IDI Surabaya: Kasus Covid-19 Banyak dari Klaster Keluarga

suarasurabaya | Nasional | Published at 28/06/2021 10:31
IDI Surabaya: Kasus Covid-19 Banyak dari Klaster Keluarga

Pada Minggu (27/6/2021) kemarin, terjadi penambahan 21.324 kasus Covid-19 di Indonesia. Di Surabaya sendiri, kebanyakan kasus Covid-19 didominasi oleh klaster keluarga. Hal ini disampaikan dr. Meivy Isnoviana Anggota Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya.

Sekarang ini banyak (pasien Covid-19) di rumah sakit itu dari klaster keluarga. Dari anaknya, ibunya, bapaknya. Semua (kasus kebanyakan) begitu, kata dr. Meivy kepada Radio Suara Surabaya , Senin (28/6/2021).

Ia meminta, untuk para orang tua dapat mengawasi putra putrinya agar tidak ke luar rumah jika tidak diperlukan. Anak-anak harus diberi penjelasan, bahwa saat ini kondisi tidak memungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan banyak orang.

Anak-anak juga harus terus diedukasi tentang pentingnya memakai masker dan bagaimana cara memakai masker yang benar beserta. Tidak lupa juga untuk disiplin menjaga protokol kesehatan.

Tidak hanya anak-anak, menurut dr. Meivy, orang tua juga harus bisa manjadi teladan bagi anak mereka.

Untuk orang tua dapat memberi contoh kepada anaknya, kalau nggak perlu ke luar rumah ya di rumah saja. Kalau bapak ibu tidak kerja, tidak punya kepentingan, ya di rumah. Tidak perlu makan di luar, di rumah saja, ungkapnya.

Menurut dr. Meivy salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk menekan laju penyebaran Covid-19 adalah dengan menghidupkan kembali Kampung Tangguh. Sehingga, masyarakat dapat terlibat langsung dalam membatasi aktifitas warganya. Diharapkan, nantinya proses pemeriksaan jika ada warga luar yang memiliki dengan warga setempat.

Ia mengaku, saat ini penanganan Covid-19 sudah tidak terkendali karena lonjakan pasien tidak sebanding dengan jumlah tempat tidur dan tenaga kesehatan. Ia menceritakan bagaimana saat ini ruang-ruang IGD sudah penuh pasien, namun di luar rumah sakit sudah banyak mobil berjejeran, mengantre untuk mendapat penanganan.

Menurut dr. Meivy, dengan menambah ruangan atau kapasitas tempat tidur tidak akan menyelesaikan masalah. Karena meski bed terus ditambah, namun jumlah tenaga kesehatan begitu terbatas.

Menambah bed tidak menyelesaikan masalah, memang tenaga kesehatannya dari mana? saya sendiri sudah capek lahir batin. Siklusnya ini sudah luar biasa besar. Kalau teman-teman di luar sana tidak membantu kami, lalu kalau dari nakes banyak yang tumbang, yang membantu mereka siapa? ujarnya.

Sebelumnya Heru Tjahjono Plh Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdparov) Jatim pada Senin (28/6/2021) mengatakan, Pemprov Jatim akan mengandalkan Kampung Tangguh untuk menekan penyebaran Covid-19. Mengingat ketersediaan tempat tidur di banyak rumah sakit sudah penuh, maka setiap RT atau desa harus menyediakan tempat karantina bagi warganya.

Jadi setiap RT/RW atau desa harus punya tempat isolasi mandiri. Artinya, kalau di dalam rumah itu padat, dikirimkan ke Balai RT/RW atau fasilitas seperti sekolah sebagai tempat isolasi. Jadi saat ada yang sakit bagi OTG, langsung dipisahkan ke fasilitas umum, kata Heru kepada Radio Suara Surabaya .(tin/den)

Artikel Asli