Loading...
Loading…
Dianggap Jadi Biang Kerok Libur Panjang Bikin Deg-degan...

Dianggap Jadi Biang Kerok Libur Panjang Bikin Deg-degan...

Nasional | rm.id | Sabtu, 19 Juni 2021 - 05:20

Terbukti picu lonjakan kasus Covid-19, libur panjang kini diusulkan dihapuskan.

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19, Sonny Harry B Harmadi menegaskan, libur panjang selalu menyebabkan lonjakan kasus Covid-19. Satgas pun mempertimbangkan untuk mengusulkan peniadaan libur panjang.

Karena begitu ada libur panjang, selalu diikuti kenaikan kasus (Covid-19), kata dia.

Sonny mengatakan, setiap libur panjang, mobilitas masyarakat tinggi. Ditambah penerapan protokol kesehatan (prokes) yang kendor. Keduanya itu menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kasus, ujar dia.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito pun membenarkan, lonjakan kasus Covid-19 sekarang karena mobilitas tinggi masyarakat saat libur panjang Lebaran. Dia mengatakan, pola kenaikan kasus positif Covid-19 sekarang sama seperti kejadian libur panjang tahun lalu.

Kenaikan (kasus Covid-19) sudah sesuai prediksi setelah libur panjang, jelas Wiku. Disebutkan, kasus virus Covid sejak awal Februari sampai pertengahan Mei 2021 cenderung turun.

Namun Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Tjahjo Kumolo menegaskan, pihaknya tidak akan meniadakan libur. Dia memastikan, libur nasional Idul Adha dan Natal 2021 tetap ada.

Istilahnya bukan peniadaan hari libur. Hari libur masih ada. Misalnya, libur Idul Adha dan Natal, masih libur. Kan ada shalat Ied dan pemotongan hewan qurban. Juga pasti ada Misa Natal, tambah dia.

Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy juga merespons usulan penghapusan libur panjang. Pemerintah menurutnya memutuskan menggeser dua hari libur nasional. Yaitu, hari libur nasional Tahun Baru Islam, yang mulanya jatuh pada Selasa, 10 Agustus diganti menjadi Rabu, 11 Agustus 2021.

Kedua, hari libur nasional Maulid Nabi SAW yang jatuh pada Selasa, 19 Oktober digeser menjadi Rabu 20 Oktober 2021.

Pemerintah juga menghapus tanggal merah cuti bersama pada Jumat, 24 Desember 2021 mendatang. Dengan demikian, peringatan Natal 25 Desember tahun ini tidak disertai cuti bersama. Libur cuti bersama Natal pada 24 Desember ditiadakan, katanya.

Keputusan ini merupakan hasil rapat bersama Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Agama, dan Kemenpan PAN RB di kantor Kemenko PMK, kemarin.

Netizen sebenarnya banyak yang mendukung libur panjang ditiadakan selama penyebaran virus Corona masih tinggi. Bahkan, akun Aliyah45688918 menyarankan pemerintah menghapus semua tanggal merah di luar hari Minggu. Karena setiap libur panjang pasti Corona naik, ungkapnya.

TariAnggraini78 juga mengingatkan publik, bahwa pasca libur panjang Mei 2021, kasus Covid-19 di Indonesia kembali meningkat. Menurut GakLambeTurah , tak ada ada cara lain kecuali menghadapi lonjakan kasus aktif Covid- 19 pasca libur panjang Mei 2021. Kta harus waspada dan terus disiplin prokes, tambahnya.

Annas83171061 juga mengatakan, kasus Covid-19 akan terus naik selama masih ada libur panjang. Dia bilang, kalau mau fokus dengan Covid-19, hapus semua libur karena hanya akan membuat klaster baru. Mana yang lebih utama, kesehatan atau ekonomi, tuturnya.

Jasjashujan23 juga menyoal libur panjang tahun ajaran baru. Karena masyarakat banyak yang kekeuh ingin pulang kampung. Bahkan yang pulang kampung bukan satu dua orang, tapi semua daerah. Akibatnya baru kerasa sekarang, hampir semua daerah, katanya.

Wwulann bahkan mengaku ikhlas jika libur panjang dihilangkan. Iya, hapus ajalah. Daripada bikin deg-degan, was-was kalau mau pergi keluar rumah, katanya. Usulannya logis. Tiadakan libur panjang, sambung SantorinisSun .

Mulanbilqis berharap, lonjakan kasus Covid-19 pasca libur panjang yang saat ini terjadi menjadi yang terakhir. Dia berharap, tidak ada lagi Kudus dan Bangkalan berikutnya dalam kasus Covid ini.

Sudah cukup, jangan ngeyel lagi deh. Pemerintah bekerja demi kita semua, untuk Indonesia, tuturnya.

Menurut Tiorida123 , sumber masalahnya adalah sebagian besar masyarakat tidak tertib alias ngeyel. Bahkan, ada kelompok yang mengatakan Covid-19 adalah rekayasa.

Libur adalah hak pekerja. Entar libur ditiadakan pemerintah disalahin, plekok! katanya.

Namun akun nendenrahmaaaaa tidak setuju libur panjang disebut sebagai biang kerok melonjaknya kasus Covid-19. Dia menegaskan, yang perlu diperhatikan justru tempat yang membuat kerumunan massa. Yaitu, tempat wisata dan lain-lain. Bukan malah nyalahin libur panjang. Lebih bijak lagi membuat peraturan tegas, tukasnya.

Turisno24846445 juga tidak setuju dengan peniadaan hari libur nasional. Pemerintah tidak perlu menghilangkan hari libur nasional. Mungkin lebih tepat kalau tempat-tempat yang berpotensi kerumunan yang perlu ditutup, seperti tempat wisata, pasar, mall dan lain-lain.

Original Source

Topik Menarik