Bank Mandiri: Penjualan Sepeda Motor Masih Bisa Tumbuh

republika | Nasional | Published at 28/06/2021 10:18
Bank Mandiri: Penjualan Sepeda Motor Masih Bisa Tumbuh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memperkirakan penjualan sepeda motor di pasar domestik pada 2021 tumbuh sebesar 14,5 persen secara tahunan (year on year) dengan total penjualan sebesar 4,2 juta unit.

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan katalis positif yang mendorong kenaikan penjualan motor berasal peningkatan keyakinan konsumen (consumer confidence) dan daya beli masyarakat, diharapkan terus membaik seiring dengan pemulihan ekonomi.

Namun demikian, Andry mengakui kinerja penjualan motor dibayangi risiko ekonomi dari peningkatan kasus Covid-19. Adapun lonjakan kasus infeksi virus corona akan memperlambat pemulihan ekonomi.

Dengan angka kasus tambahan Covid-19 yang meningkat tajam akhir-akhir ini, laju pemulihan ekonomi bisa terhambat, ujarnya dalam keterangan resmi seperti dikutip Senin (28/6).

Saat ini, pemerintah memperketat pelaksanaan PPKM mikro di sejumlah kota besar di Indonesia yang akan mengurangi aktivitas ekonomi beberapa sektor seperti restoran, pusat perbelanjaan dan pariwisata.

Bank Mandiri memaparkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang menunjukkan penjualan sepeda motor domestik pada Mei 2021 turun lagi sebesar 46,1 persen secara bulanan (month on month/MoM) dengan unit terjual sebanyak 254,7 ribu unit.

Sebelumnya pada April 2021, penjualan sepeda motor domestik turun sebesar 9,3 persen (MoM) dengan unit terjual sebanyak 472,8 ribu unit. Sebagai tambahan, pada Maret 2021 penjualan sepeda motor domestik sempat mengalami peningkatan sebesar 38,0 persen (MoM) dengan unit terjual sebanyak 521,4 ribu unit.

Secara tahunan, penjualan sepeda motor domestik pada bulan Mei 2021 tumbuh 1.065,7 persen (yoy). Peningkatan signifikan penjualan sepeda motor secara yoy ini karena low based effect, dimana penjualan sepeda motor pada Mei tahun lalu hanya sebanyak 21,8 ribu unit. Hal ini terjadi karena tahun lalu terjadi penerapan PSBB ketat yang mengakibatkan penurunan aktivitas ekonomi, ucapnya.

Artikel Asli