Presiden Republik Medsos

Nasional | rmol.id | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 08:34
Presiden Republik Medsos

PANAS dingin relasi Bambang Wuryanto atau lebih populer Bambang Pacul dengan Ganjar Pranowo menjadi kontroversi paling menarik pekan pekan ini.

Telunjuk terarah pada sosok Gubernur Jawa Tengah itu. Ya, menilik ucapan atau statmen Bambang Pacul, tengara yang dialamatkan ke Ganjar masuk kategori gawat. Maaf, ini mengacu pada konteks komunikasi, sebagai Wong Jowo dengan environment budaya ketimur.

"Wis tak kode sik. Kok soyo mblandang, ya tak rodo atos (Sudah saya kasih kode, tapi malah tambah kebablasan, ya agak saya kerasi)."

Itulah petikan yang disampaikan Bambang Pacul kepada Media, ketika langkahnya tak mengundang Ganjar saat konsolidasi di Panti Marhen Jawa Tengah terkuak publik.

Hanya Ganjar yang tak diundang, padahal Bupati-Walikota lain dihadirkan untuk mendapat pengarahan dari Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani. Ini jelas tak main main, karena Puan tak lain adalah Mega kecil di tubuh PDI Perjuangan.

Putri Ketua Umum PDI Perjuangan itu sendiri melontarkan pernyataan cukup menukik juga. Meski tak spesifik tertuju pada tokoh berambut perak, sebutan untuk Ganjar ungkapan Puan, pemimpin yang sesungguhnya adalah mereka yang berada di lapangan oleh publik disimpulkan itu dialamatkan ke sang gubernur. Atau bisa dimaknakan juga pernyataan tersebut tak luput sebagai sikap institusi, bukan Pacul secara pribadi.

Sebagai simpulan lebih jauh dapat dijabarkan bahwa kelakuan Ganjar yang dinilai kebablasan bisa jadi sudah sampai ke tangan Ketua Umum, yakni Megawati Soekarnoputri. Ya, tesis atau analisas ini belum tentu benar, karena mendapatkan konfirmasi atas persoalan tersebut  kepada Mega juga bukan perkara sederhana.

Tetapi mengacu pada fakta empirik yang menjadi semacam kultur di PDI Perjuangan langkah Pacul yang juga Ketua Bapilu DPP PDI Perjuanan tetap berelasi dengan titah sang patron, Megawati.

Di tubuh partai moncong putih hegemoni Ketua Umum cukup signifikan. Dengan begitu pergerakan apa pun nyaris tidak luput perhatian partai, untuk tidak selalu mengatakan bahwa partai itu identik dengan Megawati.

Tegasnya secara institusional warning yang dilontakan Ketua DPD PDI Perjuangan Jateng ini sesungguhnya merupakan pesan sistemik yang tidak bisa dipandang sepele.

Benarkah demikian, kita perlu waktu untuk mengujinya. Namun beberapa indikator secara kultural, kemudian secara sosiologis juga memberikan konfirmasi terhadap kecenderungan di atas.

Pertama secara kultural, sampai detik ini PDI Perjuangan merupakan partai yang solid dengan loyalitas tegak lurus terhadap policy Ketua Umum. Apa pun kebijakan Megawati akan dilaksanakan oleh partai melalui kader kadernya.

Kemudian secara sosiologis, apa pun faktor Puan Maharani menjadi penanda yang lain. Publik, khususnya kader dan juga simpatisan harus melihat Puan bagaimana pun adalah representasi Mega.

Meski tak seutuhnya selalu demikian, tetapi adagium bahwa sikap Puan adalah sikap Mega menjadi realitas politik yang perlu dipahami secara mendalam. Jadi jangan nekad, apalagi melawan arus salah salah bisa menjadi Jambu Mete.

Kini bukan berarti melepas dari konteks atas fenomena di atas, bagaimana dengan melihat sosok Ganjar Pranowo ketika kemudian dikaitkan pernyataan Bambang Pacul. Menurut saya rapor Gubernur Jawa Tengah ini biasa biasa saja.

Tak banyak yang menonjol dari kepemimpinannya. Bahwa Ketua Kagama- Keluarga Alumni Gajah Mada ini memiliki retorika yang apik, ya. Tetapi kiprah secara konkret sebagai gubernur menurut saya biasa biasa saja.

