Dampak Buruk Kebiasaan Sering tidak Sarapan

republika | Nasional | Published at 28/06/2021 06:50
Dampak Buruk Kebiasaan Sering tidak Sarapan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian orang mungkin merasa malas atau tak memiliki cukup waktu untuk menyantap sarapan di pagi hari. Akan tetapi, kebiasaan sarapan ini perlu diupayakan agar terhindar dari dampak buruk di kemudian hari. Salah satunya adalah terkait kekuarangan beberapa macam zat gizi.

Hal ini diungkapkan dalam studi terbaru dalam jurnal Proceedings of the Nutrition Society oleh peneliti dari Ohio State University (OSU). Studi ini melibatkan lebih dari 30 ribu warga Amerika dewasa sebagai partisipan.

Menurut temuan dalam studi ini, orang yang terbiasa melewatkan sarapan cenderung tidak mendapatkan asupan kalsium, vitamin C, serat, dan beberapa vitamin dan mineral lain yang biasa ditemukan pada menu-menu sarapan. Tak hanya itu, orang-orang yang melewatkan sarapan cenderung kurang mengonsumsi nutrien-nutrien penting tersebut sepanjang hari.

"Apa yang kami lihat adalah bila Anda tidak menyantap makanan yang umum dikonsumsi saat sarapan, Anda memiliki kecenderungan untuk tidak menyantapnya di sepanjang hari itu," jelas peneliti sekaligus profesor dari College of Medicine di OSU Christopher Taylor PhD RDN LD FAND, seperti dilansir Well and Good, Ahad (27/6).

Sebaliknya, Manajer Nutrisi dari Freshly Jenna Amos RD mengatakan orang-orang yang terbiasa sarapan cenderung mendapatkan asupan zat gizi yang lebih tinggi. Zat-zat gizi ini meliputi vitamin D, kalsium, kalium, dan zat besi.

"Mereka juga cenderung mengonsumsi lebih sedikit nutrien yang berkaitan dengan kesehatan yang buruk, termasuk lemak jenuh dan sodium," papar Amos.

Amos mengatakan beberapa vitamin dan mineral memang bisa didapatkan melalui suplemen. Akan tetapi, mendapatkan asupan vitamin dan mineral dari makanan yang dikonsumsi dalam keseharian merupakan cara paling ideal.

Di samping itu, Amos juga menyoroti beberapa manfaat baik dari kebiasaan sarapan. Salah satu di antaranya adalah menjaga performa yang optimal di sepanjang hari.

"Menyantap sarapan dapat membantu memperbaiki ingatan," lanjut Amos.

Tak hanya itu, kebiasaan sarapan juga dapat membantu seseorang menjadi lebih mudah fokus dalam memperhatikan sesuatu. Sarapan juag turut menunjang fungsi eksekutif di mana fungsi ini mencakup kemampuan memori bekerja, kontrol diri, dan berpikir fleksibel.

Kelengkapan menu sarapan juga turut mempengaruhi manfaat yang akan dirasakan oleh seseorang. Menu sarapan yang bergizi seimbang dapat memberikan energi untuk membantu seseorang mneghadapi pekerjaan menantang.

Amos mengatakan menyantap makanan di pagi hari merupakan cara yang baik untuk meningkatkan kadar energi di dalam tubuh. Orang yang melewatkan sarapan cenderung memiliki energi yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang sarapan.

Ketika energi menjadi lebih rendah, seseorang biasanya akan cenderung tidak berolahraga atau menjalani pola hidup yang aktif. Selain itu, orang yang tak sarapan cenderung memiliki pola mkaan tinggi gula tambahan dan lemak jenuh.

Mengacu pada studi terbaru dari OSU, sarapan akan mempengaruhi kualitas pola makan yang diterapkan sepanjang hari. Kebiasaan sarapan yang baik akan membantu seseorang untuk membuat keputusan makan yang lebih sehat sepanjang hari.

Menu sarapan yang direkomendasikan Amos adalah menu yang bergizi seimbang, mengandung protein, dan kaya akan serat. Hindari pula makanan yang terlalu banyak diproses dan lebih mengutamakan makanan yang minim proses. Beberapa contoh makanan tersebut adalah telur, beri segar, oatmeal dan selai kacang serta buah, yogurt berprotein tinggi dan rendah gula dengan tambahan pisang serta granola, atau breakfast wrap dengan sayuran segar.

Artikel Asli