Loading...
Loading…
Atur Ketat Ibadah dan Perayaan Idul Adha di Jawa Timur

Atur Ketat Ibadah dan Perayaan Idul Adha di Jawa Timur

Nasional | jawapos | Jumat, 25 Juni 2021 - 12:48

JawaPos.com Perayaan Idul Adha tahun ini bakal diatur ketat. Pemerintah lewat Kementerian Agama (Kemenag) telah merancang rambu-rambu. Regulasi itu tertuang dalam surat edaran (SE) menteri agama.

Ada sejumlah poin yang diatur dalam SE No 15 Tahun 2021 itu. Pertama, malam takbiran. Seperti Idul Fitri, menjelang Idul Adha, umat muslim biasanya menyambut dengan takbiran. Sebelum korona merebak, kegiatan tersebut dilakukan tanpa batasan.

Pelaksana Humas Kemenag Jatim Abdul Andika menjelaskan, ada sejumlah aturan saat takbiran. Pertama, takbiran yang dihelat di masjid dan musala. Jumlah warga yang mengikuti kegiatan itu dibatasi. Maksimal 10 persen. Wajib mengenakan masker dan menjaga jarak, paparnya.

Kedua, takbir keliling ditiadakan. Menurut Andika, langkah itu dilakukan sebagai pencegahan. Terutama agar tidak memicu kerumunan.

Selanjutnya, untuk memberikan kesempatan kepada warga ikut serta dalam takbiran, masjid dan musala bisa menggunakan teknologi. Kegiatan itu disiarkan secara virtual.

Pelaksanaan salat Idul Adha juga diatur. Disesuaikan dengan zona di masing-masing wilayah. Kawasan yang ditetapkan zona merah dan oranye dilarang menggelar ibadah. Salat Idul Adha dihelat di rumah masing-masing.

Bagi wilayah yang diperbolehkan menggelar salat Idul Adha, ada beberapa ketentuan yang wajib dipatuhi. Pertama, pelaksanaan salat harus menerapkan protokol kesehatan (prokes). Penyampaian khotbah maksimal 15 menit. Jumlah jamaah dibatasi. Paling banyak 50 persen dari kapasitas. Panitia harus mengecek suhu warga, terangnya.

Selain itu, jamaah yang berusia lanjut diimbau salat di rumah karena rentan terpapar Covid-19. Seluruh warga wajib mengenakan masker. Khatib harus mengenakan masker dan face shield.

SE itu juga mengatur penyembelihan hewan kurban. Pemerintah memberikan waktu tiga hari. Yaitu, pada 11, 12, dan 13 Zulhijah. Tujuannya menghindari kerumunan warga di lokasi.

Selanjutnya, pemotongan hewan kurban dihelat di rumah pemotongan hewan (RPH). Distribusi kurban harus memperhatikan prokes. Langsung diberikan ke rumah warga, jelasnya.

Sementara itu, pemkot masih menelaah aturan SE Kemenag tersebut. Kepala Bagian Humas Febriadhitya Prajatara menuturkan, salat Idul Adha bisa dilakukan di kawasan yang sudah ditetapkan masuk zona hijau dan kuning. Aturan sesuai PPKM mikro, paparnya.

Sebelum menggelar ibadah, panitia salat Idul Adha diminta mengajukan izin. Kemudian, satgas melakukan asesmen. Pemeriksaan dibutuhkan agar virus korona tidak merebak, ucapnya.

POIN-POIN SE MENAG NO 25 TAHUN 2021

Malam Takbiran

Dilaksanakan terbatas, 10 persen dari kapasitas masjid/musala.

Dilarang takbir keliling.

Disiarkan secara virtual sesuai ketersediaan perangkat.

Salat Idul Adha

Diselenggarakan di lapangan terbuka atau masjid/musala dengan pelaksanaan protokol kesehatan untuk daerah yang dinyatakan aman dari Covid-19 serta di luar zona merah dan oranye.

Khotbah paling lama 15 menit.

Jamaah 50 persen dari kapasitas, tetap memakai masker dan memperhatikan jarak antarjamaah, serta membawa perlengkapan salat masing-masing.

Seusai salat, hindari sentuhan fisik dan berjabat tangan.

Pelaksanaan Kurban

Hindari kerumunan warga atau dilakukan di rumah pemotongan hewan ruminansia (RPH-R) dengan prokes ketat.

Penyembelihan hingga pendistribusian juga dilakukan dengan prokes ketat.

Dengan peningkatan yang signifikan angka positif Covid-19 dan adanya mutasi varian baru Covid-19 di suatu daerah, pelaksanaan surat edaran ini disesuaikan dengan kondisi setempat.

Original Source

Topik Menarik