Peralihan Energi Menuju EBT Sebuah Keniscayaan, Tapi Jangan Radikal

Nasional | rmol.id | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 13:39
Peralihan Energi Menuju EBT Sebuah Keniscayaan, Tapi Jangan Radikal

RMOL.Rencana pemerintah untuk memberhentikan operasional pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara terbilang radikal. Pasalnya, Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan dengan tegas menyebut energi fosil merupakan musuh bersama di seluruh dunia dan pemerintah akan memensiunkan power plantbatubara.

Menanggapi itu, Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno menekankan bahwa tidak ada yang salah dari apa yang disampaikan Luhut untuk alih energi menuju energi baru dan terbarukan (EBT).

“Itu bukan pilihan, tapi keniscayaan. Sehingga memang kita akan menuju ke sana arahnya,” ujarnya kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (28/5).

Namun demikian, peralihan tersebut membutuhkan proses. Tidak bisa secara ujug-ujug ditutup begitu saja.

Wakil Ketua Komisi VII DPR yang membidangi energi itu menekankan bahwa alternatif energi tidak bisa radikal atau dibangun dengan segera.

“Jadi harus ada proses peralihan dan proses peralihan itu butuh energi peralihan, yaitu gas,” terangnya.

Dengan kata lain, pemerintah harus memulai mengupayakan agar pembangkit yang sekarang masih menggunakan batubara atau bermesin diesel dikonversi ke gas secara perlahan, sembari membangun pembangkit yang memakai energi terbarukan.

“Jadi harus ada roadmap yang jelas begitu. Jadi ada roadmap, ada prosesnya karena bagaimanapun juga ini tidak bisa satu ditutup lalu satu beroperasi, harus ada proses,” tegasnya. []

Artikel Asli