Novel Baswedan: Ketua KPK Sejak Awal Bikin Daftar Pegawai Bahaya

Nasional | limapagi.com | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 03:30
Novel Baswedan: Ketua KPK Sejak Awal Bikin Daftar Pegawai Bahaya

LIMAPAGI – Polemik 51 pemecatan pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tidak datang begitu saja lantaran sudah diatur sejak awal kepemimpinan Firli Bahuri. Pasalnya, Firli sudah membuat daftar nama yang patut diwaspadai sedari  2019.

“Ketika awal-awal pimpinan masuk di KPK. Ada beberapa pimpinan KPK yang bercerita bahwa Ketua KPK Firli Bahuri pernah memberikan daftar nama-nama yang dianggap harus diwaspadai,” kata Novel Baswedan, penyidik senior KPK dalam acara Mata Najwa, pada Rabu, 26 Mei 2021.

Novel menjelaskan, sejumlah pegawai yang masuk daftar bahaya Firli adalah pegawai yang terkenal bekerja baik memberantas korupsi.

Diketahui pula, nama-nama dalam daftar bahaya itu dipilih berdasarkan ketidaksukaan Firli atas sikap kritis para pegawainya. Sementara itu, Firli selama kepemimpinannya lekat dengan masalah hukum.

“Kami menduga karena Pak Firli punya masalah kode etik berat dengan bertemu pihak berpekara,” kata Novel.

Pengakuan serupa juga diutarakan penyidik senior lainnya, Harun Al Rasyid. Bahkan, dia mendapatkan keterangan dirinya masuk dalam daftar merah Firli secara langsung oleh Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron.

“6 bulan setelah masuk KPK (Ghufron), saya pernah diminta datang ke ruangan beliau,” ujarnya dalam kesempatan sama.

Di momen itu, Harun mengaku diberi tahu Ghufron menjadi nama teratas dalam urutan daftar bahaya Firli.

“Kenapa saya nggak mengerti nama Anda menjadi urutan teratas nama yang diberikan Pak Firli ke saya, apa kesalahan saudara,” kata Harun menirukan perkataan Ghufron.

Merasa penasaran siapa saja, dia sempat meminta daftar nama lengkap daftar bahaya itu. Tetapi, Ghufron mengelak lupa menyimpannya dan hanya mengatakan ada sekira 20-30 nama pegawai KPK yang masuk dalam daftar itu.

Harun juga sempat dipanggil pimpinan KPK lain untuk perihal sama, yakni oleh Nawawi Pomolango.

“Mas mohon maaf, saya mau tanya, saya oleh Pak Ketua (Firli) diberikan daftar, Mas Harun di urutan pertama,” ucap dia menirukan omongan Nawawi.

Sama dengan Ghufron, Nawawi pun mengelak lupa saat diminta daftar lengkap nama yang diwaspadai Firli.

Ghufron dalam kesempatan sama, membantah pengakuan Harun. Dia berujar tidak pernah mendapatkan daftar nama bahaya itu.

“Saya tidak pernah menyebutkan secara langsung karena saya tidak pernah mendapatkan nama-nama itu secara tegas,” ucapnya.

Novel beranggapan apa yang dikatakan Harun adalah sebuah fakta. Polemik asesmen wawasan kebangsaan yang berujung pemecatan 51 pegawai KPK menjadi buktinya.

“Ketika kemudian orang yang bekerja baik itu dianggap masalah, saya meyakini proses-proses yang terjadi sekarang adalah upaya penyingkiran dan itu yang dilakukan oleh orang-orang yang punya kepentingan yang selaras dengan kepentingan koruptor,” urai dia.

Artikel Asli