Maaf, bukan bermaksud mendowngrade persepsi publik yang direpresentasikan lewat survei dengan angka yang lumayan. Apa yang dicuatkan Puan Maharani saya kira tepat, pemimpin yang sesungguhnya adalah mereka yang terus berada di lapangan. Jangan menjadi presiden medsos, kira kira lebih tepatnya seperti itu.

Nah, dalam konteks ini Ganjar memang harus membuktikan lebih keras lagi, bagaimana dia berkeringat di lapangan membangun Jawa Tengah. Sebab tokoh sekaliber Bambang Pacul, juga Puan Maharani jelas tak sembaranan mengobral pernyataan, apalagi itu menyangkut prestasi seorang gubernur yang notabene wilayahnya merupakan Kandang Banteng.

Aspek ini Ganjar Pranowo semestinya dapat lebih melakukan koreksi ke dalam, bukan ke luar. Lebih banyak di lapangan, mengikuti apa yang dipesankan Puan Maharani. Ingat ini adalah PDI Perjuangan.

Pada catatan di kolom ini, beberapa waktu yang lalu saya pernah menulis tentang Ganjar yang perlu mendapat pencermatan khusus. Pertama meski ini ibarat nasi sudah menjadi bubur, mestinya ketika maju untuk periode kedua wakil yang dipilih harus mengambil dari kader sendiri.

Kesalahan awal Ganjar adalah memilih Taj Yassin menjadi pendampingnya. Sebab pilihan itu menutup peluang dia menapaki karier di Jakarta, seperti menjadi Menteri atau posisi lain saat ini. Mengapa, karena secara strategis meninggalkan kursi Jateng Satu, untuk kemudian menyerahkan kursinya pada sang wakil yang notabene bukan dari PDI Perjuangan rasanya tidak mungkin.


Inilah yang keliru dari Ganjar ketika itu. Mengapa tidak tetap saja bertahan dengan pasangan Ganjar-Heru.

Untuk ini hanya Ganjar dan Allah yang tahu. Tetapi kalau sekarang dia tetap nekad untuk berjuang menuju RI Satu, itu juga bukan tak mudah. Warning Pacul silakan dimaknai dalam dalam. Kultur Partai Banteng sangat spesifik dan unik Beberapa tokoh telah menjadi pembuktian atas logika politik yang susah dinalar, tetapi demikianlah adanya.

Di Tingkat pusat, kita mencatat sejumlah nama, seperti Roy BB Janis, Arifin Panigoro, Dimyati Hartono yang kemudian surut ketika tak segaris dengan Mega.

Mereka adalah tokoh tokoh yang punya kapasitas, juga bukan sembarangan. Tetapi sejarah mencatat bukunya seperti itu. Di Jawa Tengah kita juga biasa membuka kembali kiprah, tokoh seperti Mardio, Rustriningsih, dan juga Bibit Waluyo.

Ketika itu, siapa yang tak kenal Mardio? PDI Perjuangan Jateng nyaris identic dengan tokoh kelahiran Purworejo ini. Namun karier Mardio segera sandyakala ketika nekad maju Pilgub ketika itu. Rekomendasi DPP Jatuh ke tangan Mardiyanto. Mardio yang merasa lebih berkeringat membesarkan partai nekat maju.

Rustriningsih juga begitu. Srikandi asal Kebumen yang kerab disebut sebagai anak emas Megawati, akhirnya surut juga karena dianggap tak sejalan dengan titah sang patron. Dan yang fenomenal lagi adalah perjalanan Bibit Waluyo.

Mantan Pangkostrad ini pertama sukses menapaki kursi Jateng Satu atas restu Mega. Periode kedua dia nekad maju lewat partai lain. Yang terjadi kemudian Bibit tumbang oleh tokoh yang masih boleh dibilang pupuk bawang ketika itu, yakni Ganjar Pranowo.

Susah dinalar Bibit sang incumbent didampingi Soegijono tumbang oleh Ganjar Pranowo berpasangan dengan Heru Soedjatmoko. Nah, akankah sekarang Ganjar berani nekad untuk mengincar kursi RI Satu, ketika sang patron tak lagi menyokongnya.

Kekuasaan adalah pesona yang menyihir orang untuk lupa daratan. Semoga saja Ganjar tak mendapat ganjaran seperti itu. []

Penulis adalah Pemimpim Umum RMOL Jateng, Pokja Hukum Dewan Pers, dan Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI)

Artikel Asli