Targetkan di Peparnas Papua Bawa Pulang Emas

Nasional | radarjogja | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 11:50
Targetkan di Peparnas Papua Bawa Pulang Emas

RADAR JOGJA – Tak terlintas di benak Sumaryanti dan Elsa Dewi Saputri untuk menjadi seorang atlet. Namun, gempa 27 Mei 2006 lalu mengubah hidup paralimpian DIJ itu. Kini, keduanya tergabung sebagai atlet NPC DIJ yang akan berlaga di Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) Papua 2021.

Sudah 3-4 tahun Sumaryanti terjun di dunia tenis kursi roda. Olahraga yang membantunya mengembalikan semangat dan rasa percaya diri dalam hidupnya. “Hampir lima tahunan ini tertarik jadi atlet. Iseng-iseng awalnya badminton, terus kok kayaknya di dalam ruangan nggak dapat geregetnya. Lalu, akhirnya masuk ke tenis,” ujar wanita yang akrab disapa Yanti itu kemarin (27/5).

Ya, gempa dahsyat 15 tahun silam sempat membuat Yanti tertimbun reruntuhan tembok di rumahnya, Sabdodadi, Bantul. Reruntuhan bangunan yang menimpa tulang belakangnya itu membuat kedua kakinya lumpuh. “Dari keluarga yang paling parah itu saya, karena ketimbun reruntuhan. Waktu itu saya umur 21 tahun,”  paparnya.

Tidak mudah menerima kenyataan menjadi penyandang disabilitas. Bukan cuma sakit fisik, tapi lebih berat lagi urusan psikis. Butuh 1,5 tahun bagi Yanti untuk menyembuhkan mentalnya.

Alhamdulillah banyak teman dan pengalaman setelah jadi atlet. Apalagi ini persiapan event ke Papua, kita nyari rezeki kan dari mana saja dan malah sekarang bisa berprestasi,” ucap ibu satu anak ini.

Meski belum lama menekuni tenis kursi roda, Yanti berhasil menorehkan prestasi membanggakan. Meraih satu medali emas, dua perak, dan satu perunggu di ajang Peparda 2019.

Nah, di Peparnas pertamanya nanti, Yanti punya target tinggi, mempersembahkan satu emas untuk Kota Gudeg. “Target pribadi pasti hasil yang terbaik untuk DIJ. Tentunya saya ingin bawa pulang medali emas,”  tekadnya.

Sementara itu, Elsa yang juga menjadi korban gempa bumi 2006 baru menekuni angkat berat sejak setahun belakangan. Awalnya Elsa tak berminat dengan olahraga. Namun setelah bertemu rekan-rekan sesama atlet dan mencobanya, Elsa mulai tertarik menggeluti dunia olahraga.

Kebetulan lagi, sang guru di sekolahnya mengajak dia menjajal angkat berat. “Dari sekolah Pak Guru memberikan usul, mau nggak ikut olahraga. Dikenalin, ngobrol, terus saya ikut coba dan sampai sekarang,”  ungkapnya.

Saat gempa Sabtu, 27 Mei itu, usia Elsa belum genap tiga tahun. Dia tertimpa gunungan rumah tempat tinggalnya dan membuat kaki kirinya diamputasi sebanyak dua kali. Keterbatasan tak membuat perempuan 17 tahun itu berputus asa. Dengan menjadi atlet, dia yakin masa depannya akan cerah.

Kedua orang tuanya juga sangat men- support karir Elsa. Peparnas nanti bakal jadi yang pertama yang diikuti atlet yang duduk di bangku kelas 2 SMAN 1 Patuk, Gunungkidul, itu. Meski demikian, Elsa optimistis meraih medali perak, sesuai target yang dipatok NPC DIJ. (ard/laz)

Artikel Asli