Loading...
Loading…
Terminal Penumpang Masih Pake Tenda AP II Evaluasi Operasional Bandara JB Soedirman...

Terminal Penumpang Masih Pake Tenda AP II Evaluasi Operasional Bandara JB Soedirman...

Nasional | rm.id | Sabtu, 19 Juni 2021 - 05:30

Penggunaan tenda sementara di Bandara Jenderal Besar (JB) Soedirman, Purbalingga, Jawa Tengah, mendapat sorotan publik. Merespons hal itu, operator bandara, PT Angkasa Pura II (Persero) kini tengah mengevaluasinya.

Pembangunan bandara Jenderal Soedirman sebenarnya belum rampung 100 persen. Namun, bandara itu telah beroperasi secara komersial pada awal Juni. Di bandara ini, terminal penumpang saat ini masih menggunakan tenda roder, alias temporer.

Vice President of Corporate Communication Angkasa Pura II Yado Yarismano mengaku, perseroan masih mengevaluasi pembangunan terminal tersebut.

Masih dievaluasi sambil direncanakan juga skema pembangunan terminal itu nantinya bagaimana, ujar Yado singkat kepada Rakyat Merdeka , kemarin.

Meski demikian, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah menerbitkan Sertifikat Bandara Udara No: 0163/SBU-DBU/IV/2021 bagi Bandara Jenderal Besar Soedirman. Serta dokumen mandatori lainnya pun sudah disusun dan disetujui. Di mana dokumen mandatori tersebut adalah Airport Security Programme, Aerodrome Manual, Emergency Plan Document, Safety Management System Manual, Safety Risk Assessment , dan SOP ( Standard Operating Procedure ) Airside Operation .

Akhir pekan lalu, President Director Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin menjelaskan, bandara tersebut dibangun di atas lahan seluas 115 hektar (ha) oleh PT Hutama Karya (Persero) dengan nilai kontrak sebesar Rp 231 miliar.

Untuk konstruksi Tahap I, kata dia, terdiri dari pekerjaan landas pacu ( runway ) sepanjang 1.600 meter (m) dan lebar 30 meter. Selain itu, taxiway , dan apron komersial. Serta terminal penumpang sementara dengan kapasitas 98.812 penumpang per tahun.

Rencananya, luas terminal akan ditambah menjadi 1.300 meter persegi (m2). Sehingga dapat menampung sekitar 200 ribu penumpang per tahun.

Kapasitas terminal akan berganti dari yang sekarang masih dalam posisi terminal temporer menjadi permanen. Kemudian, akan kami kembangkan seluas 1.300 meter persegi pada awal 2023, terang Awal, Jumat (11/6).

Selain itu, pengembangan bandara juga dilakukan pada sisi landasan pacu dari 1.600 meter menjadi 2.200 meter pada kuartal I-2022, dengan target operasional di kuartal I-2023.Sehingga nantinya tidak hanya dilayani pesawat jenis ATR 72-600 atau yang sejenis dengan kapasitas 78 penumpang. Tetapi juga bisa melayani pesawat yang lebih besar seperti Airbus 320 dan Boeing 737-800 atau 737-900.

Ia menuturkan, sebagai bandara yang baru dibangun dan dalam tahap pengembangan, Bandara JB Soedirman sangat produktif. Hal ini terlihat dari tingkat keterisian penumpang (load factor) untuk rute dari dan ke Jakarta saat baru dibuka, yang mencapai 70 persen. Dan kini sudah meningkat hingga 80 persen.

Sementara untuk rute dari dan ke Surabaya, dari sekitar 25 persen saat baru dibuka, kini meningkat hingga 40 persen. Adapun rute tersebut dilayani Citilink Indonesia, yakni Surabaya-Purbalingga dan Purbalingga-Jakarta (Halim Perdanakusuma), dengan jadwal penerbangan dua kali seminggu atau setiap Kamis dan Sabtu.

Dalam kesempatan lain, Awal mengaku, selain Citilink, Lion Air Group melalui Wings Air juga akan membuka rute baru melalui bandara tersebut.

Pertemuan sudah dilakukan. Dan dalam waktu dekat, atau akhir Juni ini direncanakan Wings Air akan membuka rute Jakarta - Purbalingga - Semarang dan Semarang - Purbalingga Jakarta, kata Awal, Minggu (13/6).

Ia berharap, dengan bertambahnya rute dari dan menuju Bandara JB Soedirman dapat semakin mendukung aktivitas masyarakat termasuk mendukung UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) di Purbalingga dan sekitarnya.

Pengamat Aviasi dan Bisnis Penerbangan Gatot Raharjo menyesalkan terminal penumpang di bandara JB Soedirman yang masih menggunakan tenda sementara.

Mengapa gedung terminal belum jadi, tapi penerbangan sudah dioperasikan? Apalagi di tengah pandemi Covid yang harusnya membatasi mobilitas penduduk, kritik Gatot kepada Rakyat Merdeka.

Apalagi, lanjutnya, dalam PM (Peraturan Menteri) Perhubungan 127 Tahun 2015 tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional (PKPN), untuk menjaga keamanan bandara harus ada batas yang jelas antar area. Terutama, antara area terbatas yang harus steril. Misalnya apron, ruang tunggu dan lainnya dengan area yang tidak terbatas seperti area lobi, check-in, dan ruang lainnya.

Artinya, papar dia, bila pembangunan bandara belum seluruhnya selesai, jangan dioperasikan untuk komersial. Sebab, keberadaan terminal di bandara bukan sekedar untuk menampung penumpang.

Bandara itu belum ada terminalnya, masih tenda. Ada hazard keamanan di situ. Artinya, potensi untuk jadi tidak aman itu besar. Mengapa tidak menunggu beberapa bulan saja sampai terminal jadi. Urgensinya apa, tanyanya.

Menurut Gatot, terminal penumpang yang masih berbentuk tenda itu mudah disusupi seseorang mau menyelundupkan sesuatu.

Selain itu, tenda juga gampang rusak. Sehingga, seharusnya digunakan hanya untuk darurat saja. Karena itu, lanjutnya, jangan sampai demi membangkitkan perekonomian di suatu daerah, mengenyampingkan hal yang utama, yaitu keselamatan dan keamanan.

Ada yang namanya selamat, aman, nyaman (bisnis). Jangan dibalik. Nomor satu, keselamatan, terakhir baru bisnisnya, imbuhnya.

Selain itu, jadwal penerbangan dari atau ke bandara di Purbalingga ini juga diharapkan ada penyesuaian bila ingin mengincar orang-orang yang berwisata.

Slot penerbangannya juga nggak bagus buat wisatawan, Kamis-Sabtu. Kalaupun saat ini sudah 70 persen load facto r-nya, mungkin karena masih baru, coba tunggu tiga bulan ke depan, tutupnya. [IMA]

Original Source

Topik Menarik