Gempa Sebab Sejumlah Bangunan Rusak di Jogjakarta

jawapos | Nasional | Published at 28/06/2021 13:14
Gempa Sebab Sejumlah Bangunan Rusak di Jogjakarta

JawaPos.com Gempa dengan magnitudo5,1 SR pada Senin (28/6) pukul 05.15 WIBdi selatan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Jogjakarta menyebabkan sejumlah bangunan rusak. Di wilayah Kabupaten Bantul, tiga rumah dilaporkan rusak ringan.

Rusak ringan di bagian atap atau genteng, kata Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Aka Luk Luk Firmansyah seperti dilansir dari Antara di Bantul, Senin (28/6).

Menurut dia, bangunan yang rusak akibat gempa terdiri atasmasjid, gedung pemerintah kelurahan, dan rumah toko di Desa Srihardono, KecamatanPundong;dan Desa Selopamiorodi Kecamatan Imogiri. Gempa membuat warga kaget dan berhamburan keluar rumah namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

Alhamdulillah tidak ada laporan korban jiwa, ujar Aka Luk Luk Firmansyah.

Sementara itu, sebanyak 14 rumah di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Jogjakarta, mengalami rusak ringan akibat gempa tersebut. Kepala Desa Girisekar Sutarpan mengatakan, berdasar hasil pendataan petugas pascagempa, tercatat ada 14 rumah milik rumah warga yang rusak ringan.

Kerusakan masih ringan, seperti genting jatuh dan dinding rumah retak. Saat ini, sudah dalam pengkondisian tim reaksi cepat (TRC) desa dan kabupaten, ujar Sutarpan.

Dampak kerusakan paling parah terjadi di Dusun Bali, Desa Girisekarada 10 rumah dan satu masjid yang rusak ringan, yakni genting rumah yang berjatuhan. Kami juga sudah melakukan komunikasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunung Kidul untuk tindakan selanjutnya atas dampak gempa tadi pagi (28/6), tutur Sutarpan.

Salah satu warga yang rumahnya rusak akibat gempa di Desa Girisekar Agung Nugroho mengatakan, gempa berlangsung cepat hampir satu menit dengan kekuatan kencang. Dia dan keluarga langsung berlari menyelamatkan diri.

Kami berharap ada bantuan dari pemkab untuk meringankan beban kami memperbaiki rumah yang rusak, tutur Agung.

Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyatakan usaigempa Senin (28/6) pagi, tidak terpantau adanya kejadian signifikan pada aktivitas vulkanik Gunung Merapi. Setelah kejadian gempa itu, belum ada kejadian yang signifikan pada aktivitas Merapi, kata Kepala BPPTKG Hanik Humaida di Jogjakarta.

Namun demikian, kata dia, BPPTKGmemastikan bahwa gempa tektonik tersebut dirasakan di seluruh pos-pos pengamatan Gunung Merapi. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada, namun tidak perlu panik, kata Hanik.

Meski demikian, dia menyebut, beberapa menit sebelum gempa, Gunung Merapi sempat mengeluarkan awan panas guguran dengan jarak luncur 1.000 meter ke tenggara. Awan panas guguran kemudian kembali muncul dari Gunung Merapi pada pukul 05.11 WIB. Jarak luncur mencapai 900 meter ke tenggara dengan amplitudo 40 mm dan durasi 70 detik.

Berdasar laporan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada 28 Juni pukul 05.15.29 WIB terjadi gempa berkekuatan 5,1 Skala Richter (SR) dengan lokasi 8,56 Lintang Selatan 110,58 Bujur Timur namun tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Gempa itu terjadi di laut pada jarak 66 km arah selatan Kota Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Jogjakarta pada kedalaman 61 km.

Gempa itu getarannya dirasakan di Bantul, Gunung Kidul, Sleman, dan Kota Jogjakarta (Daerah Istimewa Jogjakarta), Purworejo, Klaten, Solo, Kebumen, Cilacap, dan Banjarnegara (Jawa Tengah), serta Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Nganjuk, dan Malang (Jawa Timur).

Artikel Asli