Loading...
Loading…
Kemenperin Kerek Daya Saing Dan Ekspor IKM Mamin

Kemenperin Kerek Daya Saing Dan Ekspor IKM Mamin

Nasional | rm.id | Sabtu, 19 Juni 2021 - 14:22

Kementerian Perindustrian terus mendukungindustri kecil dan menengah (IKM) makanan dan minuman (mamin) untuk meningkatkan daya saing dan ekspornya.

IKM mamin saat ini berjumlah sekitar 1,68 juta unit usaha atau 38,27 perssn dari total unit usaha IKM secara keseluruhan. Jumlah tersebut mampu menyerap hingga sekitar 3,89 juta tenaga kerja.

Tentunya ini menunjukkan bahwa IKM mamin memiliki peran penting sebagai komponen pemberdayaan masyarakat dalam memajukan perekonomian Indonesia, ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Sabtu (19/6).

Produk IKM mamin Indonesia memiliki potensi yang besar untuk memenuhi pasar dalam negeri serta pasar ekspor. Di era pasar global, peluang ekspor produk Indonesia terbuka lebar, namun hal ini juga menjadi tantangan tersendiri karena pelaku usaha akan bersaing dengan kompetitor dari negara lain.

Menurut data dari salah satue-commerceglobal, banyak produk mamin yang tersedia di Indonesia memiliki potensi pasar ekspor yang tinggi. Seperti aneka tepung (tepung tapioka, tepung sagu), aneka buah kering (mangga, nangka, buah naga, pepaya), keripik buah (nangka, pisang, singkong), gula palma, kopi, teh, bubuk kelor, olahan kelapa (bubuk kelapa, VCO), dan rempah (bubuk lada, bubuk kayu manis).

Namun karena para pelaku IKM mamin masih perlu meningkatkan pengetahuan akan akses pasar global, maka pasar ekspor produk-produk potensial tersebut pada saat ini masih didominasi dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand. Hal ini menunjukkan Indonesia perlu memanfaatkan peluang pasar ekspor, beber Agus.

Untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut dan bersaing dengan negara lain, faktor penting yang harus diperhatikan oleh IKM mamin adalah pemenuhan keamanan dan mutu produk sesuai standar-standar yang ditentukan, penggunaan teknologi proses yang efisien dan inovatif, serta pengembangan produk menyesuaikan dengan permintaan pasar.

Aneka produk hilir mamin, termasuk keripik dan kerupuk, perlu terus ditingkatkan daya saingnya dengan memperhatikan standar-standar seperti GMP ( Good Manufacturing Practices ) atau Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan HACCP ( Hazard Analysis Critical Control Point ).

Kemudian, memiliki kemasan yang menarik dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Selain itu, penggunaan mesin dan teknologi peralatan juga diperlukan untuk menjaga kualitas produk pangan yang dihasilkan.

Produk IKM mamin juga membutuhkan sertifikasi sistem keamanan pangan agar dapat diterima di pasar global. Selain menghasilkan produk hilir yang berkualitas, IKM mamin juga telah mampu menghasilkan produk bahan baku yang dapat menjadi substitusi impor, seperti tepung mocaf, sagu, porang, dan sebagainya, jelas Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Dirjen IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih.

Kemenperin memiliki program Indonesia Food Innovation (IFI) yang dilaksanakan rutin setiap tahun untuk memacu IKM mamin dalam meningkatkan nilai inovasi dan pemanfaatan penggunaan bahan baku lokal yang cukup banyak dan beragam.

Lewat IFI, Kemenperin mendorong IKM mamin untuk melakukan percepatan pengembangan kapasitas bisnis dengan memberikan solusisupply chaindanadded valuekepada komoditas bahan pangan asal Indonesia melalui inovasi sehingga menghasilkan produk mamin berkualitas dan berdaya saing ekspor.

IFI merupakan program pembinaan dan pendampingan yang tepat dari para ahli di bidang bisnis maupun teknis untuk akselerasi bisnis menuju IKM modern yangmarketable, profitable dan sustainable,dan berujung pada peningkatan skala bisnis IKM, papar Gati.

Kemenperin juga mendorong IKM yang mampu menghasilkan permesinan teknologi tepat guna (TTG) seperti PT. Yogya Presisi Tehnikatama Industri, di Sleman, Yogyakarta, untuk memproduksi mesin dan peralatan yang dapat digunakan oleh IKM mamin dalam meningkatkan kapasitas produksi dan daya saingnya.

Peningkatan nilai tambah IKM mamin melalui efisiensi, inovasi dan teknologi dengan menerapkan industri 4.0 merupakan salah satu fokus Kemenperin. Penerapan industri 4.0 di sektor IKM sudah dilakukan dari sisi hulu sampai kepada pemasaran, meliputi pembangunanmaterial centeruntuk menjamin ketersediaan bahan baku yang mudah dijangkau oleh IKM dan dengan harga yang bersaing.

Selanjutnya, penerapan sistem traceability pada produksi gula kelapa di Kabupaten Banyumas. Kemudian, pemanfaatan teknologi digital melalui program e-Smart IKM untuk pemasaran produk IKM yang telah dijalankan Kemenperin sejak 2017. Kami juga mendorong peningkatan kualitas kemasan produk IKM melalui platforme-kemasan, pungkas Gati. [ DIT ]

Original Source

Topik Menarik