Kemenkes Nilai Pengendalian Covid-19 di DKI Terburuk

Nasional | koran-jakarta.com | Published at Jumat, 28 Mei 2021 - 06:41
Kemenkes Nilai Pengendalian Covid-19 di DKI Terburuk

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberi nilai E atau yang terburuk kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait kualitas pengendalian pandemi Covid-19 selama pekan epidemiologi ke-20 (16-22 Mei 2021).
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, saat memberi keterangan dalam rapat kerja di Komisi IX DPR RI, Kamis (27/5), yang disiarkan secara virtual menyebutkan bahwa penilaian kualitas pengendalian pandemi itu berdasar pada tingkatan laju penularan dan tingkat kapasitas respons layanan kesehatan di setiap daerah.
"Ada beberapa daerah yang masuk ke kategori D, ada yang masuk kategori E seperti Jakarta, tetapi ada juga yang masih di C artinya tidak terlalu 'bed occupation rate' dan pengendalian provinsinya masih baik," kata Dante.
Berdasarkan data yang dimilikinya, Dante menerangkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta turut menunjukkan kapasitas respons yang paling buruk jika dibandingkan dengan daerah lain. "Atas rekomendasi tersebut, masih banyak yang dalam kondisi terkendali, kecuali DKI Jakarta ini kapasitasnya E, karena di DKI Jakarta 'bed occupation rate' (keterisiannya) sudah mulai meningkat dan kasus tracing-nya juga tidak terlalu baik," ujar dia.
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengeklaim tingkat penyebaran Covid-19 di Ibu Kota terbilang terendah secara nasional pada triwulan kedua tahun 2021. Klaim itu berdasarkan pada keterpakaian tempat tidur ruang isolasi Covid-19 yang berada di kisaran 24 hingga 28 persen akhir-akhir ini.
"Saat ini, di Jakarta secara umum situasinya termasuk yang paling rendah," kata Anies seusai menggelar rapat koordinasi bersama jajaran Forkopimda di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (14/5).
Rapat itu membahas antisipasi potensi peningkatan penyebaran Covid-19 selama masa arus balik-mudik Lebaran tahun ini. Berdasarkan data milik Polda Metro Jaya lebih dari 1,2 juta warga telah meninggalkan Ibu Kota sejak sebelum periode larangan mudik sepekan terakhir.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, tingkat hunian pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Wisma Atlet berada di kisaran 20 persen. Artinya, ada tren penurunan kasus konfirmasi positif Covid-19 di Ibu Kota beberapa waktu terakhir. "Di Wisma Atlet itu sekitar 20 persen, kemudian tingkat isolasi kita antara 24 hingga 28 persen keterpakaian tempat tidurnya," kata Anies.

Usap Antigen
Sementara itu, Polda Metro Jaya hingga saat ini telah menemukan 834 pemudik yang kembali ke Jakarta terindikasi Covid-19 berdasarkan tes usap antigen di pos penyekatan arus balik dan sejumlah kepolisian sektor (polsek).
"Sampai semalam sudah 109.988 orang yang sudah tes usap antigen, yang reaktif 834 orang," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis.
Yusri menyebut data pemeriksaan tes usap antigen tersebut adalah data pemeriksaan selama 16-26 Mei 2021. Lebih lanjut dia mengatakan seluruh warga yang terindikasi Covid-19 tersebut saat ini telah mendapatkan penanganan dan telah menjalani isolasi. "Rincian isolasi mandiri 460 orang, di Wisma Atlet 168 orang, dan tempat rujukan lainnya 206 orang," tambahnya.
Yusri juga menambahkan Polda Metro Jaya akan memperpanjang masa operasi penyekatan arus balik hingga pekan depan, 31 Mei 2021, untuk mengantisipasi lonjakan kasus positif Covid-19 usai libur Idul Fitri 1442 H.
Operasi Ketupat Jaya telah berakhir pada 18 Mei 2021, namun antisipasi terhadap warga yang baru kembali dari kampung halaman masih akan dilakukan agar lonjakan kasus positif di DKI Jakarta terkendali.
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya telah menyiapkan 14 titik pemeriksaan surat keterangan bebas Covid-19 yang juga menyediakan layanan tes usap (swab) antigen gratis. jon/S-2

Artikel Asli