Perajin Tahu-Tempe Jangan Kaget, Harga Kedelai Dunia Lagi Tancap Gas

Nasional | limapagi.com | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 13:46
Perajin Tahu-Tempe Jangan Kaget, Harga Kedelai Dunia Lagi Tancap Gas

LIMAPAGI – Para perajin tahu-tempe di Kota Bandung, Jawa Barat, sedang mogok produksi selama 3 hari, mulai dari 28 sampai 30 Mei 2021. Ini disebabkan karena harga kedelai sebagai bahan baku tahu-tempe naik dari Rp9.800 per kg menjadi Rp10.500 pada akhir Mei 2021.

Kenaikan harga kedelai di dalam negeri disebabkan peningkatan signifikan harga kedelai dunia. Dikutip Limapagi.com dari Macrotrends, harga kedelai dunia saat ini di kisaran USD14,35 per bushels atau naik 14,61 persen pada tahun ini.

Sedangkan menurut data Chicago Board of Trade (CBOT) pada pertengahan Mei 2021, harga kedelai dunia berada di kisaran USD 15,86 per bushels naik sekitar 11,2 persen dibanding April 2021 yang tercatat sebesar USD 14,26 per bushels.

Harga ini tentu lebih tinggi dibandingkan tren harga kedelai dunia pada 2020 lalu yang ada di kisaran USD9,53 per bushels. Sedangkan di tahun 2019 harganya lebih rendah lagi di kisaran USD8,92 per bushels.

Tren kenaikan harga kedelai saat ini hampir sama dengan yang terjadi pada tahun 2012 lalu. Dimana saat itu harga kedelai dunia mencapai titik tertinggi yaitu USD17,68 per bushels. Setelah itu, harganya perlahan turun menjadi USD14,62 per bushels.

Tingginya harga kedelai dunia pada tahun 2012 lalu disebabkan kekeringan yang terjadi di Amerika Serikat (AS). Hal ini yang membuat pasokan kedelai ke Indonesia terhambat. Selama ini AS merupakan pemasok kedelai terbesar bagi Indonesia. Ini menyebabkan banyaknya perajin tahu-tempe yang berguguran atau setop produksi karena tidak mampu membeli kedelai dengan harga tinggi.

Sebagai catatan, saat itu kebutuhan kedelai nasional mencapai sekitar 3 juta ton per tahun sementara kemampuan produksi sebesar 800 ribu ton per tahun. Sehingga kekurangannya mengandalkan impor. Impor kedelai terbesar bagi Indonesia berasal dari AS disusul Brasil.

Artikel Asli