Nilai E untuk Pengendalian Covid di Jakarta Vs Klaim Anies

Nasional | republika | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 07:45
Nilai E untuk Pengendalian Covid di Jakarta Vs Klaim Anies

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Nawir Arsyad Akbar, Flori Sidebang, Iit Septyaningsih, Antara

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menilai, DKI Jakarta saat ini menjadi provinsi yang masuk ke dalam kategori E dalam hal pengendalian Covid-19. Laju penularan virus, tingkat keterisian rumah sakit, dan penambahan jumlah kasus Covid-19 yang meningkat menjadi kriteria penilaian.

Kualitas pelayanan terkait Covid-19 di provinsi lain, kata Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, masih dalam kondisi terkendali. Namun untuk DKI Jakarta, kata Dante, masuk ke dalam kategori E.

"Jakarta ini kapasitasnya E. Karena di Jakarta, BOR sudah mulai meningkat dan kasus tracing -nya," ujar Dante dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Kamis (27/5).

Dante menjelaskan, di DKI Jalarta ada 150 kasus Covid-19 terkonfirmasi per 100 ribu penduduk yang dilaporkan setiap pekan. Namun, respons terhadap penerapan 3T ( testing, tracing, treatment ) terhadap suatu kasus masih rendah.

Kemenkes juga mengingatkan bahwa puncak kasus Covid-19 pasca-Idul Fitri akan terjadi pada Juni mendatang. Hal tersebut berdasarkan hasil evaluasi dari peningkatan sebelumnya.

"Kita menghitung dari evaluasi peningkatan tren kasus gradien -nya itu dihitung. Kita asumsikan pada pertengahan Juni akan terjadi peningkatan," ujar Dante.

"Sebanyak 50 persen kasus dibandingkan dengan sebelumnya pada liburan pasca Idul Fitri. Sehingga kami melakukan asusmsi peningkatan ketersediaan obat dengan menyediakan obat 50 persen lebih besar dibandingkan tiga bulan ke depan," ujar Dante, menambahkan.

Pada Kamis (27/5), Satuan Tugas Penanganan Covid-19 merilis penambahan positif Covid-19 sebanyak 6.278 kasus. Jumlah itu didapat dari pemeriksaan terhadap 80.949 spesimen dari 62.386 orang yang telah diperiksa.

Dari penambahan kasus harian kemarin, DKI Jakarta menempati urutan kedua sebesar 940 kasus di bawah Jawa Barat yang menyumbang 1.370 kasus. Riau (810 kasus), Jawa Tengah (694), Kepulauan Riau (411) di antara lima besar penyumbang kasus harian Covid-19.

 

Penilaian Kemenkes terhadap Pemprov DKI Jakarta yang diungkap Dante bertentangan dengan klaim Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya. Anies pekan lalu menyatakan bahwa, tingkat penyebaran Covid-19 di Ibu Kota terbilang terendah secara nasional pada triwulan kedua tahun 2021.

Klaim itu berdasarkan pada keterpakaian tempat tidur ruang isolasi Covid-19 yang berada di kisaran 24 hingga 28 persen akhir-akhir ini. "Saat ini di Jakarta secara umum situasinya termasuk yang paling rendah," kata Anies seusai menggelar rapat koordinasi bersama jajaran Forkopimda di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (14/5).

Rapat itu membahas antisipasi potensi peningkatan penyebaran Covid-19 selama masa arus balik-mudik Lebaran tahun ini. Berdasarkan data milik Polda Metro Jaya lebih dari 1,2 juta warga telah meninggalkan Ibu Kota sejak sebelum periode larangan mudik sepekan terakhir.

Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tingkat hunian pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Wisma Atlet berada di kisaran 20 persen. Artinya, ada tren penurunan kasus konfirmasi positif Covid-19 di Ibu Kota beberapa waktu terakhir.

"Di Wisma Atlet itu sekitar 20 persen, kemudian tingkat isolasi kita antara 24 hingga 28 persen keterpakaian tempat tidurnya," kata Anies.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria enggan berkomentar lebih jauh mengenai penilaian yang diberikan oleh Kemenkes kepada Pemprov DKI dalam menangani pandemi Covid-19. Ariza hanya menyampaikan, pihaknya bakal melakukan evaluasi terhadap penanganan virus corona di Ibu Kota.

"Semuanya nanti akan kita evaluasi dan saya tidak bisa mengomentari apa yang menjadi penilaian dari pusat," kata Ariza di Balai Kota Jakarta, Kamis (27/5) malam.

Meski demikian, Ariza menilai, penanganan pandemi Covid-19 di Jakarta sudah cukup baik. Hal ini, jelas dia, terlihat dari angka kesembuhan yang terus meningkat, dan turunnya angka kematian akibat virus corona.

"Prinsipnya kita terus meningkatkan fasilitas sarana prasarana, kemudian tenaga kesehatan kita juga nakes tambah terus, laboratorium juga sudah tambah terus, BOR ( bed occupancy rate ) juga terus turun ya," ungkap dia.

"Kami pemprov terkait Covid terus berusaha memberikan dukungan, bantuan, partisipasi, kontribusi, dan lain-lain agar kita bisa dapat mengurangi, menurunkan penyebaran Covid," tambahnya.

In Picture: Lonjakan Kasus Covid-19 Pascalebaran di Kudus

photo
Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 mengusung jenazah pasien positif COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Bakalankrapyak, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (27/5/2021). Berdasarkan data dari Gugus Tugas Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 setempat, hingga 27/05/2021 atau dua pekan setelah lebaran jumlah kasus terkonfirmasi postif COVID-19 mencapai 822 orang yang sebelumnya 137 orang pada14/05/2021 dan menjadi kasus tertinggi di Jawa Tengah. - (ANTARA/Yusuf Nugroho)
Artikel Asli