Sejak 2021 Terjadi 1.334 Bencana, BNPB Sebut 98% Bencana Hidrometeorologi

Nasional | sindonews | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 11:53
Sejak 2021 Terjadi 1.334 Bencana, BNPB Sebut 98% Bencana Hidrometeorologi

JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat dari 1 Januari hingga 27 Mei 2021 telah terjadi total sebanyak 1.334 kejadian bencana .

Deputi Bidang Sistem dan Strategi sekaligus Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi BNPB, Raditya Jati mengatakan dari total kejadian bencana itu, 98% adalah kejadian bencana hidrometeorologi.

"BNPB sendiri sejak 1 Januari 2021 sampai saat ini sudah ada lebih dari 1.300-an kejadian bencana. Dan 98% catatan kami adalah kejadian bencana hidrometeorologi. Artinya, ini bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan seterusnya," ujar Raditya secara virtual, Jumat (28/5/2021).

Catatan BNPB, sebanyak 573 kejadian banjir, 354 kejadian puting beliung, 269 tanah longsor 254. Kejadian bencana lain yang tercatat yaitu gelombang pasang 17 kejadian.

Sementara itu, provinsi yang tercatat paling banyak kejadian bencana terjadi Pulau Jawa yakni di Jawa Barat dengan 360 kejadian, di Jawa Timur dengan 169 kejadian, dan di Jawa Tengah sebanyak 164 kejadian bencana.

Raditya menjelaskan kejadian gempa bumi di Indonesia tidak sebanyak kejadian bencana lainnya. Dimana kejadian gempa bumi yang tercatat merusak ada 19 kejadian.

"Memang kelihatannya, gempa bumi tidak banyak frekuensinya. Tapi sekali terjadi kejadian bencana akibat gempa bumi itu bisa menimbulkan kejadian yang dahsyat daripada kejadian hidrometeorologi," paparnya.

Selain itu, Raditya menambahkan bahwa BNPB telah melengkapi sistem InaRisk yang bisa digunakan oleh masyarakat agar mengetahui risiko bencana di wilayahnya masing-masing. Selain itu juga bisa melakukan mitigasi sebelum terjadi bencana.

"Nah, perangkat apa yang sudah kami develop sejak tahun 2016 adalah InaRisk, dan ini bisa didownload dan eksplore. Disitu kita bisa mengetahui melalui portal juga melaui InaRisk personal. Kita juga bisa tahu posisi kita dimana, potensi risikonya apa, dan kita bisa melakukan sebelum dan sesudah kejadian bencana," paparnya.

Artikel Asli