Membangun Hortikultura Indonesia

republika | Nasional | Published at 28/06/2021 12:50
Membangun Hortikultura Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhammad Firdaus, Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB

Glowing food adalah salah satu rekomendasi badan internasional untuk banyak dikonsumsi selama pandemi Covid-19. Ini mencakup sayur dan buah yang beraneka warna, sehingga sangat baik untuk kesehatan ( healthy diet ).

Selain itu, selama pandemi Covid-19 masyarakat membutuhkan jiwa yang sehat ( healthy soul ), yang dapat dipenuhi antara lain dengan memelihara berbagai tanaman hias baik bunga atau tanaman daun. Tidak hanya di dalam negeri, permintaan ekspor tanaman hias juga sangat tinggi selama Covid-19, mencakup berbagai jenis sepeti Dracaena, Aglaonema, Anthurium dll.

Konsumsi tanaman obat seperti empon-empon juga meningkat drastis sebagai upaya mempertebal daya tahan tubuh. Inilah salah satu penyumbang masih bertumbuh positifnya pertanian Indonesia selama fase krisis akibat pandemi Covid-19.

Pengembangan sektor hortikultura di Indonesia secara lebih serius oleh pengambil kebijakan dimulai sejak akhir 1990-an. Sebelumnya, tanaman pangan dan perkebunan menjadi sentra pembangunan pertanian, dan masih berlanjut hingga kini.

Misalnya ditandai dengan munculnya Dirjen Hortikultura di Kementerian Pertanian, Pusat Kajian Buah Tropika di IPB serta lahirnya UU Hortikultura di tahun 2010. Meksipun ada revisi pada UU Cipta Kerja yang lalu, tetapi sebagai besar substansi tetap masih dipertahankan. Banyak yang berpendapat jika isi UU Hortikultura dapat dijalankan secara konsisten, maka daya saing hortikultura Indonesia akan segera meningkat signifikan.

Dipertanyakannya daya saing hortikultura Indonesia karena sampai saat ini dari neraca perdagangan, selain pangan dan peternakan, hortikultura masih menciptakan defisit cukup besar. Untungnya, surplus dari tanaman perkebuhan (sawit, karet, kopi dll.) mampu menutupi, sehingga secara keseluruah neraca sektor pertanian Indonesia masih positif.
Defisit di sektor hortikultura terutama berasal dari berbagai jenis buah seperti jeruk, apel, anggur, dan lain-lain.

Buah sub tropis ini mampu disediakan importir sepanjang tahun karena disimpan dalam gudang berpendingin dalam waktu lebih dari setahun. Sebenarnya pada saat di Indonesia terjadi panen raya buah seperti mangga, pasokan buah impor ini ke pasar baik modern atau pasar becek menurun drastis.

Impor sayuran yang pernah diberitakan bernilai sangat besar, sebetulnya utamanya berasal dari satu komoditas, yaitu bawang putih. Tanaman yang dapat tumbuh sangat baik pada wilayah full shining (panas matahari 12 jam atau lebih), tentu dengan air tersedia cukup, sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri.

Impor sayuran masih terjadi pada beberapa jenis seperti wortel dan kentang, yang sebagian dilakukan oleh industri karena produksi dalam negeri yang belum mampu memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Industri juga masih mengimpor jenis sayuran olahan seperti cabai kering, dari India dan China, karena harga yang jauh lebih murah dibandingkan membeli dari produksi dalam negeri.

Selain di sana memang produksi untuk olahan didesain berbeda dengan konsumsi untuk kebutuhan segar, infrastruktur rantai pasok juga sudah dibangun dengan sangat baik. Pasar Guntur di India adalah pasar cabai kering terbesar di dunia.

Cabai kering juga menjadi bahan campuran pedagang cabai giling di pasar becek. Impor olahan hortikultura yang masih besar merupakan peluang pasar yang seharusnya dapat diisi, selain permintaan buah, sayur, tanaman hias dan obat yang semakin tinggi, seiring naiknya kesadaran pentingnya nutrisi dan pendapatan dari masyarakat indonesia.

Artikel Asli