Published at 28/06/2021 14:50
Kisah Bagaimana Dokter Harus Memilih Nyawa Pasien Korona: Ventilator Tinggal 1 Pasien Masih 4, Harus Bagaimana?

YOGYAKARTA - Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) dr. Corona Rintawan merasa bahwa pada hari-hari ini adalah hari terberat bagi dirinya. Kenapa? Karena hampir setiap hari, ia harus memilih nyawa siapa yang harus didulukan untuk diselamatkan.

"Hampir setiap hari saya memutuskan, ini ventilatornya tinggal satu, pasiennya ada empat, mana yang dipilih? Hampir tiap hari saya memutuskan," keluh dr. Corona seperti dikutip dari halaman resmi PP Muhammadiyah, Senin (28/6).

Rintawan mengatakan usia bukan satu-satunya pertimbangan untuk memutuskan nyawa siapa yang harus duluan diselamatkan. Baru-baru ini, Rintawan memilih pasien yang agak tua ketimbang yang muda karena yang lebih muda justru memiliki lebih banyak komorbid sehingga meski diberi pertolongan ventilator tetap saja sulit untuk bertahan.

Selain memilah nyawa, dilema dan beban psikologis tenaga emergency seperti dirinya juga diperberat karena kini lebih sering menolak pelayanan karena kapasitas kamar yang telah penuh.

Bagi pekerja medis di bagian kegawatdaruratan seperti Corona Rintawan, pelayanan dengan pendekatan Triase wajib dilakukan. Triase sendiri adalah prinsip dalam situasi gawat darurat di mana dokter harus menentukan prioritas penanganan berdasarkan peluang kemungkinan hidup.

"Kondisi pasien yang datang ke IGD (Instalasi Gawat Darurat) berbeda-beda dari sedang sampai berat. Dalam kondisi bukan bencana, itu juga sebetulnya dilakukan triase karena seringkali datang sekaligus banyak pasien tapi perawatnya terbatas, jadi kami memilih mana nih yang kami prioritaskan untuk ditangani terlebih dahulu," jelas dr. Corona.

Dalam konteks bencana seperti pandemi atau bencana alam, Triase dilakukan berbeda dengan situasi bukan bencana. Pasien yang lebih punya kemungkinan untuk survive akan diprioritaskan.

"Dalam konteks bencana memang ada sedikit perbedaan, kalau sehari-hari kita memprioritaskan yang paling gawat, dalam kondisi bencana di mana yang datang semua gawat, maka Triasenya adalah mana yang paling mungkin kita selamatkan," terangnya.

Meskipun telah memutuskan secara ilmu, dr. Corona tetap mengakui bahwa memilih pasien prioritas dalam pandemi Covid-19 menambahkan beban psikologis tersendiri.

"Itu berat, berat sekali. Berat sekali. (Melakukan) Itu bisa kepikiran dan ga bisa tidur itu. Tapi memang saya dokteremergencyjadi terbiasa didisaster. Ya jadi saat itu, kita harus mengambil keputusan. Satu keputusan di situasiemergencyitu lebih baik daripada tidak sama sekali," tambah dr. Corona.

"Misalnya ada pilihan 3 itu seperti yang kemarin. Kalau tidak segera mengambil keputusan, maka tiga-tiganya bisa meninggal semua. Tapi kita pilih satu yang bisa selamat," jelasnya.

Artikel Asli